
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Para ulama begitu jeli dan lugas membahas berbagai masalah keilmuan, bukan hanya membahas masalah keutamaan menuntut ilmu, meninggikan adab dalam menuntut ilmu, bagaimana menjaga hubungan guru (ustadz/syaikh) dengan murid-muridnya, akhlaq yang harus dijaga dalam perantuan mencari ilmu, bagaimana pewarisan sanad keilmuan, dan lain sebagainya. Tak hanya sampai disitu, para ulama juga jeli menyikapi kebodohan dan sia-sianya ilmu jika para pencarinya tanpa adab, tidak jujur, dan sembrono.
Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan:
Artinya:
Ada yang bertanya pada Imam Ahmad mengenai orang yang bernadzar untuk thawaf sebanyak empat kali putaran. Imam Ahmad pun menjawab, “Ia tetap (menunaikan nadzarnya) dengan melakukan thawaf sebagaimana orang yang berthawaf, tidak melakukan empat kali putaran saja.” Ibnu ‘Aqil berkata, “Sangat mengherankan, saya pernah mendengar dari orang-orang yang bodoh dimana mereka mengatakan bahwa Imam Ahmad tidak paham fikih, ia hanyalah seorang muhaddits (ahli hadits).” Ibnu ‘Aqil lantas berkomentar, “Ini benar-benar perkataan orang bodoh. Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat (fikih) yang ia simpulkan dari beberapa hadits dan jarang mereka mengetahui hal semacam ini. Dan kadang yang lebih berilmu dari mereka lebih tidak mengetahui hal ini.” Imam Adz Dzahabi lantas berkomentar, “Demi Allah, bukankah kita pernah menyaksikan ulama yang pakar dalam bidang fikih seperti al-Laits, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Abu Yusuf. Begitu pula yang terkenal zuhudnya seperti al-Fudhail bin ‘Iyadh dan Ibrahim bin Adham. Dan yang terkenal hafalannya seperti Syu’bah, Yahya al-Qatthan dan Ibnul Madini.” Lantas Imam adz-Dzahabi berkata, “Akan tetapi orang bodoh tidak mengetahui kedudukan dirinya, bagaimana mungkin ia mengetahui kedudukan orang lain?” [Sumber: Siyar A’lam an-Nubala, jilid 11, hlm. 321]
(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.