Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (16): Pasal Perkara yang Membatalkan Shalat

Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (16): Pasal Perkara yang Membatalkan Shalat

Related Post:  Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (12): Bab Fadhilah Shalat Wajib

BLOGGURU – Berikut ini sambungan dari terjemahan sebelumnya dari Kitab Irsyadul ‘Ibad, Bab Fadhilah Shalat Wajib.

Perkara Yang Membatalkan Shalat adalah:

Berkata dua huruf di waktu salat dengan berturut-turut sekalipun berupa dehem atau satu huruf tapi bisa difahami oleh manusia dan berupa percakapan mereka, tidak batal apabila perkataan itu sedikit lantaran tidak sengaja, lupa atau tidak mengerti bahwa percakapan itu membatalkan shalat dan orang yang melakukannya masih baru masuk Islamatau kehidupannya di daerah terpencil, jauh dari ulama.

Juga tidak batal shalatnya apabila berdehem lantaran untuk mengucapkan bacaan yang menjadi rukun shalat, apabila tidak dehem maka tidak bisa mengatakan sekalipun dehemnya banyak. Juga tidak batal dengan ketawa, menangis, batuk, bersin apabila seorang yang shalat tidak bisa menahannya dan masih sedikit.

Perbuatan yang melewati batas seperti melompat atau perbuatan yang banyak seperti melangkah tiga kali, menggerakkan tapak tangan sampai tiga kali berturut-turut, sekalipun untuk menggaruk-garuk gatal. Kecuali apabila ada kudis yang parah, sehingga tidak tahan kecuali harus menggaruknya.

Perbuatan yang banyak dan berturut-turut ini tetap membatalkan sekalipun dilakukan dalam keadaan lupa. Tidak batal apabila perbuatan itu ringan, sekalipun banyak berturut-turut atau tidak seperti menggerakkan jari telunjuk saja atau mengedipkan mata.

Perkara yang membatalkan puasa.

Mengulangi rukun perbuatan dengan sengaja.

Memanjangkan perbuatan shalat yang mestinya pendek dengan sengaja.

Tidak memenuhi salah satu syarat daripada syarat shalat.

Meninggalkan salah satu rukun daripada rukun shalat.

Sebuah Kisah

Dari syekh Muinuddin pernah bercerita bahwa syekh Ahmad Al Ghoznawi bertempat di salah satu gua Syam, lalu aku berkunjung padanya. Ternyata aku melihat keadaannya amat memedihkan hati. tubuhnya tiada lagi kecuali tulang dan daging, dia duduk di atas sajadah, namun di mukanya ada dua ekor macan. Lalu Syekh Ahmad berkata kepadaku: Dari mana kamu tadi? Dari Baghdad, jawabku. Dia berkata: Perbanyaklah melayani orang-orang fakir maka kamu akan menjadi orang besar dan namamu akan dikenal orang.

Sesungguhnya aku telah mencapai empat puluh tahun bertempat tinggal di gua ini, aku sengaja menghindari kehidupan bersama orang banyak, tapi aku tidak pemah merasa terhindar cucuran air mata sejak tiga puluh tahun yang silam hanya karena takut satu masalah. Aku berkata: Apakah itu? Dia berkata: “Yaitu shalat, aku apabila shalat, aku menangis, aku berkata di hatiku.’

Apabila ada satu syarat yang tidak kupenuhi maka segala amal perbuatanku akan tersia-sia dan akan dikembalikan kepadaku dengan ditamparkannya ke wajahku, Apabila kamu wahai hamba yang dha’if dan membutuhkan rahmat Allah swt dapat terhindar dari tuntutan shalat kamu telah memperoleh keuntungan, namun apabila kamu tidak demikian maka usiamu akan habis dengan penuh kelalaian.

Sesungguhnya Rasulullah saw pernah melihat seorang lelaki sedang menjalankan shalat yang tidak menyempurnakan rukuknya dan bersujud sebagaimana burung mematuk, lalu Rasulullah saw bersabds ‘Seandainya orang ini meninggal dunia dalam keadaan sedemikian maka dia mati dan tidak berpegangan terhadapajaran agama Muhammad.”

Kemudian beliau saw melanjutkan sabdanya: ‘Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujud sebagaimana burung mematuk seperti orang yang lapar memakan satu kurma atau dua kurma, tidak akan mengeyangkannya.” (Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah dalam kitab shahihnya).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Allah tidak akan melihat dengan rahmat) kepada seorang hamba yang tidak menegakkan tulang rusuknya di waktu rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa yang melakukan salat di luar waktunya, tidak menyempurnakan wudhu’ untuk shalatnya, tidak bisa memperbaiki khusyuk di dalamnya, tidak melakukan rukuk dengan baik, begitu juga sujudnya maka shalat itu diselesaikan dalarn keadaan hitam lekam. tidak bercahaya, dia berkata:

Semoga kamu diabaikan oleh Allah swt sebagaimana kamu mengabaikan aku, sehingga tatkala Allah swt berkehendak maka shalat tersebut dilipat sebagaimana baju lusuh yang dilepit kemudian. ditamparkan kepada wajah orang yang memilikinya.” (Thabrani).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Wahai Fulan, apakah kamu tidak memperbaiki shalatmu, apakah seorang yang melakukan shalat tidak memperhatikan shalatnya di waktu menjalankan shalat, bagaimana cara menjalankan shalat dengan baik, sesungguhnya manfaat shalat itu hanya kembali kepada dirinya sendiri.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Ingatlah kematian di waktu kaamu menjalankan shalat, sebab sesungguhnya seorang lelaki apabila ingat kematian maka layak untuk memperbaiki salatnya. Dan bershalatlah seperti shalatnya seorang lelaki yang tidak mengira bahwa dia akan melakukan shalat berikutnya.” (HR. Addailami, hadis hasan menurut Ibnu Hajar).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Dari Abdullah bin Asysyikhir berkata: ‘Aku melihat Rasulullah saw melakukan shalat dan di dalam dadanya ada suara gemuruh seperti suara air mendidih di dalam bejana karena menangis,” (HR.AbuDawud).

Kisah Pertama

Sayyid Muinuddin Ashafwi di dalam kitab Tafsirnya Jawa miuttibyan berkata: Menurut qaul yang lebih shahih sesungguhnya khusyuk termasuk kewajiban di dalam shalat. Sofyan Ats tsaury pernah berkata: ‘Barangsiapa yang tidak bisa khusyuk di dalam shalat maka salatnya rusak.

Tuan Muhammad Al-Bakri pernah berkata: ‘Untuk bisa menjalankan khusyuk, hendaknya sering melakukan rukuk dan sujud yang panjang. Syekh Zakariya Al-Anshari berkata: “Sesungguhnya melihat tempat sujud akan lebih dekat untuk membikin suasana khusyu.”

Pernah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa beliau dalam sebagian peperangan pernah terpanah pada salah satu anggotanya, panah itupun masih melekat pada tubuhnya. Orang-orang sama bilang: ‘Apabila sebagian tubuhnya tidak dilukai atau tidak dipotong sedikit, maka panah itu tidak bisa diambil, kita pun juga khawatir pemotongan itu menyakitkan pada Amiril mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Lalu Sayyidina Ali berkata: ‘Apabila aku di tengah menjalankan shalat maka keluarkanlah. Akhirnya Ali pun melakukan salat lantas mereka memutus atau membedah anggota. tubuhnya, lantas dikeluarkan panah daripadanya. Sungguhpun demikian, Ali tidak berubah dalam menjalankan shalat. Ketika salat telah usai, lalu Ali berkata: ‘Mengapa kamu tidak mencabut panah itu.’

Lalu mereka menjawab: ‘Kami sudah mengeluarkannya. Nah pikirkan sejenak bagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam menghadap berdialog dengan Tuhannya tidak terlintas pemikiran yang lain kecuali hanya menghadap kepada Allah swt, sehingga tidak terasa bahwa salah satu anggotanya dibedah dan dikeluarkan anak panah dari kedalaman daging.

Kalau kita bandingkan dengan keadaan kita di waktu shalat sungguh jauh berbeda, kita apabila menjalankan salat senantiasa terasa terganggu oleh ketombe dan nyamuk yang menggigit, bahkan apabila di suatu saat ada lalat yang berterbangan di muka kita, kita sudah terganggu karenanya. Jadi kita tidak layak untuk dianugerahi khusyuk. Nah sekarang dimanakah kedudukan keimanan kita dibandingkan dengan kedudukan keimanan mereka?

Kisah Kedua

Diceritakan dari Zainul Abidin bernama Ali bin Husain bahwa beliau bila telah berwudu maka kulitnya menguning. Apabila mengerjakan salat, tubuhnya gemetar. Lalu ada orang yang bilang padanya mengapa kamu mengalami demikian. Lalu beliau menjawab: Sungguh celaka kamu, kepada siapakah aku menghadap, untuk siapakah aku berdialog dan mengerjakan shalat ini.

Pada suatu saat, terjadi kebakaran di rumahnya sedang beliau lagi bersujud, lantas orang-orang berkata: Wahai cucu Rasulullah, telah terjadi kebakaran, namun beliau masih meneruskan sujud, tidak bangun untuk memadamkan kebakaran di rumahnya itu. Setelah selesai shalat, lalu ada orang yang bertanya kepadanya, tentang mengapa kebakaran di rumahnya dibiarkan dan meneruskan shalatnya.

Lalu beliau menjawab: Sungguh aku tidak memikirkan api di rumahku, aku sudah tak tahan mengenang api neraka sehingga api dirumah terlalaikan. Oleh karena itu, wahai orang yang lalai dalam menjalankan shalat, kepada siapakah kamu menyembahnya dan untuk siapakah kamu berdialog, bersikaplah malu terhadap Tuhan apabila kamu menghadap pada-Nya dengan hati yang lalai, penuh dengan kenangan kegiatan dunia dan kekotorannya.

Begitu juga dihantui oleh bayangan sahwat, apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah swt yang mengontrol segala isi hatimu. Bukankah salatmu yang diterima di sisi-Nya hanya yang khusyuk, yang kamu merendahkan diri di hadapan-Nya. Oleh karena itu, menyembahlah kepada Allah swt di dalam shalatmu seolah-olah kamu melihatNya. Apabila kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah swt melihat padamu.

Apabila hatimu masih tidak dapat menjalankan khusyuk dengan uraian yang kami paparkan tadi dan anggota tubuhmu tidak bisa tenang disaat menjalankan shalat, lantaran kamu tidak mendalam untuk mengenal keagungan Tuhanmu, disaat itulah langkah yang tepat untukmu adalah perkiraan bahwa shalatmu ini dilihat oleh orang yang ternama, disegani diantara anggota keluar gamu atau margamu, dia melihatmu mengerjaka shalat.

Di saat itu, kamu mengerjakannya dengan baik dan anggota tubuhmu juga tenang. Setelah itu pikirlah lagi, renungilah dirimu, apaakah kamu tidak merasa takut kepada Allah swt penciptamu? Dia mengintai segala sepak terjangmu. Dia mengetahui segala isi hatimu. Apakah Allah swt Yang begitu hebat sifat-Nya lebih rendah menurut pandanganmu dari seorang hamba-Nya?

Sungguhpun demikian hamba itu tidak akan bisa melakukan hal yang membahayakanmu, juga tidak bisa memberikan manfaat padamu. Alangkah besar kedurhakaanmu, kebodohanmu, sungguh besar permusuhanmu kepada dirimu sendiri, lantaran kamu menganiayanya. Oleh karena itu, hanya satu langkah untukmu, obatilah hatimu dengan keterangan tersebut, barangkali shalatmu akan menjadi khusyuk.

Bukankah sudah menjadi kesepakatan diantara para ulama, bahwa tidak akan diterima di sisi Allah swt dari shalatmu kecuali yang khusyuk. Dan salat yang kamu jalankan dengan hati yang lalai sekalipun sudah dianggap sah menurut lahirnya, tapi kamu lebih membutuhkan pengampunan Allah swt lebih banyak daripada bergembira dengannya, sebab shalat yang sedemikian ini kepada siksaan lebih dekat, Tuan Ismail Al-Muqri berkata:

 

Artinya:

“Kamu menjalankar shalat tanpa hati yang khusyuk sebagaimana shalat yang lain, sudah tentu pemuda yang menjalankan sedemikian ini berhak mendapat hukuman. Kamu menyelesaikan shalat itu tanpa mengetahui keadaannya, ternyata kamu telah menambah satu rakaat setelah satu rakaat, dengan dasar kamu ingin hati-hati.

Maka celaka bagimu, kamu tahu siapakah Tuhan yang kamu ajak dialog ternyata berpaling darimu. Nah dihadapan Tuhan yang kamu berjongkok kepada-Nya ternyata kamu tidak khusyuk. Kamu berkata kepada-Nya iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu aku menyembah), tapi pikiranmu melayang ke arah lain tanpa ada sebab.

Seandainya kamu menolak kepada orang yang berdialog padarnu tapi penglihatannya tidak kepadamu, niscaya kamu mempunyal karakter yang baik, yaitu marah kepada sikap kepribadiannya yang kurang baik. Apakah kamu tidak malu kepada Tuhan yang memiliki kerajaan melihat kamu berpaling daripada-Nya wahai orang yang tidak mempunyai kepribadian yang baik.”

Wahai Tuhanku tunjukkan kami ke jalan orang yang telah mendapat petunjuk, tuntunlah aku kepada kebenaran sebagai jalanku menuju jalan yang lurus.

Penutup

Menerangkan tentang dzikir dan bacaan yang bersumber dari hadis rasul, dan dilakukan setelah shalat wajib.

 

Artinya:

“Dari Abu Umamah berkata: Dikatakan kepada Rasulullah saw:’ Do’a manakah yang lebih dikabulkan oleh Allah swt.’ Rasul menjawab: ‘Yaitu do’a yang dipanjatkan pada pertengahan malam yang terakhir dan setelah beberapa shalat wajib.” (HR. Tirmidzi).

Imam Nawawi berkata: “Para ulama telah sepakat dengan ijma’ bahwa disunahkan setelah shalat untul membaca dzikir dan do’a. Sebagian dzikir yang matsur sebagai berikut:

 

Artinya:

“Dari Barra’ ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa minta ampun pada Allah swt setelah tiga shalat wajib tiga kali, lalu membaca:

Maka dosa-dosanya diampuri, sekalipun pernah lari dari peperangan. Setelah Shalat Subuh dan Maghrib ditambah lafadh Al-Adhim.” (HR. Ibnus Sunni dan Abu Ya’la).

Disebutkan dalam sebuah Riwayat:

 

Artinya:

“Rasulullah saw apabila selesai menjalankan shalat, membaca istigfar tiga kali, lalu membaca: Ya Allah Engkau Maha Penyelamat, hanya dari-Mu keselamatan Maha Suci Engkau, wahai Tuhan yang mempunyai keagungan dan kemuliaan tidak ada Tuhan selain Allah swt Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan Bagi-Nya segala puji Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah tidak ada yang menolak terhadap apa yang Kamu berikan, dan tidak ada yang memberi terhadap apa yang Kamu cegah, tidak ada yang menolak terhadap apa yang Kamu Qadha.’ Orang yang mempunyai nasib baik tidak bisa bermanfaat di sisimu untuk menarik rezeki dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah swt Yang Maha Tinggi, Maha Agung.

Tidak ada Tuhan kecuali Allah swt, kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat dan Bagi-Nya pula keutamaan dan puji yang baik Tidak ada Tuhan kecuali Allah swt dengan rasa ikhlas kepadaNya dalam beragamasekalipunorang-orang kafirbenci.” (HR. Ibnus Sunnidan Abu Ya’la).

Rasulullah saw bersabda:

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa yang membaca tasbih tiga puluh tiga kali setelah tiap shalat wajib, mernbaca Alhamdulillah tiga puluh tiga kali, membaca Allah akbar tiga puluh tiga kali, lalu untuk menyempurnakan seratus, dia membaca:

 

Artinya:

Maka diampuni dosa-dosa kesalahannya sekalipun seperti busa air laut.” (HR. Muslim).

Rasulullah saw bersabda:

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Apabila kamu melakukan shalat fardhu, maka bacalah pada setiap selesai shalat sepuluh kali maka ditulis pahala memerdekakan budal dan ditambah lagi bacaannya setelah Shalat Subuh dan Maghrib.” (HR. Arrafi’i).

Dalam riwayat disebutkan:

 

Artinya:

“Al-Haris bin Umar meriwayatkan dari Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya surah Al-fatihah, ayat kursi, Syahidallah sampai Al-Islam, Qulillah humma hisab, ayat tersebut digantungkan. dimana antara ayat-ayat tersebut dan Allah tidak terdapat tirai. Ayat-ayat itu berkata: ‘Wahai Tuhanku, apakah kamu menurunkan kami ke bumi dan kepada orang yang durhaka kepada-Mu.’

Allah Yang Maha Tinggi berfirman: ‘Dengan nama-Ku Aku bersumpah, seseorang tidak akan mernbacamu pada tiap selesai shalat kecuali surga menjadi tempat tinggalnya sekalipun banyak dosa yang dilakukan, dia akan ditempatkan di suatu tempat yang dipagari dengan pagar kesucian.

Aku melihat kepadanya dengan dua mata-Ku yang biasanya tak dilihat orang pada setiap hari tujuh puluh kali, pada setiap hari

kebutuhan yang diperlukan akan Aku sukseskan sebanyak tujuh puluh kebutuhan, paling ringan Kuberikan pengampunan dan Aku lindungi dari seluruh musuh, orang hasud dan Aku membelanya.”

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa yang membаса ayat kursi setelah tiap shalat wajib, maka tidak menghalanginya untuk masuk surga kecuali mati! (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Rasulullah saw bersabda: “Tiga perkara, barangsiара yang datang (kepada Allah swt) dengan menjalankan tiga perkara itu, disertai keimanan, maka akan masuk ke surga melewati pintu mana yang dikehendaki, dan akan mendapat bidadari yang dikehendakinya: Orang yang mengampuni terhadap pembunuh salah satu keluarganya, Orang yang membayar hutang yang samar (terlupakan oleh pemiliknya) dan orang yang membaca qul huwallahu ahad sepuluh kali pada tiap selesai shalat.” (HR. Abu Ya’la).

Rasulullah saw bersabda:.

 

Artinya:

“Uqbah bin Amir berkata, Rasulullah saw pernah memerintahkan aku untuk membaca strah Al-Muawwidzat pada tiap selesai shalat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Ada hadis yang menerangkan: ‘Begitu juga tallil, hendaknya dibaca sepuluh kali,’

Kisah Penting

Ada seorang shaleh bernama Al-Ghaffar bin Yazid bercerita bahwa dia pernah menggali kuburan, lalu bertemu dengan seorang lelaki yang duduk di atas mimbar, di sisinya ada talam yang berisikan kurma ruthab. Lalu ahli kubur itu bilang: ‘Apakah kiamat telah tiba?” Lalu aku bilang: ‘Belum, aku berkata kepadanya demi Allah swt yang menempatkan kamu ke tempat ini.

Dengan amalan apakah kamu memperoleh keistimewaan sedemikian. Lalu dia menjawab: ‘Aku membaca pada setiap selesai shalat wajib:

 

Artinya:

“Tidak ada Tuhan selain Allah. Dengan kalimat itu aku niat untuk memperoleh keridhaan Tuhanku. Tiada Tuhan selain Allah dengan kalimat itu aku habiskan usiaku. Tidak ada Tuhan selain Allah. dengan kalimat itu aku lewati seluruh masaku. Tidak ada Tuhan selain

Allah, dengan kalimat itu aku bermaksud agar aku gembira di dalam kuburanku. Tidak ada Tuhan selain Allah, dengan kalimat itu aku berjumpa kepada’Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Allah, aku sediakan kalimat itu untuk pegangan segala sesuatu yang terjadi.”

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Dari Muadz ra sesungguhnya Rasulullah saw pernah memegang tangannya dan bersabda: ‘Wahai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku mencintaimu.’ Lalu bersabda lagi: ‘Aku berwasiat padamu wahai Muadz, janganlah kamu meninggalkan membaca pada setiap selesai shalat:

 

Artinya:

‘Ya Allah berilah pertolongan padaku untuk dzikir padamu, syukur padamu dan beribadah padamu dengan baik.” (Abu Dawud dan Nasa’i).

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

 

Artinya:

“Abu Umamah berkata: ‘Setiap aku mendekat kepada Rasulullah sw setelah selesai menunaikan satu shalat fardhu, aku mendengar beliau saw membaca:

 

Artinya:

‘Ya Allah berilah pengampunan terhadap dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku seluruhnya, ya Allah berilah semangat padaku dan cukupilah kefakiranku sehingga aku cukup dalam kehidupanku, tunjukkan aku untuk menjalankan amal perbuatan dan akhlak yang baik.

Sebab sesungguhnya tidak ada yang memberikan petunjuk kepada amal perbuatan dan akhlak yang baik itu kecuali Engkau dan tidak akan bisa memalingkan dari kejelekan amal perbuatan dan akhlak yang jelek kecuali Engkau.” (HR. Ibnus Sunni).

Disebutkan dalam riwayat:

 

Artinya:

“Dari Anas ra berkata, Rasulullah saw apabila selesai dari shalat fardhu membaca:

 

Artinya:

‘Ya Allah jadikanlah umur yang paling baik (umur yang diisi dengan beberapa perbuatan dan perkataan yang paling baik).

