
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
18. Apa Kewajibanmu terhadap Gurumu?
Wahai anak yang beradab! sebagaimana ayahmu yang telah memelihara tubuhmu mempunyai hak besar padamu, maka begitu pula gurumu yang telah memelihara rohanimu dan mendidik akhlakmu serta menerangi pikiranmu dan mengajarimu ilmu yang berguna. la mempunyai hak yang besar padamu. Maka engkau wajib mencintai dan memuliakannya serta memperlakukannya dengan adab-adab ini:
1. Hendaklah engkau patuh kepada nasihat-nasihatnya dan tunduk kepada perintah-perintahnya, bukan karena takut hukuman, tetapi demi menjalankan kewajiban dengan ikhlas dari dalam hatimu. Sebagaimana seorang sakit yang patuh kepada dokter yang berbelas kasih. Maka hendaklah engkau menerima segala yang diberikannya kepadamu dengan pengertian yang baik, ucapan terima kasih dan kegembiraan. Hendaklah engkau bersikap rendah hati terhadapnya dan mencari pahala serta kemuliaan dengan mengabdi kepada’ nya. Hendaklah engkau selalu menyadari bahwa engkau mendapat pemberian dari gurumu dan tidak dapat membalasnya, betapapun engkau berbuat baik kepadanya. Herdaklah engkau sangat berhati-hati agar tidak menentangnya atau membangkang kepadanya atau bersikap sombong terhadapnya.
Dalam hadits: “Mencari muka (mencari pujian) bukanlah termasuk akhlak seorang mukmin, kecuali dalam menuntut ilmu.” Berkata Sayyidina Ali karromallahu wajhahu, “Aku adalah budak dari orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau dijualnya dan jika ia mau dibebaskannya dan jika ia mau diperbudaknya.”
Adapun kesombongan dan pembangkangan, keduanya manyebabkan manusia tidak mendapat ilmu. Penyair berkata: Ilmu itu memerangi seorang pemuda yang sombong seperti banjir membinasakan tanah yang tinggi
Murid yang beradab dan rendah hati, ia mendapat ilmu dan memanfaatkannya. Kebalikannya adalah murid yang kurang ajar dan sombong. Meskipun ia mendapat sedikit ilmu, namun ia tidak bisa memanfaatkannya bagi dirinya dan tidak pula memberi manfaat kepada orang lain. Bahkan ilmu itu membahayakannya dan menambah baginya kesombongan dan akhlak yang buruk.
2. Di antara nasihat-nasihat guru: hendaklah engkau berniat untuk menuntut ilmu demi mendapat ridha Allah dan negeri akhirat, menghidupkan agama dan memberi manfaat bagi kaum muslimin serta bersyukur atas nikmat akal dan kesehatan badan. Janganlah engkau bermaksud mencari pujian dan kedudukan di antara orang banyak atau mengumpulkan kesenangan duniawi.
Di antara nasihat-nasihatnya Ialah hendaklah engkau berjuang dengan keras dalam mencari ilmu. Maka hafalkanlah semua pelajaranmu dan hendaklah mempelajarinya di rumah. Janganlah menyia-nyiakan waktumu dengan percuma, karena ia lebih mahal daripada permata yang berharga. Apabila luput, maka ia tidak akan pernah kembali. Hendaklah engkau perhatikan kebersihan buku-buku dan alat-alatmu serta pengaturannya pada tempatnya. Hendaklah engkau selalu hadir setiap hari pada waktu yang telah ditentukan dan jangan terlambat, kecuali karena alasan yang benar. Hendaklah engkau mendengarkan pelajaran-pelajaran yang diberikannya dengan penuh perhatian hingga engkau memahaminya dengan cepat dan tidak memayahkan gurumu dengan banyak mengulang. Maka kerjakanlah nasihat-nasihat yang berguna itu.
3. Termasuk sopan santun terhadap guru adalah engkau berdiri menyambutnya jika engkau duduk demi menghormati dan mengagungkannya. Janganlah duduk hingga ia mengizinkan engkau duduk. Kemudian engkau duduk di depannya dengan sopan dan jangan mendahuluinya berbicara atau memutus pembicaraannya atau menyuruh dan melarang seseorang di depannya.
Jika engkau tidak mengerti sesuatu masalah, maka hendaknya engkau ajukan pertanyaan kepadanya dengan lembut dan penghormatan. Yaitu engkau angkat jarimu lebih dulu dan jangan berbicara hingga ia mengizinkanmu bicara. Apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka hendaklah engkau bangkit berdiri dan menjawab pertanyaannya dengan baik. Janganlah mendahuluinya menjawab, jika ia .mengajukan pertanyaan kepada orang lain.
4. Hendaklah engkau memberi salam kepadanya dan menjabat tangannya setiap hari di sekolah dan menghadapinya dengan wajah tersenyum. Engkau lakukan itu pula jika menjumpainya di jalan dan menjenguknya dirumahnya, terutama pada waktu hari raya, atau jika ia sakit. Engkau tanyakan kepadanya tentang kesehatannya dan hendaklah mendo’akan kesembuhannya. Engkau bantu dia dalam memenuhi kebutuhannya dan bermusyawarahlah dengannya dalam Urusan-urusan mu serta mengerjakan apa yang diperintahkannya. Janganlah memanggilnya dengan namanya, tetapi dengan kata guru. Jangan berjalan di depannya atau membelakanginya dengan punggungmu. Janganlah duduk di tempatnya atau mengambil bukunya tanpa izinnya. Janganlah banyak bicara kepadanya dan jangan menyebarkan rahasianya. Janganlah menggunjingkan seseorang di hadapannya. Janganlah berkata kepadanya, “Si Fulan mengatakan: kebalikan dari perkataannya.”
5. Janganlah malu menegaskan yang sebenarnya jika ia bertanya kepadamu tentang pengertian suatu masalah yang mana engkau tidak memahaminya agar supaya engkau tidak berdosa karena berdusta dan agar bisa memahami masalah itu. Janganlah engkau marah jika ia menegurmu, tetapi hendaklah engkau diam dan gembira atas hal itu. Karena, ia tidak menegurmu kecuali karena cinta padamu agar engkau menunaikan kewajibanmu. Kelak engkau akan berterima kasih atas teguran itu bila engkau sudah besar
Termasuk kesalahan besar adalah bila engkau menyangka bahwa gurumu membencimu karena ia menegurmu. Tidaklah berburuk sangka kepada gurunya, kecuali murid yang kurang ajar dan tidak berilmu.
6. Termasuk kesetiaan kepada gurumu adalah engkau tidak melupakan kebaikannya sepanjang hidupmu, walaupun engkau telah keluar dari sekolah atau gurumu telah berhenti dari sana atau bepergian ke negeri lain misalnya. Maka hendaklah engkau hubungi ia dengan surat menyurat, terutama pada peristiwa-peristiwa tertentu. Begitu pula jika ia berpindah ke alam kekal, hendaklah engkau mendo’akannya agar mendapat rahmat dan ampunan serta bersedekah untuknya.
1. Imam As-Syafi’i adalah seorang yang sangat beradab di hadapan gurunya yaitu Imam Malik, semoga Allah merahmati keduanya. Beliau berkata, “Aku membuka kertas di hadapan Imam Malik dengan perlahan-lahan karena aku segan kepadanya supaya beliau tidak mendengar bunyinya.”
2. Ar-Rabi’ bin Sulaiman adalah seorang yang sangat mengagungkan gurunya yaitu Imam As-Syafi’i. Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak berani minum air sementara Imam As-Syafi’i melihat kepadaku, karena aku segan kepadanya.” Gurunya sangat mencintainya dan berkata kepadanya, “Hai Rabi’, seandainya aku mampu memberimu makanan ilmu, tentulah aku memberikannya kepadamu.”
3. Harun Ar-Rasyid menyerahkan kedua anaknya, yaitu Al-Amin dan Al-Makmun pada seorang guru yang sangat pandai bernama Al-Kisaa’iy, Pada suatu hari sang guru berdiri untuk keluar dari tempat mereka. Maka kedua anak itu berlomba-lomba untuk mengambilkan kedua sandainya dan saling bergegas untuk memberikannya kepada guru mereka. Kemudian keduanya bersepakat untuk memberikan sandal itu, masing-masing sebuah sandal. Ar-Rasyid mendengar hal itu, lalu menyuruhnya datang. Kemudian ia berkata kepadanya, “Siapa orang yang paling mulia?” AlKisaa’iy menjawab, “Amirul mukminin.”
Ar-Rasyid berkata, “Tidak, orang yang paling mulia adalah orang yang anakanak Amirul mukminin berlomba untuk mengambilkan sandalnya.” Sang guru merasa risi (tak enak) dan mengira ia bersalah serta ingin melarang mereka melakukannya sekali lagi. Maka Ar-Rasyid berkata, “Andaikata anda melarang mereka, tentu aku akan menegurmu dengan keras. Kedua anak itu tidak melakukan sesuatu yang menjatuhkan derajat mereka, Bahkan hal itu menambah kemuliaan mereka. Aku telah memberi Imbalan kepada mereka 20.000 dinar atas sopan santun mereka, dan bagimu 10.000 dirham atas pendidikanmu yang baik terhadap mereka.”
4, Diceritakan bahwa Harun Ar-Rasyid mengirim salah seorang putranya kepada Al-Ashma’iy agar Ia mengajarinya Ilmu dan adab. Pada suatu hari ia melihatnya berwudhu dan mencuci kakinya sementara putra khalifah menuangkan air di atas kakinya. Maka Ia menegur Al-Ashma’iy atas hal itu dengan perkataan, “Sesungguhnya aku mengirimnya kepadamu agar supaya engkau mengajari dan mendidiknya. Mengapa anda tidak menyuruhnya menuangkan air dengan tangannya yang satu dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain?” (*)
(Bersambung …. )