Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (14): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (14): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian keempat belas ini memuat Terjemah dari Bab (2): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

26. Cinta, Takut dan Malu kepada Allah

 

Allah telah menurunkan wahyu kepada sementara para Nabi, “Barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dalam keadaan cinta kepada Ku, maka Aku masukkan dia ke surga-Ku. Barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dalam keadaan takut kepada-Ku, maka Aku jauhkan dia dari neraka-Ku. Dan barangsiapa yang bertemu kepada-Ku sebab ia mati dalam keadaan malu kepada-Ku, maka Aku jadikan malaikat (pencatat amal) lupa terhadap dosa-dosa orang itu.”

Yang dimaksud “cinta kepada-Ku”, yaitu rindu untuk menghadap Allah SWT dan senang memperoleh pahala-Nya. Takut kepada Allah ialah takut terkena siksa-Nya. Sedang malu kepada Allah SWT, karena merasa membawa beban dosa. Adapun yang dimaksud dengan menemui Allah di sini, adalah mati.

 

 

 

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., “Tunaikanlah apa yang telah difardukan oleh Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah, jauhilah larangan-larangan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling zuhud dan puaslah dalam menerima bagianmu dari Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya.”

 

 

Shaleh Al-Marqidi r.a. suatu hari lewat pada suatu daerah yang telah tiada penduduknya, lalu dia bertafakur mengenang-mengenang daerah tersebut, “Wahai, perkampungan! Di manakah para penghunimu dahulu, di manakah orang-orang yang membangunmu dahulu dan di manakah penduduk-penduduk yang terdahulu? Kemudian ada yang bersuara: Jejak mereka telah terputus, jasad-jasad di dunia, segala amal yang kita lakukan selalu menemani kita, sekalipun dunia telah hancur.”

 

 

 

Dari Ali r.a., “Berikanlah jasa kepada siapa saja, maka engkau pun menguasainya, mintalah kepada siapa saja, niscaya engkau pun dikuasainya dan cukuplah dirimu sendiri dari siapa saja, maka engkau seimbang dengannya.”

Apabila anda berbuat baik kepada seseorang, maka anda akan menguasai orang itu. Sebaliknya, apabila anda justru minta sesuatu kepada orang lain, baik harta maupun jasa, maka anda akan dikuasainya. Karena jiwa seseorang itu mempunyai pembawaan untuk selalu menyenangi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Barangsiapa mencintai sesuatu, maka orang itu menjadi tawanannya.”

Sayidina Ali r.a. pernah berkata, “Aku adalah budak seseorang yang mengajarku satu huruf, terserah dia akan menjual aku atau memerdekakanku.”

Kesanggupan untuk membatasi kecukupan diri dengan apa yang dimilikinya dan tidak memerlukan lagi pada milik orang lain, adalah merupakan kekayaan diri. Jika anda tidak lagi memerlukan milik orang lain, maka berarti anda telah sebanding dengannya.

 

 

 

Dari Abu Zakaria, Yahya bin Mu’adz r.a., “Meninggalkan dunia seluruhnya, berarti mengambil akhirat semuanya. Barangsiapa meninggalkannya seluruhnya, berarti mengambil akhirat semuanya. Barangsiapa mengambil dunia seluruhnya, berarti ia meninggalkan akhirat semuanya. Maka pengambilan akhirat berada dalam meninggalkan dunia dan meninggalkan dunia berada dalam pengambilan akhirat.”

Memang demikian, sebab dunia dan akhirat itu ibarat dua hal yang masing-masing saling bertentangan. Oleh karena itu, barangsiapa yang berpaling dari dunia dengan sepenuhnya, maka dia mencintai akhirat: dengan sepenuhnya. Barangsiapa mencintai dunia dengan sepenuhnya, berarti dia juga dengan sepenuhnya berpaling dari akhirat. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Resensi Kitab: Adabul Mufrad
Oleh : Immim pangkep

Resensi Kitab: Adabul Mufrad

0 Komentar

KELUAR