Sebagai akhir penutup usiaku, jadikanlah amal perbuatanku yang paling baik sebagai akhir penutup amal perbuatanku, dan jadikanlah hari yang terbaik bagiku sebagai hari aku bertemu kepadaMu (hari direngutnya nyawaku).” (HR. Ibnus Sunni).

Dalam riwayat disebutkan:

Artinya:

“Dari Abu Bakrah berkata: ‘Rasulullah saw senantiasa berkata pada waktu selesai shalat fardhu:

 

Artinya:

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran, kefakiran dan siksa kubur.’

Dalam riwayat disebutkan:

 

Artinya:

“Dari Ummu Salamah berkata: ‘Rasulullah saw apabila selesai Shalat Subuh berkata:

 

Artinya:

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, alam perbuatan yang diterima rezeki yang halal.” (HR. Ahmad).

 

Dalam Riwayat dikatakan:

 

Artinya:

“Dari Shuhaib berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah menggerakkan bibirnya setelah shalat fajar untuk mernbaca sesuatu, lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah apa yang kamu katakan ini?’ Lalu beliau menjawab: ‘Ya Allah dengan pertolongan-Mu aku berupaya, dengan pertolongan-Mu aku menyergap musuh dan dengan taufik-Mu aku berperang.” (HR. Ahmad).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Dari Al-Harts Attamimi dari Rasulullah saw, sesungguhnya beliau saw telah memberi tahu kepada Al-Harts, lalu bersabda: ‘Apabila kamu telah menunaikan Shalat Maghrib maka bacalah: ‘Ya Allah selamatkanlah aku dari api neraka, tujuh kali. Sebab sesungguhn ya kamu apabila membaca do’a itu.

Lalu kamu meninggal dunia pada malam itu maka kamu ditulis orang yang selarnat daripadanya. Dan apabila kamu telah menunaikan

Shalat Subuh maka bacalah do’a itu juga, sebab sesungguhnya kamu apabila mati pada hari itu juga maka kamu ditulis sebagai orang yang selamat daripada neraka.”

Catatan Penting

Bagi imam yang ingin mengajari para makmum hendaklah berdzikir atau berdo’a dengan suara keras. Untuk makmum disunahkan membaca dzikir dan do’a begitu juga bagiorang yang shalat sendirian. Bagi seorang yang berdo’a dan tidak pada waktu shalat atau khatib hendaklah berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya sampai kedua pundaknya, kemudian kedua tangannya itu diusapkan pada mukanya ketika selesai.

Disamping memandang ke arah langit, memulai do’anya dengan bacaan Alhamdulillah atau kalimat-kalimat yang menunjukkan pujian, begitu juga membaca shalawat pada Nabi saw, mengakhiri do’anya dengan kalimatitu juga.

Membaca amin apabila mendengar do’a dibaca. Membaca do’a dengan menghadap kiblat bagi seorang yang sendirian berdo’a atau makmum yang mengamini do’a imam. Untuk sang imam apabila berdo’a hendaknya menghadap kepada makmum. Duduk setelah Shalat Subuh sampai matahari terbit bagi imamatau makmum.

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Barangsiapa melakukan salat subuh dengan berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allal swt sehingga matahari terbit kemudian shalat dua rakaat Dhuha maka pahala amalan yang dilakukan itu sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sernpurna.” (HR. Tirmidzi dan menurutnya hadis tersebut shahih).

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Barangsiapa yang duduk di tempat shalatnya ketika selesai Shalat Subuh sehingga memaha sucikan Allah swt dengan mengerjakan Shalat Dhuha dua rakaat, dia tidak berkata selama itu kecuali kebaikan, maka kesalahan-kesalahannya diampuni, sekalipun banyaknya melebihi busa air laut.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah saw bersabda:

 

Artinya:

“Aku duduk bersama kaum yang berzikir pada Allah swt mulai Shalat Asar hingga matahari terbenam, lebih suka bagiku daripada memerdekakan budak delapan dari cucu Nabi Ismail.”

Semoga Allah swt memerdekakan kita dari api neraka dan mengampuni dosa dan kesalahan kita, memperbaiki amal perbuatan kita yang jahatdan semoga Allah swtmenerima amal baik kitadengan anugerah-Nya. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR