Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengenal Imam Ibnu Majah dan Kitab Hadits Sunannya

Mengenal Imam Ibnu Majah dan Kitab Hadits Sunannya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Siapa itu Imam Ibnu Majah? Pernah mendengar dan melihat kitab hadits Sunan Ibnu Majah? Nah, Kitab Sunan ibnu Majah adalah kitab kumpulan hadits dalam Islam yang disusun oleh Ibnu Majah. Kitab ini adalah salah satu dari kitab rujukan utama hadits bagi pemeluk Islam, memuat 4000 hadits yang terbagi menjadi 32 bagian dan 1500 Bab.

Ibnu Majah bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini, dilahirkan pada Tahun 207 H dan berpulang ke rahmatullah, 8 hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan 275 H.  Ia menuntut ilmu hadis dari berbagai negara hingga dia mendengar hadis dari madzhab Maliki dan Al Laits. Sebaliknya banyak ulama yang menerima hadis dari dia. Ibnu Majah menyusun kitab Sunan Ibnu Majah dan kitab ini termasuk dalam kelompok kutubus sittah (lihat di bagian hadis). Menurut penyusun (Ibnu Hajar) ulama yang pertama kali mengelompokkan atau memasukkan Ibnu Majah kedalam kelompok Al Khamsah itu adalah Abul Fadl bin Thahir dalam kitabnya Al Athraf, kemudian Abdul Ghani dalam kitabnya Asmaur Rijal

Kalau ditanya apa buah karya Ibnu Majah yang paling terkenal? Maka tentu perhatian semua pelajar dan sarjana muslim serta umat Islam pada umumnya akan tertuju pada literatur klasik kitab hadits Sunan Ibnu Majah. Kitab ini merupakan karya terbesarnya. Dalam khazanah keilmuan Islam, dikenal 9 kitab hadits rujukan disebut kutubut tis’ah, yaitu kitab Sahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwatha’ Malik, dan Sunan Darimi.

Sejak usia 15 Tahun, Ibnu Majah belajar dari banyak guru dan mengunjungi banyak wilayah dan negara untuk mengumpulkan dan menulis hadits.  Beberapa daerah yang dikunjunginya ialah Rayy (Teheran), Bashrah, Kufah, Baghdad, Khurasan, Suriah, dan Mesir dan masih banyak lagi. Diantara guru dan tempatnya mengambil rujukan ialah Ali bin Muhammad At-Tanafasi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Al-Azhar, Basyar bin Adam, dan para pengikut perawi dan ahli hadits, Imam Malik serta Al-Lays.

Dalam kehidupannya Ibnu Majah telah banyak menulis dan menghasilkan karya, di dalam bidang hadis, fikih, serta tafsir. Ibnu Majah telah meriwayatkan lebih kurang 4.000 buah hadits. Dalam hadis yang ditulis Ibnu Majah berisi hadis yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Dalam ketekunan beliau di bidang ilmu Islam khususnya padapengetahuan tentang hadis, dari beberapa ulama sangat merasa kagum terhadap Ibnu Majah. Ibnu Majah merupakan seorang yang dipercayai memiliki jiwa besar, yang mana tentang kejujurannya, beliau memiliki ilmu yang luas dalam bidang ilmu pengetahuan serta dalam bidang  ilmu hadis.

Selama hidupnya, Ibnu Majah meninggalkan karya tidak kurang dari 30 Kitab Karya-karya itu terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni pembahasan ihwal ilmu tafsir, tarikh (biografi), dan hadits. Di antara ketiganya, bidang yang terakhir itu merupakan buah tangan yang paling masyhur lewat karya sunan-nya.

Dari segi materi, Sunan Ibnu Majah terdiri atas 4.341 hadis. Sebanyak 3.002 hadis di antaranya telah termaktub dalam Kutub al-Khamsah (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i). Hanya sekitar 1.339 hadis saja yang terbilang orisinil.

Dalam penelitian Fuad Abd Baqi’ menjelaskan, dari sebanyak 1.339 hadis yang dikatakan orisinil tersebut, ada sejumlah 328 hadits yang berkualitas sahih. Kemudian, sebanyak 99 hadis berstatus hasan. Sebanyak 613 hadis berkualitas dhaif, sedangkan 99 hadis lainnya berkualitas tertuduh (buruk).

Ibnu Hajar mencatat, jumlah bab dan pasal yang terkandung dalam Sunan Ibn Majjah lebih sistematis dan rapi bila dibandingkan dengan Bab-bab yang ada dalam kitab hadits lain.

Keterangan-keterangan yang termuat dalam Sunan Ibn Majah umumnya bernas dan jelas. Adapun sistematika pembahasannya tak jauh berbeda dengan kitab-kitab sunan pada umumnya.

Jika dibandingkan dengan Kutub al-Khamsah, maka Sunan Ibn Majah memiliki berbagai “kelemahan.”

Pertama, kitab ini memuat banyak hadits yang berkatagori zawaid atas hadis-hadis yang ada dalam Kutub al-Khamsah.

Kedua, hadis yang berkualitas dhaif tidak mendapat kejelasan sebab kedhaifannya. Oleh karena persoalan ini, banyak ulama hadits memandang “sebelah mata” terhadap Sunan Ibn Majah. Fuad Abd Baqi’ mencatat, ada sekitar 712 hadis dhaif dalam Sunan Ibn Majah dan dibiarkan begitu saja tanpa komentar atau penilaian sedikitpun.

Demikianlah sekilas tentang Imam Ibnu Majah dan Kitab Hadits Sunan-nya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

 

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR