
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Terjemah Manzhumah al-Baiquniyah
IMMIMPANGKEP – Pernah mendengar nama Kitab ini, “Mandzhumah Al-Baiquniyah” atau umum disebut saja, “al-Baiquniyah”? Ya, benar. Kitab “Al-Baiquniyah” ini memang merupakan salah satu kitab populer sebagai kitab musthalah hadits, disusun oleh Imam Al-Baiquni sebagai kitab rujukan dan banyak disyarah (diberi penjelasan) oleh ulama ahlul hadits.
Untuk penamaan kitab ini, menggunakan kata “Mandzhumah” = (المنظومة) yang berasal dari kata nazhoma (نظم) atau nadhom. Makna bahasa nazhoma adalah menyusun. Makna istilahnya adalah menggubah puisi. Jadi, pengertian mudah mandzhumah adalah puisi (sebagai hasil aktivitas menggubah). Orang yang membuat manzhumah disebut nazhim (الناظم). Ada orang Indonesia yang menerjemahkan nazhim dengan sebutan Penazam. Jika kita pernah membaca terjemahan kitab Qurrotu Al-‘Uyun yang mana penerjemahnya menyebut Ibnu Yamun yang membuat manzhumah terkait adab nikah itu dengan sebutan Syaikh Penazam.
Sebenarnya, untuk istilah puisi yang lebih populer dalam sastra Arab yaitu Asy-Syi’ru (الشعر) yang diserap menjadi kata syair dalam bahasa Indonesia. Karya sastra umumnya juga dibagi menjadi dua, yaitu asy-syi’ru (puisi) dan an-natsru (prosa). Jika manzhumah diterjemahkan puisi dan syi’r juga diterjemahkan puisi. Apakah yang membedakan keduanya?
Generasi belakangan yang menerima warisan kekayaan intelektual ulama dalam banyak kitab (kutub turots) banyak yang membuat mukhtashor (ringkasan) yang berisi kesimpulan-kesimpulan bidang ilmu tertentu yang dikemas dengan bahasa yang bisa menampung makna sepadat mungkin. Nah, Awalnya istilah mukhtashor ini yang dahulunya populer lama-kelamaan sejumlah ulama mengenalkan istilah baru yaitu matan (المتن) untuk menggantikan istilah mukhtashor. Jadi, matan dan mukhtashor sebenarnya semakna, hanya saja istilah mukhtashor lebih populer di kalangan ulama terdahulu sementara istilah matan lebih populer di kalangan ulama belakangan.
Penulisan matan pada awalnya dibuat dalam bentuk prosa, yakni tulisan biasa seperti bahasa surat (bahasa lisan) untuk mempermudah penguasaan bidang ilmu tertentu secara cepat, efektif, dan efisien sekaligus memudahkan untuk dihapalkan. Setelah itu ada gagasan untuk mengubah matan berbentuk prosa itu menjadi berbentuk puisi agar matan menjadi lebih ringkas lagi dan semakin mudah dihapal. Hal itu dikarenakan puisi Arab memang memiliki kekhasan irama dan rima tertentu yang secara alami akan memudahkan setiap muslim untuk menghapalnya sebagaimana mudahnya orang menghapal lagu-lagu yang berirama dan ber-rima. Akhirnya matan pun muncul dalam dua bentuk, yaitu berupa puisi dan berupa prosa.
Nah, matan yang berupa puisi inilah yang disebut dengan istilah manzhumah. Jadi manzhumah sejatinya adalah puisi untuk “ilmu serius”. Fokus pengarangnya adalah menyampaikan pemikiran inti bidang ilmu tertentu sesuai irama-irama puisi Arab dan aturan rima-nya. Pengarang tidak peduli aspek imajinasi, perasaan, khayalan, tasybih-tasybih, majaz, isti’aroh, muhassinat dan semua hal yang bersifat keindahan sastra yang sangat diperhatikan dalam karya sastra murni. Jadi perbedaan antara manzhumah dan syi’ir sekarang menjadi jelas. Manzhumah adalah puisi yang berisi ilmu serius, sedang syi’r adalah puisi murni sebagai karya sastra. Manzhumah kadang disebut juga Asy-Syi’ru At-Ta’limi (الشعر التعليمي)/ puisi didaktis/puisi pedagogis.
Manzhumah umumnya memakai bahr rozaj (بحر الرجز), yaitu puisi arab yang mirip pemaknaannya dengan istilah irama dalam puisi Indonesia. Dalam penelitian Al-Kholil bin Ahmad Al-Farohidi, setelah beliau mengkaji puisi-puisi Arab jahiliyyah, menemukan ada 16 macam irama yang dipakai orang Arab saat berpuisi, seperti: bahr thowil, bahr madid, bahr wafir, bahr romal, bahr rojaz dan lain-lain. Dari sinilah lalu lahir ilmu ‘Arudh (علم العروض), yakni ilmu yang mempelajari pola irama puisi Arab. Ilmu ini biasanya dipelajari sekalian dengan ilmu yang membahas rima puisi Arab yang dikenal dengan nama ilmu qofiyah (علم القافية).
Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah ini memiliki banyak kitab syarah (penjelasan), yang pada postingan berikutnya akan kita bahas satu persatu. Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.