
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post:
BLOGGURU – Kitab Al-Manzhumah Al-Haiyyah merupakan kitab klasik yang sangat penting mengenai pokok-pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Ditulis sebagai syair atau manzhumah oleh Imam Abu Bakar bin Abu Dawud (lahir 230 H), putra Imam Abu Dawud pemilik Kitab Sunan Abu Dawud.
Ibnu Abi Dawud lahir di daerah Sijistan pada tahun 230 H. Beliau menceritakan, “Pertama kali aku ikut menulis hadits pada tahun 241 H dari Muhammad bin Aslam ath-Thusi. Hal itu terjadi di daerah Thus. Beliau adalah seorang yang salih. Ayahku -Abu Dawud- merasa senang mengetahui bahwa aku menulis hadits darinya. Beliau pun berkata kepadaku, “Pertama kali kamu menulis hadits ini adalah dari seorang lelaki yang saleh.”
Ibnu Abi Dawud juga menuturkan, “Aku pun sempat melihat jenazah Ishaq bin Rahawaih -beliau adalah ulama ahli hadits besar salah satu guru dari Imam Bukhari- dan beliau, yaitu Ishaq bin Rahawaih, meninggal pada tahun 238 H. Sedangkan aku ketika itu bersama dengan anaknya belajar di sekolah/madrasah kuttab.”
Ayahnya -yaitu Imam Abu Dawud- pun mengirim putranya itu untuk menimba ilmu ke berbagai wilayah dari Sijistan untuk mengembara ke daerah timur dan barat. Dan beliau pun mengajak putranya itu untuk mendengar hadits dari para ulama di masanya. Sehingga beliau pun ikut hadir dalam majelis para ulama hadits di Khurasan, Ashbahan, Naisabur, Bashrah, Baghdad, Kufah, Mekkah, Madinah, Syam, Mesir dan yang lainnya hingga menetap di Baghdad.
Ibnu Abi Dawud belajar hadits dari para ulama di antaranya: Ishaq bin Manshur al-Kusaj, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli -salah satu guru dan rekan Imam Bukhari-, Muhammad bin Basyar Bundar, Muhammad bin al-Mutsanna, Ya’qub ad-Dauraqi, dan lain-lain, sedang murid-murid Ibnu abi Dawud adalah para penimba ilmu tulen yang kemudian tumbuh menjadi para ulama rujukan, di antaranya adalah Abu Bakr asy-Syafi’i, Imam ad-Daruquthni, Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Imam al-Ajurri, Imam Ibnu Baththah, dan lain-lainnya.
Ibnu Abi Dawud dikenal sebagai ulama pembela Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau sosok yang mengikuti dan berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, walaupun secara fikih furu’ beliau adalah seorang penganut madzhab Hambali. Namun dalam hal pokok-pokok agama beliau konsisten mengikuti jalan Ahlus Sunnah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang terkenal dengan julukan Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pada hakikatnya, yang dimaksud Ahlus Sunnah adalah para pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan di antara para ulama Ahlus Sunnah yang terkenal adalah para imam yang empat; Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad, semoga Allah merahmatinya.
Imam Ibnu Abi Dawud adalah seorang panutan dalam aqidah dan manhaj Islam. Beliau memiliki kemuliaan akhlak dan ketegasan sikap terhadap kaum yang menyimpang. Beliau pernah mengatakan, “Semua orang yang pernah menceritakan keburukan atau menggunjing diriku maka dia telah aku maafkan kecuali orang yang menuduhku membenci Ali bin Abi Thalib.” Hal ini karena ada sebagian orang yang menuduh beliau membenci Ahlul Bait, padahal itu adalah kedustaan.
Beliau telah menyusun sebuah sajak atau pantun manzhumah yang menjadi rujukan para ulama sesudahnya dalam memaparkan Aqidah Islam, yang terkenal dengan nama “Manzhumah Haa-iyah”. Disebut dengan “Haa-iyah” karena akhir dari setiap baitnya diakhiri dengan huruf haa’ (tipis).
Para ulama memuji dan memuliakan Abu Bakr bin Dawud. Syaikh Abu Abdirahman as-Sulami berkata : Aku bertanya kepada ad-Daruquthni mengenai Abu Bakr bin Dawud. Maka beliau mengatakan, “Dia adalah orang tsiqah/terpercaya.” Al-Hafizh Abu Muhammad al-Khallal berkata : “Ibnu Abi Dawud adalah seorang imam penduduk Iraq, bahkan penguasa pada saat itu telah memberikan untuknya mimbar khusus untuk berbicara dan memberikan pelajaran …”
Al-Khatib al-Baghdadi berkata : “Beliau adalah seorang fakih/ahli agama, alim, dan hafizh/penghafal hadits yang handal.” sedang Imam adz-Dzahabi berkata : “Beliau termasuk pembesar ulama kaum muslimin dan tergolong hafizh/juru hafal hadits yang paling tsiqah/kredibel.”
Imam Ibnu abi dawud wafat pada tahun 316 H dan meninggalkan delapan anak. Semoga Allah merahmatinya dan membalas kebaikannya. Di antara bukti ketinggian karya beliau yaitu Manzhumah Haa-iyah ini adalah para ulama pun mengupas faidah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Berikut ini Mandzumah Haa-iyah dan terjemahnya:
Matan Manzhumah Al-haa’iyah, karya imam Abu Bakar Abdullah ibn Abu Dawud As-sijistani rahimahullah.
Berpegang Teguhlah dengan Tali Allah dan ikutilah petunjuk – Dan Jangan lah kamu menjadi pelaku bid’ah, agar kamu beruntung
Ber agamalah dengan dasar kitab Allah dan Sunnah, yang datang dari Rosulullah, kamu akan selamat dan beruntung.
Katakanlah : Firman Raja Kita(Allah) bukanlah makhluk, Dengan itulah orang-orang yang bertakwa berkeyakinan, dan dengan lantang mereka berkata.
Janganlah menjadi orang yang menahan diri dari berbicara tentang Al-qur’an, seperti yang dikatakan pengikut jahm(bin shofwan), dan mereka pun bermudah-mudahan.
Janganlah mengatakan bacaanku dengan alqur’an adalah makhluk, Sesungguhnya Firman Allah ketika dilafazhkan harus di jelaskan.
Dan katakanlah : Allah menampakkan diri kepada makhluk dengan nyata, seperti purnama, tidaklah samar(ketika melihat NYA). Dan bahkan Rabb mu lebih nyata.
Dan Allah Tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan, Tidak ada yang menyerupai NYA, Maha Tinggi Dzat yang Maha Suci.
Orang-orang jahmiyah mengingkari hal yang ada pada kami ini*(yaitu dilihatnya Allah di akhirat, terdapat hadits yang jelas untuk membenarkan apa yang kami katakan.
Diriwayatkan oleh jarir dari sabda Muhammad, maka berkatalah sebagaimana yang Nabi sabdakan tentang itu, maka kamu akan beruntung.
Dan sungguh orang-orang jahmiyah juga telah mengingkari Tangan kanan- NYA, dan bahkan (yang benar adalah) kedua Tangan NYA terus memberi kenikmatan dan karunia)
Dan katakanlah : Dzat Yang Maha Perkasa turun pada setiap malam, tanpa diketahui bagaimana TurunNYA, Maha Agung Dzat Yang Maha Esa dan Terpuji.
(Turun) ke tingkat paling bawah, memberi dengan karunia-Nya, Maka di bukalah pintu-pintu langit.
Dia berfirman, ketahuilah siapa yang minta ampun akan mendapatkan ampunan, dan siapa yang meminta kebaikan dan rezeki, maka dia akan diberi.
Hal itu (yaitu turunnya Allah) telah diriwayatkan oleh kaum yang tidak di tolak hadits mereka, ketahuilah telah merugi dan tercela kaum yang mendustakan mereka.
Dan katakanlah : Seseungguhnya sebaik-baik manusia setelah Muhammad, dua penolongnya(yaitu abu bakar dan umar) yang lebih dulu, kemudian ‘Utsman menurut pendapat yang lebih kuat.
Dan yang ke empat adalah sebaik-baik manusia setelah mereka, yaitu- ‘Ali sekutu kebaikan, dengan kebaikan akan menyelamatkan.
Mereka –dan orang-orang yang akan disebutkan berikut- adalah sekelompok orang yang tidak ada keraguan pada mereka, di atas unta mulia di surge firdaus, dengan cahaya ia berjalan.
Sa’id, Sa’d, Ibnu ‘auf, dan Thalhah, ‘Amir fihr, dan Az-zubeir yang dipuji.
Dan berkatalah dengan perkataan yang baik pada semua shahabat, janganlah menjadi pencela yang mencaci dan mencerca.
Sungguh wahyu yang nyata telah berbicara tentang keutamaan mereka, dan di dalam surat Al-Fath terdapat ayat yang memuji shahabat.
Dan yakinlah dengan takdir yang ditentukan, sesungguhnya ia, Rukun ikatan agama dan agama itu luas.
Janganlah engkau ingkari Nakir dan Munkar karena ketidak tahuan, jangan pula ingkar kepada telaga dan timbangan, sesungguhnya enkau mendapat nasihat.
Dan Katakanlah : Allah Yang Maha Agung dengan karunia-NYA akan mengeluarkan, dari neraka, dari tubuh-tubuh yang telah menjadi arang, lalu di letakkan.
Ke sungai di surge firdaus yang dengan airnya, jasad itu akan hidup, seperti biji yang dibawa banjir ketika meluap.
Dan sesungguhnya Rosulullah member syafa’at kepada manusia, katakanlah : tentang adzab kubur itu haq dan telah di jelaskan.
Dan janganlah sekali-kali kamu mengkafirkan ahlu shalat meski berbuat maksiat, setiap Manusia berbuat maksiat, dan Dzat Pemilik ‘Arsy Maha Pemaaf)
Dan janganlah kamu meyakini pendapatnya khawarij, karena ia, mempunyai perkataan yang bagi siapa yang mencintai ucapan tersebut, akan menghancurkan dan membinasakan)
Dan janganlah kamu menjadi murji’ yang bermain-main dengan agama, ketahuilah sesungguhnya seorang murji’ bersenda gurau dengan agamanya.
Dan katakanlah : sesungguhnya iman adalah ucapan dan niat, serta perbuatan , yang diterangkan oleh Nabi.
Dan akan berkurang kadarnya dengan maksiat-maksiat, dan terkadang, akan bertambah dengan ketaatan, dan akan berat ketika ditimbang)
Tinggalkanlah olehmu pendapat-pendapat orang dan perkataan mereka, karena- perkataan Rosulullah itu lebih bersih dan lebih terang)
Dan janganlah kamu termasuk kaum yang bermain-main dengan agama mereka, yang menyebabkan- kamu mencela dan mencerca ahli hadits.
Jika engkau, wahai saudaraku, selama hidup meyakini hal ini, maka kamu di atas kebaikan di waktu malam dan pagi.
Demikianlah penjelasan singkat terkait Imam ibnu Abu Dawud dan karyanya Mandzumah Haa-iyah. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.