
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Pelajaran dari Bulan Dzulhijjah: Ibadah hanya untuk Allah
BLOGGURU – Apa itu Hari Tasyrik? Kata “Tasyrik” itu sendiri berasal dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit dan [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ], yang artinya menjemur sesuatu. Para ulama sepakat bahwa Hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah, meski ada pula yang menyebut bahwa Hari Tasyrik empat hari, yakni dimulai dari Idul Adha hingga tiga hari setelahnya. Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (hari nahr). (Lihat Al Iqna’, 1: 412).
Penyebutan Hari Tasyrik merujuk pula kepada zaman dulu, umat muslim menjemur daging kurban untuk dibuat dendeng. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu anhu, dari Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ beliau bersabda:
Artinya:
Hari Arafah (9 Dzulhijjah), Hari An-Nahr (10 Dzulhijjah), dan Hari Tasyrik (11,12, 13 Dzulhijjah) adalah hari Raya kami ummat Islam; dan itu adalah hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. Abu Dawud, 2419)
Disebut tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadits disebutkan, Hari Tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 18).
Bagaimana menikmati Hari Tasyrik dan apa saja sunnah didalamnya? Mari simak tulisan/artikel berikut ini:
Hukum Puasa Sunnah di Hari Tasyrik
Budaya Kuliner dalam Pandangan Islam
Sunnah Makan Daging di Hari Tasyrik
Ini 7 Kuliner khas Makassar saat Idul Adha, dijamin ketagihan!
Di antara hari yang terlarang untuk puasa adalah hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Dalam hadits disebutkan:
Artinya:
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” [HR. Muslim no. 1141]
Imam Nawawi berkata, “Ini adalah dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada hari tasyriq.” [Syarh Shahih Muslim, 8: 18]. Karena itu, mari menikmati hari tasyrik dengan makan daging qurban sepuasnya dalam batasan tertentu sesuai kemampuan kesehatan, sekaligus memperluas silaturrahim di hari tasyrik.
Hari Tasyrik masih merupakan bagian dari hari raya Idul Adha. Karena itu Hari Tasyrik haruslah dihiasi dengan kegembiraan dan kebahagiaan berada di dalamnnya. Karena itu pula, selayaknya tidak hanya diisi dengan menikmati daging qurban, tetapi saling mengunjungi sesama sanak saudara dan kerabat, dan membawa suasana kegembiraan itu pada saat saling berbagi masakan daging qurban.
Al-Imam ibn Hajar _rahimahullahu ta’ālā_ berkata:
Artinya:
Menampakkan kebahagiaan di hari Raya termasuk syi’ar-syi’ar agama. (Fathul Bāri: 443/2)
Barakallahu fiik. (*)