Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (29): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (29): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua Puluh Sembilan ini memuat Terjemah dari Bab (4): Nasehat yang Berisi Lima Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

6. Tanda Orang yang Bertakwa Ada Lima

 

Dari Utsman r.a., “Lima tanda orang yang bertakwa, yaitu pertama, tidak duduk bersama selain dengan orang yang menjadi baik agamanya bila bersama orang tersebut dan bisa menahan kemaluan dan ucapannya: kedua, apabila – ditimpa sesuatu yang berat di dunianya, dia melihat akan bahayanya: ketiga, apabila ditimpa sedikit saja dari agamanya, dia menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang menguntungkan: keempat, tidak memenuhi perutnya dengan barang halal karena takut bercampur dengan barang haram, kelima, memandang bahwa orang lain selamat dan memandang dirinya sendiri celaka.”

Menurut Utsman, ada lima tanda orang yang bertakwa:

1. Berteman dengan orang yang saleh dan menjaga dirinya dari kebinalan nafsu seks dan ucapannya.

2. Jika ditimpa musibah mengenai dunia, maka dia melihat akibat buruknya,

3. Jika ditimpa sedikit mengenai akhirat, maka dia berkeyakinan bahwa hal itu suatu keuntungan yang besar.

4. Perutnya tidak dipenuhi dengan perkara yang halal karena takut dicampuri yang haram.

5. Melihat bahwa orang lain selamat dari kecelakaan karena mereka beribadah kepada Allah swt. dengan baik, namun dia melihat dirinya sendiri berada dalam kecelakaan karena dosa yang timbul dari kejelekan ibadahnya kepada Allah swr. Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat orang-orang takwa sampai ia mau meninggalkan sesuatu yang tidak berbahaya bagi dirinya, karena khawatir jangan-jangan berbahaya.” (H.R. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

 

 

Dari Ali r.a., “Andaikan tiada lima perkara, niscaya seluruh manusia itu saleh, yaitu puas dengan kebodohannya, rakus terhadap dunia, kikir memberikan kelebihan yang ada, riya. dalam beramal dan membanggakan kehebatan akalnya.”

Kebodohan di sini, adalah kebodohan dalam pengetahuan agama. Tentang puas menjadi orang bodoh, Nabi bersabda, “Allah murka terhadap setiap ilmuwan dunia, tetapi bodoh ilmu-ilmu akhirat.” (H.R. Al-Hakim).

Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Dosa orang alim satu, tapi dosa orang bodoh terhitung dua.” (H.R, Ad-Dailami).

Tentang rakus terhadap dunia, Nabi saw. bersabda, “Zuhud terhadap dunia akan menjadikan hati dan badan enak,: sedang cinta padanya akan menjadikan hati dan badan lelah.”

Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya beliau saw. juga bersabda:

“Alangkah baiknya dunia bagi orang yang menjadikannya bekal untuk akhiratnya, hingga dia diridai Tuhannya dan alangkah jeleknya dunia bagi orang yang dihalangi olehnya dari akhiratnya dan dicegah dari rida Tuhannya.” (H.R. Al-Hakim).

Yang dimaksud dengan riya dalam beramal, ialah berbuat yang tanpa didasari ikhlas, atau berbuat karena mengharapkan sesuatu dari selain Allah Ta’ala. Dalam hai ini Nabi saw. bersabda:

“Orang yang paling dahsyat siksanya di hari Kiamat, ialah orang yang memberitahukan kepada orang, bahwa dalam dirinya ada kebaikan, padahal tidak ada.” (H.R. Ad-Dailami).

Pada hadis lain diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang pamer diri kepada orang lain tentang ketakwaan lebih dari yang ada pada dirinya, maka dia adalah orang yang munafik.” (H.R. Bukhari)

Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi semua orang yang riya.” (H.R. Abu Nu’aim).

 

 

Dari jumhur ulama -semoga rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah memuliakan Nabi-Nya, yaitu Muhammad saw. dengan lima kemuliaan, yaitu Dia memuliakannya dengan nama, jasmani, pemberian, kesalahan dan keridaan. Kemuliaan dengan nama, ialah Dia menyerunya dengan sebutan Rasul, tidak dengan namanya, sebagaimana Dia menyeru nabi yang lain, seperti Adam, Nuh, Ibrahim dan lain-lainnya. Kemuliaan dengan jasmani, ialah apabila Nabi memohon sesuatu, maka Dia mengabulkannya secara langsung dan hal itu tidak Dia lakukan kepada para nabi lain. Kemuliaan dengan pemberian, ialah Dia memberi kepadanya tanpa permintaan darinya. Kemuliaan dengan kesalahan, ialah Dia telah memaafkannya sebelum berbuat dosa. Dan kemuliaan dengan keridaan, ialah Dia tidak menolak fidyah, sedekah dan nafkahnya, sebagaimana Dia menolak hal itu dari nabi lain.”

Para nabi selain Muhammad, selalu dipanggil dengan menyebut namanya, semacam Nabi Adam, Nuh, Ibrahim dan lainnya. Tapi Muhammad tidak pernah dipanggil namanya, melainkan dengan sebutan Rasul, sebagaimana dalam ayat, “Wahai, Rasul, tabligkanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu.”

Demikian dalam saat turun wahyu. Datam waktu perjuangan pernah beliau dipanggil dengan sebutan namanya, yaitu di kala Mikraj, Allah berfirman, “Wahai, Muhammad, mintalah engkau pasti akan diberi.”

Kemuliaan dengan jasmani, ialah apabila Nabi saw. memohon sesuatu, maka Allah swt. menjawabnya dengan Zat-Nya dan itu tidak Dia lakukan terhadap para nabi lain, seperti Nabi saw. mengembalikan mata Qatadah setelah matanya itu jatuh ke pipinya, Nabi memohon kepada Allah swt. agar mata Qatadah yang jatuh ke pipinya dikembalikan lagi seperti semula, dan Allah mengabulkan permintaannya itu.

Kemuliaan dengan pemberian, ialah Nabi dikarunia anugerah tanpa memintanya, sebagaimana Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami memberi kepadamu anugerah yang besar.” (Q.S. Al-Kautsar: 1).

Dalam firman-Nya yang lain, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hatimu menjadi puas.” : (Q.S. Adh-Dhuha: 5).

Kemuliaan dengan kesalahan, ialah Allah swt. telah memaafkannya sebelum berbuat dosa. Allah telah memaafkan segala sesuatu yang terjadi padanya, yaitu meninggalkan yang lebih utama dan lebih pantas dan bukan dosa seperti yang kita lakukan.-Allah berfirman, “Allah mengampuni kesalahan darimu. “

Tentang tidak bakal ditolaknya fidyah maupun sedekah dan nafkah Nabi, sebagaimana terbukti pada binatang kurban yang beliau keluarkan atas nama segenap umatnya, juga pernah membayar kafarat untuk umatnya, karena bersetubuh pada siang hari di bulan Ramadan.

 

 

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ashr.a., “Lima hal, jika dimiliki seseorang, maka ia berbahagia di dunia dan di akhirat, yaitu pertama, menyebut ‘Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ dari waktu ke waktu: kedua, jika diterima bencana, menyebut: ‘Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, wa laa haula wa laa guwwata illaa billaa hil ‘aliyyil ‘azhiim: ketiga, jika dianugerahi nikmat, menyebut: ‘Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin’ sebagai mensyukuri nikmat tersebut: keempat, bila memulai sesuatu, mengucap: ‘Bismillaahir rahmaanir rahiim’: dan kelima, jika terlanjur berbuat dosa, mengucap ‘Astaghfirullaahal ‘azhiim wa atuubu ilaih’.”

Tentang kalimat, “Tiada Tuhan melamkan Allah Muhammad adalah utusan Allah”,

adalah sebagaimana sabda Nabi saw., “Perbanyaklah zikir kepada Allah -Azza wa Jallapada setiap keadaan, karena tidak ada amal yang paling disukai oleh Allah dan lebih dapat menyelematkan hamba dari kejelekan di dunia dan akhirat, selam zikir kepada Allah.”  (H.R. Ibnu Sharshari).

Tentang kalimat:

“Sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepadanya kita akan kembali: Tiada daya upaya dan tiada kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung”,

adalah sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Janganlah memperbanyak ucapan. selain zikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak ucapan yang bukan zikir kepada Allah itu akan menjadikan hati keras dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang hatinya keras.” (H.R. At-Tirmidzi). .

Tentang kalimat:

“Segala puji bagi Aliah Tuhan semesta alam”, . sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi saw.:

“Ucapan yang paling disukai Allah ada empat, yaitu: ‘Subhaanallaah’, ‘walhamdu lillaah’, ‘wa laa ilaaha illallaah’, ‘wallaahu akbar’ dan boleh saja kamu mulai membacanya dari mana pun.” (H.R. Muslim dan An-Nasai).

Dalam hadis lain Nabi bersabda:

“Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu akbar’, ucapkanlah:. ‘Subhaanallaah walhamdu lillaah’ dan ucapkanlah “Tabaarakallaah’.

Maka sesungguhnya kelima kalimat ini tiada sesuatu pun yang menandinginya.” (H.R. Ibnu Sharshari).

Adapun mengucapkan “Bismillaahir rahmaanir rahiim” apabila memulai sesuatu perbuatan, Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap perkara yang mempunyai tingkah yang baik, jika tidak dimulai dengan menyebut asma Allah, maka perkara itu terputus (tidak membawa berkah).” (H.R. Ibnu Hibban). ‘

Adapun mengucapkan ‘Astaghfirullaahal ‘azhiim wa atuubu ilaihi’, apabila terlanjur berbuat dosa. Anas bin Malik r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Apakah aku perlu memberitakan kepadamu penyakitmu dan obat ‘ untukmu? Sesungguhnya penyakitmu adalah dosa-dosa, dan obat untukmu adalah istigfar.” | (H.R. Ad-Dailami).

Pada hadis lain, Ibnu Abbas r.a. menyatakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa yang membiasakan istigfar, maka Allah menjadikan baginya keluar dari setiap kesempitan, terbuka dari setiap kesusahan, dan Dia memberi rezeki kepadanya dengan tidak disangka-sangka.” (H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Abu Bakar r.a. juga, dari Nabi saw., beliau bersabda:

“Kamu harus selalu membaca ‘Laa ilaaha illallaah’ dan istigfar, perbanyaklah itu, karena sesungguhnya iblis berkata: Aku telah merusak manusia dengan dosa-dosa, namun mereka telah merusakku dengan ‘Laa ilaaha illallaah’ dan istigfar, ketika aku melihat hal itu, maka aku merusak mereka dengan keinginan-keinginan nafsunya, dan mereka menduga bahwa mereka mendapatkan petunjuk.” (H.R: Imam Ahmad dan Abu Ya’!a).

Al-Faqiih Abu Laits berkata: “Barangsiapa yang memelihara tujuh kalimat, maka di sisi Allah dan para malaikat-Nya, dia adalah orang yang mulia, dan Allah mengampuni dosa-dosanya, walaupun keadaan dosa itu laksana buih lautan, dia akan menemukan manisnya taat, dan keadaan hidup serta matinya menjadi kebaikan.” Kalimat tersebut adalah:

  1. Ketika memulai sesuatu dia membaca Basmalah.

2. Ketika selesai melakukan sesuatu, dia membaca Hamdalah.

3. Ketika terlanjur mengucapkan perkataan yang tidak berguna, dia membaca Astaghfirullah.

4. Jika dia ingin melakukan sesuatu, dia mengucapkan insya Allah.

5. Jika dia ditimpa suatu perbuatan yang tidak disukai, dia mengucapkan ‘Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim’.

6. Manakala terkena musibah, dia mengucapkan ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.

7. Pada waktu malam dan siang, lisannya senantiasa membaca kalimat ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah’.

 

 

Dari Al-Hasan Al-Bashri -semoga Allah memberi rahmat kepadanya-, dia berkata, “Ditulis dalam kitab Taurat lima huruf, yaitu sesungguhnya kecukupan berada dalam qanaah, sesungguhnya keselamatan berada dalam ‘Uzlah, sesungguhnya kehormatan berada dalam meninggalkan syahwat, sesungguhnya kenikmatan berada dalam hari-hari yang panjang, dan sesungguhnya kesabaran berada dalam hari-hari yang sedikit.”

Qanaah, ialah puas dengan bagian dari Allah, dan tetap seperti itu jika tidak mendapat sesuatu yang diharapkan. Uzlah, ialah sengajz mengasingkan diri dari pergaulan manusia. Sedangkan sabar di sini, ialah ketabahan dalam menanggung beban selagi menunaikan perintah agama, dirundung musibah dan beban selagi menghindari larangan agama. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Materi Dasar-dasar Menulis
Oleh : Immim pangkep

Materi Dasar-dasar Menulis

0 Komentar

KELUAR