Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab-kitab Thabaqah dan Ulama Penyusunnya

Kitab-kitab Thabaqah dan Ulama Penyusunnya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Memahami Thabaqah dan Ilmu Thabaqah

BLOGGURU – Berikut ini beberapa kutub Thabaqah dan ulama penyusunnya:

1. Kitab At-Thabaqat al-Kubra Karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ al-hafidh Katib Al Waqidy (168-230H).

Kitab at-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’d, 168-230 H/ 784-845 M, adalah salah satu pelopor penulisan biografi dalam literatur Arab. Ia lahir di Basra dan mempelajari hadis sebelum pindah ke Bagdad.  Selain mendalami kajian hadis, ia juga akrab dengan silsilah Arab, pengetahuan kesukuan pra-Islam, bahkan tradisi Yahudi dan Kristen. Di Baghdad, ia belajar kepada al-Waqidi, sejarawan sekaligus penulis kitab al-Maghazi.

Setelah kematian al-Waqidi, Ibn Sa’d mengabdikan sisa hidupnya untuk menyusun dan mengumpulkan seluruh catatan gurunya dan miliknya sendiri dijadikan sebuah buku. Hasilnya adalah At-Thabaqat al-Kubra, kumpulan biografi dan sejarah paling awal yang ditulis secara komprehensif. Sebelum karya at-Thabaqat al-Kubra milik Ibn Sa’d ditulis, kitab-kitab biografi Arab sebagian besar hanya berisi daftar nama atau kumpulan kisah tentang pribadi yang terkenal.

Satu-satunya karya yang dapat disebut sebagai kitab biografi dengan standard penulisan, adalah Sirat Rasulallah oleh Ibn Ishaq (w. 767). Mengenai Ibnu Ishaq, Ibnu Sa’d sendiri mengatakan “yang pertama kali menghimpun riwayat ekspedi Nabi”. At-Thabaqat al-Kubra Ibnu Sa’d menggunakan sumber dan materi penulisan dari daftar nama, riwayat kejadian besar di masa lalu, riwayat yang sezaman Nabi, dan generasi kemudian.

Dengan meletakkan semua materi ini bersama-sama, at-Thabaqat al-Kubra Ibn Sa’d menjadi salah satu karya Arab paling awal yang menghadirkan penulisan yang komprehensif dan universal. Karya ini dimulai dengan sejarah singkat para nabi. Dari Adam hingga Muhammad, untuk menyebutkan silsilah keilmuan dan ajaran tauhid. Kemudian, pada bagian berikutnya, menjelaskan tentang biografi nenek moyang/nasab Nabi Muhammad.

Bagian shirah Nabi Muhammad sendiri adalah termuat kurang lebih seperempat bagian dari buku ini. Sirah Nabi disebutkan sejak dari lahir di Makkah dan wafat beliau di Madinah. Termasuk juga kisah masa kecil dan pernikahan beliau. Masa-masa awal wahyu Al-Qur’an, dakwahnya di Mekah, hijrah beliau bersama para shahabat ke Madinah, dakwah serta perjanjian yang beliau sepakati dengan suku-suku Arab, ekspedisi pasukan jihad, hingga riwayat tentang wafat beliau SAW. Ibn Sa’d juga memuat bab tentang penampilan, kebiasaan, pakaian, makanan, dan harta pribadi Nabi. Bab ini kelihatannya luput dicantumkan oleh pendahulunya, Ibn Ishaq.

Sebagai penulis biografi/shirah Nabi, Ibn Sa`d mempertahankan tradisi pengajaran hadis, di mana riwayat disebutkan apa adanya tidak menggunakan narasi dari si penulis. Meskipun dalam beberapa bab beliau kadang-kadang mengakui telah menggabungkan beberapa laporan menjadi satu kisah. Kemungkinan ini adalah untuk menghindari riwayat yang berulang dan menekan efisiensi.

Ibnu Sa’d sangat teliti dalam mengutip semua riwayat yang diberitahukan dan sampai kepadanya. Termasuk riwayat-riwayat yang saling bertentangan (idhtirab) terhadap sebuah peristiwa yang sama. Ibnu Sa’d tidak ragu-ragu untuk mengutip tentang kisah-kisah ‘ajaib’, yang muncul dalam jumlah besar. Karena alasan ini, para kritikusnya menyebut bagian shirah Nabi ini hampir tidak dapat diandalkan sebagai sumber bukti yang otentik. Namun, ini adalah sumber informasi yang tak tergantikan tentang sejarah Islam awal seperti yang diingat atau dibayangkan pada pertengahan abad kesembilan.

Berbeda dengan tulisan Ibn Ishaq, yang karyanya berakhir dengan kematian Nabi Muhammad, Ibn Sa’d melanjutkan kisahnya dengan biografi para penerus Nabi, yaitu para shahabat dan shahabiat yang menjadi perawi hadits.  Biografi bagian ini memuat lebih lebih dari empat ribu nama. Disusun dalam bagian dan sub-bagian menurut generasi, afiliasi suku, dan tempat tinggal. Beberapa nama, seperti pada empat khalifah pertama, diberikan bagian penjelasan cukup panjang.

Namun, sebagian besar terdiri dari daftar singkat yang menyebutkan nama guru dan murid (dari siapa dan kepada siapa dia meriwayatkan dan menerima hadis), serta tanggal kematian, jika diketahui. Terlepas dari krtitik terhadap penerimaan riwayatnya, at-Thabaqat al-Kubra tetep dijadikan referensi penulisan hingga hari ini.  Mengingat isinya, kitab ini tentu bisa menjadi dasar untuk menguji ketersambungan sanad hadis. Selebihnya, riwayat-riwayat yang diperselisihkan tetap bisa digunakan sebagai kritik dan bahan pembanding dengan atsar yang lain.

Maka jelaslah, Ibn Sa’d bukan sekadar seorang yang hanya mengumpulkan semua riwayat untuk mengadvokasi kepentingan para ulam hadis. Sebaliknya, beliau adalah seorang sejarawan yang visi sejarahnya kebetulan memberikan tempat bagi periwayatan hadis. At-Thabaqat al-Kubra Ibn Sa’d memberikan gambaran formatif tentang model penulisan sejarah Arab pada fase awal. Loth Otto dalam Origin & Meaning of the Tabaqat, menyebutkan model, koleksi sumber, dan sistematika yang beliau gunakan dalam karya ini kemudian diadopsi dan dimodifikasi oleh penulis karya biografi berikutnya. Banyak di antaranya disusun berdasarkan generasi atau mengelompokkan berdasarkan tempat tinggal.

Yang paling penting, mungkin, kitab at-Thabaqat al-Kubra menggambarkan model penulisan sejarah berdasarkan berita dan narasi individu langsung. Sesuatu yang tidak ditemukan pada transmisi pengetahuan peradaban lain. Model historiografi ini tetap dipraktikkan atau setidaknya masih berpengaruh hingga awal periode modern di mana sistematika sejarah bersentuhan dengan teknologi.

Pada tahun 833, Ibn Sa’d dipanggil untuk menegaskan sifat dan penciptaan Al-Qur’an yang dikenal sebagai Mihnah. Sebenarnya sebagaimana yang dialami oleh para ulama sebelumnya, agenda ini adalah lebih kepada pengadilan sepihak dan interogasi intelektual untuk merepresi mazhab yang berlawanan. Mu’tazilah yang di atas angin diterima pandangan mereka tentang kemakhlukan Al-Qur’an, bahkan diamini sebagai madzhab resmi oleh khalifah al-Ma’mun (813–833), yang berusaha mengendalikan kekuasaan ulama dengan memaksa mereka untuk menyatakan persetujuannya. Al-Qadi Wadad menyebutkan bahwa Ibn Sa’d memberikan persetujuannya, meskipun kemungkinan dia melakukannya di bawah tekanan. Setelah itu, dia tampaknya dibiarkan dalam damai sampai kematiannya di Baghdad pada usia enam puluh dua tahun.

