Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Memahami Thabaqah dan Ilmu Thabaqah

Memahami Thabaqah dan Ilmu Thabaqah

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Menurut Abdul Majid Khon (“Ulumul Hadits”, Amzah, 2010: 109),  Thabaqah secara harfiah berarti kaum yang serupa atau sebaya, sedangkan menurut Istilah,  Thabaqah dimaknai sebagai kaum yang berdekatan atau yang sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja. Demikian menurut Manna Al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits. (Pustaka al-Kautsar, 2006: 122)

Thabaqah secara bahasa berarti hal-hal, martabat-martabat, atau derajat-derajat. Seperti halnya tarikh, thabaqah juga adalah bagian dari disiplin ilmu hadits yang berkenaan dengan keadaan perawi hadits. Namun keadaan yang dimaksud dalam ilmu thabaqah adalah keadaan yang berupa persamaan para perawi dalam beberapa hal, antara lain: (1) Bersamaan hidup dalam satu masa; (2) Bersamaan tentang umur; (3) Bersamaan tentang menerima hadits dari syaikh-syaikhnya, dan (4) Bersamaan tentang bertemu dengan syaikh-syaikhnya;

Lebih lanjut Abdul Majid Khon (“Ulumul Hadits”, Amzah, 2010: 109), menyebutkan bahwa Thabaqah adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatannya saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi para gurunya sebagian periwayat juga para gurunya sebagai perawi lain. Misalnya Thabaqah sahabat, Thabaqah tabi’in, Thabaqah tabi’it tabi’in dan seterusnya. Kemudian thabaqah masing-masing ini dibagi lagi menjadi beberapa thabaqah yang nanti akan dijelaskan pada pembahasannya.

Dalam definisi yang lain, Thabaqah adalah ilmu pengetahuan yang pokok pembahasannya diarahkan kepada kelompok, bisa sahabat Nabi SAW, tabi’in, tabi’it tabi’in, atau para ulama/perawi hadits yang berserikat dalam satu pengikat yang sama. Jika ditinjau dari alat pengikatnya atau perjumpaanya dengan nabi (shuhbab), maka para sahabat Nabi SAW itu termasuk dalam thabaqah pertama, para tabi’in termasuk thabaqah kedua, para tabi’it-tabi’in termasuk dalam thabaqah ketiga, dan seterusnya.

Pemahaman terhadap thabaqah itu merupakan bagian dari ilmu rijalul hadits, karena objek pembahasannya adalah rawi-rawi yang menjadi sanad suatu hadits. Hanya saja masalahnya berbeda. Kalau di dalam ilmu rijalul hadits para rawi dibicarakan secara umum tentang hal ihwal, biografi, cara-cara menerima dan memberikan hadits dan lain sebagainya. Maka dalam ilmuj thabaqah, menggolongkan para rawi tersebut dalam satu atau beberapa golongan, sesuai dengan alat pengikatnya. Demikian disebutkan M. Agus Solahudin dan Agus Suyadi dalam Ulumul Hadits. (Pustaka Setia Bandung, 2008: 177)

Asal mula pembagian perawi berdasarkan thabaqah adalah dari tuntutan Islam sendiri, dimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Imran bin Husain r.a, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik umatku yang ada di zamanku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka..” Kata Imran r.a : “Saya tidak tahu apakah Beliau menyebut sesudah masanya dua masa atau tiga” (HR. Bukhari).

Ilmu Thabaqah ini telah muncul dan berkembang di tangan para ulama hadits sejak Abad ke-2 H dan tidak terbatas pada pembagian ruwat atas thabaqah berdasarkan perjumpaan mereka dengan Nabi maupun dengan guru-guru mereka, tapi juga berdasarkan makna dan i’tibar yang lainnya seperti fadhl (keistimewaan) dan sabiqah (kesenioran) sebagaimana dalam hal sahabat. Atau manzilah (kedudukan) dan hal (keadaan). Muhammadiyah Amin menyebutkan dalam Ilmu Hadits (Sultan Amai Press Gorontalo, 2008: 228) bahwa Penyusunan kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu thabaqah ini terus berlanjut dan berkembang hingga akhir abad ke-9 H.

Tingkatan Thabaqah

Thabaqah Pertama: Sahabat Nabi SAW 

Para sahabat umpamanya, kalau mengingat persahabatan mereka dengan Rasulullah atau pergaulan mereka dengan Rasulullah, maka dapatlah mereka dikatakan satu thabaqah. Tetapi, jika dipandang dari sudut lain, seperti sama-sama berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dan lain-lainnya, maka semua mereka terdiri dari 5 thabaqah atau 12 thabaqah.

Thabaqah Lima

Pertama, Badry, sahabat yang turut dalam perang badar.

Kedua, sahabat yang lebih dahulu masuk islam, yang kebanyakan berhijrah ke Habsyah (Ethiopia) dan menyaksikan perang Uhud sesudahnya.

Ketiga, sahabat yang dapat menyaksikan perang Khandaq.

Keempat, sahabat yang memeluk agama Islam pada masa pengalahan Mekkah dan sesudahnya.

Kelima, anak-anak dan budak-budak.

Thabaqah Dua Belas

1) Thabaqah 1: Sahabat-sahabat yang masuk Islam paling awal di Mekah, seperti: Khalifah yang empat dan Bilal bin Rabah.

2) Thabaqah 2: Sahabat-sahabat yang masuk Islam sebelum Orang-orang Quraisy bermusyawarah di Darun-Nadwah untuk mencelakakan Nabi saw.

3) Thabaqah 3: Sahabat-sahabat yang berhijrah ke Habasyah, seperti: Hatib bin Umar, Suhail bin Baidha, Abu Hudzaifah bin Utbah.

4) Thabaqah 4: Sahabat-sahabat yang ikut berbai’at di Aqabah yang pertama, seperti: Rafi bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa’ad bin Zurarah.

5) Thabaqah 5: Sahabat-sahabat yang berbai’at di Aqabah yang kedua, seperti: Bara bin Ma’mar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Khaitsamah

6) Thabaqah 6: Sahabat-sahabat Muhajirin yang pertama sampai di Quba’, sebelum masuk Madinah, seperti : Ibnu Salamah, Ibnu Abd al-Asad, dan Amr bin al-Rabi’ah.

7) Thabaqah 7: Sahabat-sahabat yang terlibat dalam perang Badar yakni berjumlah 110 orang, seperti: Hatib bin Balta’ah, Sa’ad bin Mu’adz, Al-Miqad nin al-Aswad dll.

8) Thabaqah 8: Sahabat-sahabat yang hijrah ke Madinah setelah perang Badar, dan sebelum Perjanjian Hudaibiyah, seperti : Al-Mughirah bin Syubah.

9) Thabaqah 9: Sahabat-sahabat yang berbai’at di Baitur-Ridwan di Hudaibiyah, seperti: Salamah bin Akwa’ dan Abu Sinan al-Asadi dan Abdullah bin Umar.

10)  Thabaqah 10: Sahabat-sahabat yang berhijrah ke Madinah sesudah perjanjian Hudaibiyah dan sebelum penaklukan Mekkah, seperti: Khalid bin Walid dan Amr bin Ash.

11)  Thabaqah 11: Sahabat-sahabat yang masuk Islam di masa penaklukan Mekkah, seperti: Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Athab bin ‘Asd.

12)  Thabaqah 12: Anak-anak yang melihat Nabi SAW pada hari penaklukan Mekkah, pada hari Haji Wada’, seperti : Sa’ad bin Yazid dan Abdullah bin Tsa’labah.

Sumber:  Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009, h. 211-212

Thabaqah Kedua : Thabaqah Kibar Tabi’in

Seperti Sa’id bin al-Musayyib, dan begitu pula para Mukhodhrom, yaitu: Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, Masruq bin al-Ajda’, Abul ‘Aliyah, Syuraih bin al-Harits al-Qodhi, al-Ahnaf bin Qois, Muhammad bin al-Hanafiyyah (yakni Muhammad bin ‘Ali bin Abi Tholib), Abu Idris al-Khoulani, ‘Atho’ bin Yasar (bekas budak Maimunah), Shilah bin Zufar, dan lain-lain. Yang dimaksud Mukhodhrom disini adalah orang yang hidup pada zaman jahiliyyah dan Islam, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah saw dalam keadaan beriman. Misalnya : seseorang masuk Islam pada zaman Rasulullahsaw, akan tetapi ia tidak pernah bertemu Rasulullah karena jauhnya jarak atau udzur yang lain. Atau seseorang yang hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, akan tetapi ia belum masuk Islam melainkan setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Thabaqah Ketiga : Thabaqah Pertengahan dari Tabi’in

Seperti : ‘Atho’ bin Abi Robah, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Sulaiman bin Yasar, Thowus bin Kaisan, ‘Amir asy-Sya’bi, ‘Urwah bin Zubair, ‘Ikrimah, ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib (dikenal juga dengan Zainul Abidin), Mujahid, Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), Abu Qilabah al-Jarmi, Wahb bin Munabbih, Salim bin Abdillah bin ‘Umar bin al-Khoththob, Hafshoh bintu Sirin, dan lain-lain.

Thabaqah Keempat : Tabi’in Kecil

Kebanyakan riwayat mereka adalah dari kibar tabi’in (thabaqah ke-2). Rawi yang dalam thabaqah ini contohnya adalah Maimun bin Mihron, Sulaiman bin Thorkhon At-Taimi, Qotadah bin Di’amah, Ibnu Syihab Az-Zuhri, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz (Sang Amirul Mu’minin), Amr bin Dinar, dan lain-lain.

Thabaqah Kelima : Thabaqah yang Paling Kecil dari Tabi’in

Mereka adalah yang lebih kecil dari yang thabaqah-thabaqah tabi’in yang sebelumnya. Mereka termasuk tabi’in yang melihat seorang atau beberapa orang Shahabat. Contoh thobaqot ini adalah Musa bin ‘Uqbah, Ibrohim An-Nakho’i, Ayyub As-Sikhtiyani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id Al-Anshori, Yahya bin Abi Katsir At-Tho’i, Sulaiman bin Mihron al-A’masy, Mak-hul asy-Syami, Yunus bin ‘Ubaid, dan lain-lain.

Thabaqah Keenam : Thabaqah yang Sezaman dengan Thabaqah ke-5

Akan tetapi tidak tetap khabar bahwa mereka pernah bertemu seorang Sahabat seperti An-Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah (al-Imam), Ja’far ash-Shodiq, Abdul Malik bin Juraij, Ibnu ‘Aun, dan lain-lain.

Thabaqah Ketujuh : Thabaqah Kibar Tabi’ut Tabi’in

Seperti Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas (Imam Darul Hijroh, penulis al-Muwaththo’), al-Laits bin Sa’ad, Abdurrohman bin ‘Amr al-Auza’i, Syu’bah bin al-Hajjaj, Ma’mar bin Rosyid, dan lain-lain.

Thabaqah Kedelapan : Thabaqah Tabi’ut Tabi’in Pertengahan

Seperti Ibnu ‘Ulaiyyah, Abdullah bin al-Mubarok, Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, dan lain-lain.

Thabaqah Kesembilan : Thabaqah yang Paling Kecil dari Tabi’ut Tabi’in

Seperti Yazid bin Harun, asy-Syafi’i, Abu Dawud ath-Thoyalisi, dan Abdurrozzaq, Abdurrahman bin Mahdi, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (al-Imam), Waki’ bin al-Jarroh, Abdurrozzaq ash-Shon’ani (Penulis Mushonnaf Abdirrozzaq), Sulaiman bin Harb, Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Abu Dawud ath-Thoyalisi (Penulis Musnad ath-Thoyalisi), Yazid bin Harun, dan lain-lain.

Thabaqah Kesepuluh : Thabaqah Tertinggi yang Mengambil Hadits dari Tabi’ut Taabi’in yang Mereka Tidak Bertemu dengan Tabi’in

Seperti Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah), Yahya bin Ma’in, Ishaq bin Rohawaih, Ibnu Abi Syaibah, Musaddad bin Musarhad, Sa’id bin Manshur, Ali bin al-Madini, dan lain-lain

Thabaqah Kesebelas : Thabaqah Pertengahan dari Rawi yang Mengambil Hadits dari Tabi’ut Tabi’in

Seperti adz-Dzuhli dan al-Bukhori, Muhammad bin Isma’il al-Bukhori (Penulis Shohih al-Bukhori), Abu Hatim ar-Rozi, Abu Zur’ah ar-Rozi, Abu Dawud as-Sijistani (penulis Sunan Abi Dawud), Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi (Penulis Sunan ad-Darimi), Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ (Ibnu Sa’ad, Penulis ath-Thobaqot al-Kubro), dan lain-lain.

Thabaqah Keduabelas : Thabaqah yang Rendah dari Rawi yang Mengambil Hadits dari Tabi’ut Tabi’in

Seperti at-Tirmidzi dan para imam yang enam lainnya yang tertinggal sedikit dari wafatnya para tabi’ut tabi’in, seperti sebagian para syaikh-nya an-Nasa’i. Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi (Penulis Jami’ at-Tirmidzi), Ibnu Abid Dunya al-Baghdadi, Abdullah bin Ahmad (anak al-Imam Ahmad bin Hanbal).

Jika dari thabaqah ke-1 dan ke-2 : mereka wafat sebelum tahun 100 H. Jika dari thabaqah ke-3 sampai ke-8 : mereka wafat setelah tahun 100 H. Jika dari thabaqah ke-9 sampai akhir thabaqah : maka mereka wafat setelah tahun 200 H. (Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, op. cit., h.217-219)

Faedah Mengetahui Thabaqah

Diantara faedah mengetahui thabaqah ini adalah menghindarkan kesamaan antar dua nama atau beberapa nama yang sama atau hampir sama. Diantara kitab-kitab thabaqah yang terkenal adalah Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, Thabaqoh Al-Qurra karya Abu Amr Ad-Dani, Thabaqoh As-Syafi’iyyah Al-Kubra karya Abdul Wahab As-Subhi, dan lain sebagainya. (Abdul Majid Khon, op. cit., h. 110)

Demikian, semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Pengertian Zuhud
Oleh : Immim pangkep

Pengertian Zuhud

Pengantar Fikih dan Ushul Fikih
Oleh : Immim pangkep

Pengantar Fikih dan Ushul Fikih

0 Komentar

KELUAR