Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (9): Kewajiban terhadap Tetangga

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (9): Kewajiban terhadap Tetangga

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

16. Apa Kewajibanmu terhadap Tetanggamu? 

1. Para tetanggamu mencintaimu dan mencintai ibu bapakmu, kedua orang tuamu menyuruhmu mencintai mereka dan berbuat baik kepada mereka, karena mereka mempunyai hak yang besar. Hingga dikatakan dalam hadits: ”Berbuat baiklah kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati.”

Dalam hadits lain: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetanganya.” Pisebutkan pula: “Tetangga itu ada tiga macam, tetangga yang mempunyai satu hak dan tetangga yang mempunyai dua hak serta tetangga yang mempunyai tiga hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetangga muslim yang mempunyai Ikatan kerabat. Maka ia mempunyai hak sebagai tetangga, hak Islam dan hak kerabat. Adapun tetangga yang mempunyai dua hak adalah tetangga muslim. la mempunyai hak tetangga dan hak Islam. Adapun tetangga yang mempunyai satu hak adalah tetangga musyrik yang hanya mempunyai hak tetangga.”

2. Tetangga-tetangga itu saling membantu satu dengan yang lain. Apabila seseorang membutuhkan alat-alat dan barang-barang misalnya, maka ia meminjamnya dari tetangganya. Maka mereka pun meminjaminya dengan senang dan gembira. Terkadang ia meminjam uang atau makanan dari mereka. Mereka pun bisa meminjam darinya jika membutuhkannya. Apabila seorang pencuri masuk ke rumahnya atau tefjadi kebakaran di tempat itu, datanglah para tetangganya untuk membantunya menangkap pencuri dan memadamkan api. Begitu pula apabila datang dari perjalanan atau lahir seorang anaknya, datangiah para tetangganya ke rumahnya untuk ikut bergembira atas kelahiran itu. Apabila ia sakit, mereka turut bersedih dan datang ke rumahnya menanyakan keadaannya. Mereka mendo’akannya agar sehat kembali. Bilamana ada yang meninggal di antara keluarganya, mereka datang ke rumahnya untuk membantu dan berduka cita serta mengantarkan jenazah orang yang meninggal itu.

3. Engkau harus bersikap sopan santun terhadap tetanggamu dengan mendahului dalam memberi salam kepada mereka dan tersenyum di hadapan mereka, membantu mereka bila mereka memerlukan bantuanmu dan sangat berhati-hati untuk tidak mengganggu mereka. Apabila engkau membeli buah-buahan atau sesuatu lainnya, berilah mereka. Jika engkau tidak melakukannya, maka masukkan ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan membuat mereka marah. Jangan mengganggu mereka dengan bau masakan dari pancimu, kecuali bila engkau memberi mereka dari makanan itu.

Dalam hadits: “Tidaklah beriman denganku barang siapa yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar di sampingnya sedangkan ia mengetahuinya.” Hendaklah engkau berhati-hati agar jangan bertengkar dengan mereka atau bersikap sombong terhadap mereka dengan hartamu atau harta ayahmu, atau mengejek mereka, ataupun mengeraskan suaramu pada waktu mereka tidur, atau melempari rumah-rumah mereka ataupun mengotorinya, atau memata-matai mereka dari atas atap, dari lubang dinding atau dari pintu-pintu.

Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu memata matai” (Al Hujurat: 12). Mengganggu tetangga adalah dosa besar. Dalam hadits: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”

4. Jika engkau terganggu oleh tetangga-tetangga yang jahat, maka bersabarlah atas gangguan mereka. Waspadalah, jangan mengikuti perilaku mereka yang buruk agar engkau selamat dari kejahatan mereka. Jauhilah pergaulan dengan anak-anak mereka agar tidak meniru watak mereka yang buruk, sehingga engkau menjadi jahat seperti mereka.

17. Kisah-kisah Nyata 

1. Berkata Mujahid, “Aky sedang berada di tempat Abdullah bin Umar. Ketika itu seorang sahayanya sedang menguliti kambing.” Kemudian Abdullah berkata kepadanya, “Hai anak, jika engkau menguliti, mulailah dengan memberi tetangga kita orang Yahudi.” Ia ucapkan itu berkali-kali. Maka aku berkata kepadanya, “Berapa kali anda ucapkan itu ?” Abdullah menjawab, “Rasulullah SAW, selalu mewasiati kami mengenai tetangga hingga kami khawatir beliau menjadikannya mewarisi kami.”

2. Seorang laki-laki mengeluh atas banyaknya tikus di rumahnya. Maka dikatakan kepadanya, “Bagaimana seandainya engkau pelihara kucing?” Orang itu menjawab, “Aku khawatir tikus mendengar suara kucing, lalu lari ke rumah rumah para tetangga. Maka aku pun tidak menyukai bagi mereka apa yang tidak kusukai bagi diriku sendiri.”

3. Adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah mempunyai seorang tetangga pendengki yang mengganggunya dan menggunjingnya. Akan tetapi beliau bersabar terhadapnya. Apabila beliau melewatinya dan memberi salam kepadanya, orang itu tidak membalas salamnya. Maka sebagian orang menegurnya atas ketabahan dan kesabarannya yang sangat terhadap tetangganya. Maka beliau berkata, “Sesungguhnya tetangga itu mempunyai hak.” (*)

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Beberapa Pengertian Ilmu Nahwu
Oleh : Immim pangkep

Beberapa Pengertian Ilmu Nahwu

0 Komentar

KELUAR