2. Kitab Thabqatu Al Ruwwah karya Al Hafidh Abu ‘Amr Khalifah bin Khayyath Ass-syabani (240H)

3. Kitab Thabaqatu At-Tbi’in Karya Imam Muslim Bin Hajjaj Al-Qusairy (204-261H)

4. Kitab Thabaqatu Al Muhaditsin war Ruwwah Karya Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al-Asybihany (336-430H)

5. Kitab Thabaqatu Al Hufazh oleh Al HAFID Syamsuddin Adz-dzahaby (673-748H)

6. Kitab Thabaqatu Al Huffazh oleh Jalaludin As-Syuyuthi (849-911H)

7. Kitab At-Thabaqat Al-Kubro Syaikh Abdul Wahab bin Ahmad Sya’rani 

Kitab At-Thabaqat Al-Kubro (diterbitkan Darul Kutub Ilmiyah) adalah karya Syaikh Abdul Wahab bin Ahmad Sya’rani . Seorang ulama dari Mesir yang bermazhab Syafi’i namun juga dikenal sebagai seorang sufi. Beliau hafal Al- Qur’an saat berusia tujuh tahun. Sewaktu kecil sudah terlihat tanda-tanda karamahnya ketika beliau terjatuh di sungai Nil namun beliau diselamatkan oleh seekor buaya. Beliau dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M dan Wafat 1565 M-974H di Kaherah, Mesir berhampiran dengan zawiyyahnya.

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali qutub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat).

Beliau belajar fiqh, hadis dan disiplin ilmu keislaman lainnya dari para masyayikh terkemuka pada masanya. Beliau bercerita sendiri bagaimana susah payah menempa dirinya ketika menempuh suluk. Beliau bahkan mengaku belajar langsung kepada Nabi Khidr. Walhasil banyak kisah unik seputar beliau ini, termasuk beliau saat shalat bisa mendengar binatang, bebatuan dan dinding serta pilar masjid bertasbih mengagungkan Allah. Subhanallah!

8. Kitab Thabaqat al-kabir Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ Az-zuhri

9. Kitab Thabaqat Syafiiyah Kubra – Thobaqot Abdul Wahab As Subki

Thabaqat Syafi’iyah adalah kitab yang khusus menghimpun daftar nama-nama ulama Syafi’iyah dari abad ketiga Hijriyah, yakni zamannya Imam Syafi’i hingga abad saat ini. Terdapat 1.000 lebih nama ulama yang dicantumkan dalam kitab ini, lengkap dengan nama kitab-kitab karangannya serta berbagai keterangan lain yang diperlukan, seperti kunyah (panggilan), gelar, sanad keilmuannya dan silsilah keluarganya.

10. Kitab Thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra – Tajuddin Abi Nasr ‘Abdul Wahab bin Ali ‘Abdul Kafi al-Subki

11. Kitab Thabaqat asy-Syafi`iyah karya Ibn Qadhiy Syuhbah

12. Kitab ‘Ilm Ṭabaqāt Al Muḥadditsīn Karya As’ad Sālim Tayyim

13. Kitab Thabaqat al fuqaha as-Syafi`iyah

14. Kitab Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya.

15. Kitab Thabaqat al-Mudallisin – Ibn Hajar al-Asqalani

16. Kitab Thabaqat al-Hanabilah

17. Kitab Thabaqat al-Mufassirin karya al-Suyuthi

18. Kitab Thabaqat Al Shufiyyah – Abu Abdur Rahman Assulami

19. Kitab Thabaqat An Nahwiyyin Wal Lughawiyyin

 

Demikianlah beberapa kutub Thabaqat dan ulama penyusunnya. Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR