Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Pembagian Djuz dalam Al-Qur’an

Pembagian Djuz dalam Al-Qur’an

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Tips Mudah dan Efektif Menghafal Al-Qur’an

BLOGGURU – Pembagian djuz dalam Al-Qur’an dilakukan untuk memudahkan umat Islam dalam membaca dan menghafalnya. Bagaimana sejarahnya sehingga terjadi pembagian djuz dan surah dalam al-Qur’an sebagaimana adanya saat ini? Apakah pembagian djuz dalam Al-Qur’an itu sudah ada sejak Rasulullah SAW atau atas arahan Rasulullah SAW? Sejak kapan ada pembagian djuz dalam Al-Qur’an menjadi 30 Djuz? Surah apa dan berapa jumlah ayatnya yang masuk dalam djuz pertama, djuz kedua, djuz ketiga, dan seterusnya?

Pertanyaan-pertanyaan diatas perlu untuk dicari jawabnya dalam rangka untuk semakin memudahkan kita mencintai, membaca dan menghafalkan Al-Qur’an? Pembagian Al-Qur’an menjadi 30 Djuz teryata tidak dikenal di generasi Sahabat, bahkan pembagian djuz ini juga bukan merupakan arahan dari Rasulullah SAW langsung atau pun dari malaikat Jibril. Pembagian Al-Qur’an berdasarkan djuz pun mulanya tidak dikenal di Madinah.

Pembagian Al-Quran di kalangan Sahabat yang terkenal adalah dari surah Al baqarah terus ke belakang yakni 3 surah, 5 surah, 7 surah, 9 surah, 11 surah, 13 surah dan mufashshal.

Bagian pertama, yakni 3 surah, yaitu: Al-Baqarah (286 ayat), Ali-Imran (200 ayat), dan An-Nisa’ (176 ayat)

Bagian kedua, yakni 5 surah, yaitu Al-Ma’idah (120 ayat), Al-An’am (165 ayat), Al-A’raf (206 ayat), Al-Anfal (75 ayat), dan At-Taubah (129 ayat)

Bagian ketiga, yakni 7 surah, yaitu: Yunus (109 ayat), Hud (123 ayat), Yusuf (111 ayat), Ar-Ra’d (43 ayat), Ibrahim (52 ayat), Al-Hijr (99 ayat), An-Nahl (128 ayat)

Bagian keempat, yakni ada 9 surah, yaitu: Al-Israa (111 ayat), Al-Kahfi (110 ayat), Maryam (98 ayat), Ta Ha (135 ayat), Al-Anbiya’ (112 ayat), Al-Hajj (78 ayat), Al-Mu’minun (118 ayat), An-Nur (64 ayat), dan Al-Furqan (77 ayat)

Bagian kelima, yakni ada 11 surah, yaitu: Asy-Syuaraa (227 ayat), An-Naml (93 ayat), Al-Qashash (88 ayat), Al-Ankabut (69 ayat), Ar-Ruum (60 ayat), Luqman (34 ayat), As-Sajdah (30 ayat), Al-Ahzab (73 ayat), Saba’ (54 ayat), Fatir (45 ayat), dan Yaasin (83 ayat)

Bagian keenam, yakni ada 13 surah, yaitu: Ash-Shaaffaat (182 ayat),  Shaad (88 ayat), Az-Zumar (75 ayat), Ghafir (85 ayat), Fushshilat (54 ayat), Asy-Syura (53 ayat), Az-Zukhruf (89 ayat), Ad-Dukhan (59 ayat), Al-Jaatsiyah (37 ayat), Al-Ahqaf (35 ayat), Muhammad (38 ayat), Al-Fath (29 ayat), dan Al-Hujurat (18 ayat)

Bagian ketujuh, yakni yang biasa disebut Surah Al-Mufashshal artinya terperinci, yaitu Surah-surah pendek, dari surah Qaaf sampai dengan An-Nas. Berikut ini rinciannya: Qaaf (45 ayat), Adz-dzariyat (60 ayat), Ath-Thuur (49 ayat), An-Najm (62 ayat), Al-Qamar (55 ayat), Ar-Rahman (78 ayat), Al-Waqi’ah (96 ayat), Al-Hadid (29 ayat), Al-Mujadilah (22 ayat), Al-Hasyr (24 ayat), Al-Mumtahanah (13 ayat), Ash-shaaf (14 ayat), Al-Jumu’ah (11 ayat), Al-Munafiqun (11 ayat), At-Taghabun (18 ayat), Ath-Thalaq (Talak, 12 ayat), At-Tahrim (12 ayat), Al-Mulk (30 ayat), Al-Qalam (52 ayat), Al-Haqqah (52 ayat), Al-Ma’arij (44 ayat), Nuh (28 ayat), Al-Jin (28 ayat), Al-Muzammil (20 ayat), Al-Muddatstsir (6 ayat), Al-Qiyamah (40 ayat), Al-Insan (31 ayat), Al-Mursalat (50 ayat), An-Naba’ (40 ayat), An-Nazi’at (46 ayat), ‘Abasa (42 ayat), At-Takwir (29 ayat), Al-Infithar (19 ayat), Al-Muthaffifin (36 ayat), Al-Insyiqaq (25 ayat), Al-Buruj (22 ayat), Ath-Thariq (17 ayat), Al-A’laa (19 ayat), Al-Ghasyiyah (26 ayat), Al-Fajr (Fajar, 30 ayat), Al-Balad (20 ayat), Asy-Syams (15 ayat), Al-Lail (21 ayat), Adh-Dhuha (11 ayat), Al-Insyirah (8 ayat), At-Tin (8 ayat), Al-‘Alaq (19 ayat), Al-Qadr (5 ayat), Al-Bayyinah (8 ayat), Al-Zalzalah (8 ayat), Al-‘Adiyat (11 ayat), Al-Qari’ah (11 ayat), At-Takatsur (8 ayat), Al-‘Ashr (3 ayat), Al-Humazah (9 ayat), Al-Fiil (5 ayat), Quraysh (4 ayat), Al-Ma’un (7 ayat), Al-Kautsar (3 ayat), Al-Kafirun (6 ayat), An-Nashr (3 ayat), Al-Lahab (5 ayat), Al-Ikhlas (Ikhlas, 4 ayat), Al-Falaq (5 ayat), An-Naas (6 ayat)

Pembagian Surah-surah dalam Al-Qur’an menjadi tujuh bagian ini hanya terjadi di zaman para sahabat, karena para Sahabat Nabi SAW biasa mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan (7 hari), sedang Pembagian Al Qur-an 30 Juz berawal dari ide khatam dalam sebulan. Pembagian berdasarkan juz ini bertujuan agar para pembaca bisa mengukur waktu untuk dapat khatam al-Quran sekali per bulan.

Berikut ini pembagian Al-Qur’an menjadi 30 Djuz.

Djuz 1 : Surah Al-Fatihah Ayat 1 – Surah Al-Baqarah Ayat 141 (148 ayat);

Djuz 2 : Surah Al-Baqarah Ayat 142 – Surah Al-Baqarah Ayat 252 (111 ayat);

Djuz 3 : Surah Al-Baqarah Ayat 253 – Surah Ali Imran Ayat 92 (126 ayat);

Djuz 4 : Surah Ali Imran Ayat 93 – Surah An-Nisa’ Ayat 23 (131 ayat);

Djuz 5 : Surah An-Nisa’ Ayat 24 – Surah An-Nisa’ Ayat 147 (124 ayat);

Djuz 6 : Surah An-Nisa’ Ayat 148 – Surah Al-Ma’idah Ayat 82 (110 ayat);

Djuz 7 : Surah Al-Ma’idah Ayat 83 – Surah Al-An’am Ayat 110 (149 ayat);

Djuz 8 : Surah Al-An’am Ayat 111 – Surah Al A’raf Ayat 87 (142 ayat);

Djuz 9 : Surah Al A’raf Ayat 88 – Surah Al-Anfal Ayat 40 (159 ayat);

Djuz 10 : Surah Al-Anfal Ayat 41 – Surah At-Taubah Ayat 92  (127 ayat);

Djuz 11 : Surah At-Taubah Ayat 93 – Surah Hud Ayat 5 (151 ayat);

Djuz 12 : Surah Hud Ayat 6 – Surah Yusuf Ayat 52 (170 ayat);

Djuz 13 : Surah Yusuf Ayat 53 – Surah Ibrahim Ayat 52 (154 ayat);

Djuz 14 : Surah Al-Hijr Ayat 1 – Surah An-Nahl Ayat 128 (227 ayat);

Djuz 15 : Surah Al-Isra Ayat 1 – Surah Al-Kahfi Ayat 74 (185 ayat);

Djuz 16 : Surah Al-Kahf Ayat 75 – Surah Ta-Ha Ayat 135  (269 ayat);

Djuz 17 : Surah Al-Anbiya Ayat 1 – Surah Al Hajj Ayat 78 (190 ayat);

Djuz 18 : Surah Al-Mu’minun Ayat 1 – Surah Al-Furqan Ayat 20 (202 ayat);

Djuz 19 : Surah Al-Furqan Ayat 21 – Surah An-Naml Ayat 55 (339 ayat);

Djuz 20 : Surah An-Naml Ayat 56 – Surah Al-Ankabut Ayat 45 (171 ayat);

Djuz 21 : Surah Al-Ankabut Ayat 46 – Surah Al-Azhab Ayat 30 (178 ayat);

Djuz 22 : Surah Al-Azhab Ayat 31 – Surah Yasin Ayat 27 (169 ayat);

Djuz 23 : Surah Yasin Ayat 28 – Surah Az-Zumar Ayat 31 (357 ayat);

Djuz 24 : Surah Az-Zumar Ayat 32 – Surah Fussilat Ayat 46 (175 ayat);

Djuz 25 : Surah Fussilat Ayat 47 – Surah Al-Jatsiyah Ayat 37 (246 ayat);

Djuz 26 : Surah Al-Ahqaf Ayat 1 – Surah Adz Dzariyat Ayat 30 (195 ayat);

Djuz 27 : Surah Adz Dzariyat Ayat 31 – Surah Al-Hadid Ayat 29 (339 ayat);

Djuz 28 : Surah Al-Mujadilah Ayat 1 – Surah At-Tahrim Ayat 12 (137 ayat);

Djuz 29 : Surah Al-Mulk Ayat 1 – Surah Al-Mursalat Ayat 50 (431 ayat);

Djuz 30 : Surah An-Naba’ Ayat 1 – Surah An-Nas Ayat 6 (564 ayat).

Pembagian Al-Qur’an berdasarkan Djuz dipelopori Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi (W 110 H). Para ulama menyebutkan bahwa orang yang pertama kali membagi mushaf Al-Quran menjadi 30 Djuz (bagian) adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi (W 110 H).  Pembagian berdasarkan juz ini berpatokan pada jumlah huruf. Yang melakukan pembagian kala itu adalah para cendekiawan di Iraq atas perintah tugas dari Al-Hajjaj.

Setelah pembagian berdasarkan juz, maka muncul pembagian yang disebut Hizb. Setiap hizb berjumlah setengah juz yang kemudian dibagi lagi menjadi seperempatan. Pembagian menjadi seperempatan dimaksudkan agar dengan membaca sesuai patokan itu dalam shalat, seorang hafizh bisa khatam dalam 30 hari. Teknisnya adalah sengan membaca seperempat hizb setiap rakaat shalat fardhu pada siang hari (zhuhur & ashr) serta shalat malam hari (maghrib dan isya). Adapun pada shalat shubuh, bacaannya lebih panjang lagi dari pembagian tersebut karena pembagian berdasarkan juz dan hizb tidak memperhatikan kesempurnaan kalimat.

Banyak ulama yang mengkritisi pembagian mushaf berdasarkan juz dan hizb, diantaranya Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi. Para ulama itu mengkhawatirkan si pembaca yang menyelesaikan atau memulai bacaan pada kalimat yang tidak sempurna dan bahkan bisa mengubah makna yang dikandung dalam Ayat-ayat yang dibaca. Itulah sebabnya, disarankannya agar makna yang dibaca tetap sempurna, sebaiknya pembaca Al-Quran tidak terpaku pada pembagian juz dan hizb atau lainnya yang tidak berdasarkan kesempurnaan kalimat.

Jadi demikianlah pembagian djuz dan hizb dari hitungan jumlah surah dalam Al-Qur’an, sebenarnya muncul pada periode belakangan dengan maksud untuk semakin memudahkan membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Pembagian dan pemberian tanda-tanda bagian dalam mushaf belum dikenal di masa periode penulisan Al-Qur’an, yaitu di masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Ngaji/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

 

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR