
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, Segala puji hanya kepada Allah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, malam ini, Kamis (27/11/2025), penulis menyempatkan diri menulis puisi buat anakda santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep yang akan mengikuti Lomba Membaca Puisi Berantai di Pekan Budaya Arab IV bertema “Menapaki Jejak Budaya Arab dalam Kreativitas Seni dan Sastra” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Asia Barat Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Himab KMFIB UNHAS).
Lomba Puisi Berantai merupakan salah satu item kegiatan dalam Pekan Budaya Arab IV UNHAS yang akan diselenggarakan pada Tanggal 1-3 Desember 2025. Terkait rencana mengikuti lomba ini penulis telah menyeleksi dan menunjuk 3 santriwati. Penulisan puisi berjudul “Darah Palestina, Luka Peradaban” ini merupakan karya spontan penulis, merujuk kepada salah satu tema lomba puisi dimaksud, “Kebebasan untuk Palestina”. Sungguh sebuah tema yang menggugah jiwa. Berikut ini adalah puisi yang menekankan bahwa perjuangan pembebasan Palestina ini adalah amanah kemanusiaan melawan penjajahan dan tragedi peradaban.
Darah Palestina, Luka Peradaban
karya: Muhammad Farid Wajdi
Bukan hanya tanah, bukan sekadar peta yang terbelah, Palestina adalah bisikan, adalah amanah yang tak terjamah. Sebuah janji purba di jantung peradaban yang berdetak, Kini berdarah-darah, dihantam kebiadaban yang tak berjarak.
Di sana, pohon zaitun menangis, batu-batu pun merintih, Saat hak asasi manusia diinjak, direnggut, dan dirampas pedih. Anak-anak menjadi sasaran, sejarah dibakar menjadi debu, Dan dunia menatap, antara diam, ragu, atau berlalu.
Tidak perlu berbaiat pada panji, tak perlu satu iman, Cukuplah menjadi manusia—itulah alasanku membela. Karena nurani adalah kompas, dan keadilan adalah suar, Memanggil kita berdiri melawan penindasan yang tak terukur.
Penjajahan adalah luka yang harus dikerat tuntas, Ketertindasan adalah rantai yang wajib diputus tanpa batas. Dan genosida, pemusnahan massal di hadapan mata, Adalah aib kolektif, tragedi yang memalukan kita semua.
Mereka merebut rumah, mencuri udara untuk bernapas, Mereka menulis sejarah dengan darah yang tak terhapus. Memaksa jiwa-jiwa muda hidup dalam teror dan nestapa, Dalam bayang-bayang bom, kehilangan masa depan mereka.
Darah yang tumpah di Gaza, air mata yang membasahi Tepi Barat, Adalah bukti nyata bahwa zaman belum sepenuhnya tercerahkan. Bahwa kemajuan teknologi dan gemerlap kota yang megah, Hanya topeng di atas kenyataan, di mana nurani telah punah.
Peradaban manusia masih menyisakan tragedi terkelam, Ketika hak untuk hidup, berdaulat, dan merdeka menjadi haram. Ketika kekuatan mendikte kebenaran, dan diam diartikan setuju, Maka kita semua bersalah, sebagai saksi yang tak mampu berjuang.
Palestina adalah cermin, memantulkan wajah kita yang sesungguhnya. Kebebasanmu adalah kebebasanku, kemerdekaanmu adalah damba. Bangkitlah, wahai umat, wahai manusia yang berhati suci, Sebab membebaskan Palestina adalah amanah hingga hari terakhir nanti.
(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis Buku Antologi Puisi “Penjara Suci” dan “Menjawab Waktu”/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.