Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (11): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (11): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian kesebelas ini memuat Terjemah dari Bab (2): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

11 Tiga Faktor yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kekasih Allah SWT

 

Nabi Ibrahim a.s. pernah ditanya:

“Gerangan apakah yang menyebabkan Allah menjadikan engkau kekasih-Nya?” Nabi Ibrahim menjawab: “Sebab tiga hal: yaitu, saya memilih urusan Allah ketimbang urusan yang lam, saya tidak pernah gundah terhadap apa-apa yang telah ditanggung oleh Allah untukku dan saya tidak pernah makan malam maupun makan siang, melainkan bersama tamu.”

Dalam suatu riwayat dinyatakan, bahwa Nabi Ibrahim sering pergi sejauh satu-dua mil hanya untuk mencari orang yang diajak makan bersama (di rumahnya).

 

12. Tiga Perkara yang Menyirnakan Kegalauan

 

Dari sebagian hukama:

“Tiga hal dapat menghilangkan kegalauan, yaitu: Menginga Allah Ta’ala, menemui wali-wali Allah dan ucapan hukama.”

Mengingat Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya membaca Tahlil, Haugalah, atau Munajat.

Dalam munajat dapat membaca:

“Wahai, Tuhan, Penolong setiap orang yang merana, yang menyeru kepada-Nya. Wahai, Tuhan yang mengabulkan setiap doa orang sengsara, wahai, Tuhan Yang Maha Bijaksana terhadap setiap orang yang bersalah dan durhaka, wahai, Tuhan yang mencukupi setiap orang yang mementingkan-Mu ketimbang dunianya, aku mohon kepada-Mu untuk dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat aku gapai tanpa pertolongan-Mu, dapat menolak sesuatu yang tidak mampu aku menolak tanpa kekuatan-Mu dan aku memohon kepada-Mu kebaikan yang penuh sejahtera dan kesejahteraan yang penuh kebaikan, wahai, Tuhan Yang Maha Pengasih di atas semua yang mempunyai belas kasih.”

Adapun para wali Allah, ialah ulama dan salihin. Ucapan hukama ialah petuah mereka yang berisi petunjuk untuk memperoleh kebaikan dunia akhirat.

 

13. Adab, Kesabaran dan Warak

Dari Al-Hasan Al-Basri, salah seorang ulama besar generasi tabiin menyatakan:

“Barangsiapa tidak beradab, maka tidak berilmu: barangsiapa tidak punya kesabaran, berarti ia tidak punya agama, dan barangsiapa tidak punya warak, berarti dia tidak mempunyai kedudukan di dekat Tuhan.”

Adab di sini, meliputi adab (sopan santun) terhadap Allah dan adab terhadap sesama manusia. Orang tidak beradab itu tidak berilmu, artinya ilmunya tidak berfungsi lagi.

Kesabaran di sini adalah ketabahan dalam menghadapi bencana dan kezaliman sesama manusia, juga ketabahan dalam menyingkirkan maksiat dan dalam melaksanakan perintah agama.

Warak adalah kesanggupan diri untuk meninggalkan sesuatu yang haram dan sesuatu yang tidak jelas halal-haramnya.

 

14. Takut kepada Allah, Mengendalikan Lisan dan Selektif Terhadap Makanan

 

Diriwayatkan, bahwa seseorang dari Bani Israel telah pergi menuntut ilmu keluar negeri. Berita itu pun telah sampai kepada Nabi mereka saat itu. Kemudian ia pun dipanggil dan setelah menghadap, lalu sang Nabi itu bersabda:

“Wahai, pemuda, sesungguhnya aku akan menasihatimu dengan tiga perkara yang di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang zaman akhir, yaitu kamu harus takut kepada Allah, baik secara rahasia maupun secara terang-terangan, tahanlah lisanmu dari menjelekkan makhluk, janganlah kamu menceritakan mereka selain kebaikannya dan lihatlah rotimu yang akan kamu makan, sehingga jelas kehalalannya.”

Setelah itu, ternyata pemuda tersebut mengurungkan kepergiannya menuntut ilmu di luar negeri.

 

15. Tiga Faktor Penting yang Menyebabkan Ilmu Bermanfaat

Diriwayatkan, bahwa seseorang dari kaum Bani Israel telah mengumpulkan buku sebanyak delapan puluh peti yang berisi ilmu, namun tidak bermanfaat baginya, maka Allah swt. memberi wahyu . kepada Nabi mereka, agar menasihati orang tersebut:

“Apabila kamu mengumpulkan lebih daripada itu pun, niscaya tidak akan bermanfaat kepadamu selain kamu mengerjakan tiga perkara: yaitu kamu mencintai dunia karena dunia itu bukanlah balasan bagi orang-orang mukmin, janganlah kamu berteman dengan setan karena dia bukanlah teman orang-orang mukmin dan janganlah kamu menyakiti seseorang karena hal itu bukanlah perbuatan orang-orang mukmin.”

Tempat kesenangan orang mukmin itu bukanlah dunia, tapi akhirat. Sedang yang dimaksud dengan menemani setan, adalah mengikuti ajakan dan bujukarinya, sehingga akan menyelisihi aturan syarak. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR