Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 4 (3)

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 4 (3)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

6. Kisah Seorang Laki-laki yang Jujur 

Rasulullah saw. bercerita tentang seorang laki-laki dari Bani Israel yang minta dipinjami 1000 dinar oleh seorang yang lain dari Bani Israel juga. Orang itu berkata: “Berilah aku saksisaksi, agar mereka menyaksikannya.” Orang itu berkata: “Cukuplah Allah menjadi saksi.” Pemilik uang itu berkata: “Berilah aku penjamin.” Orang itu berkata: “Cukup Allah sebagai penjamin.” Pemilik uang itu berkata: “Engkau benar”. Kemudian dia menyerahkan uang tersebut kepadanya hingga waktu tertentu, lalu peminjam itu berlayar dan menyelesaikan keperluannya. Setelah itu, dia mencari kapal untuk dinaikinya menuju pemilik uang, guna melunasi hutangnya dalam waktu yang telah ditentukan.

Namun, dia tidak mendapatkan kapal. Maka, dia pun mengambil sepotong kayu dan melubanginya, kemudian memasukkan uang 1000 dinar dan selembar surat kepada temannya. Lalu dia mengatur letaknya dan membawa kayu . itu ke laut seraya berkata: :

“Wahai Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku meminjam uang 1000 dinar dari si Fulan, oleh karena itu, aku mohon penjamin. Maka aku berkata: “Cukuplah Allah sebagai penjamin.’ Dia pun setuju dengan-Mu. Dia minta saksi dariku, lalu aku katakan: “Cukup Allah sebagai saksi.” Maka dia pun setuju dengan-Mu. Aku telah berusaha mendapatkan sebuah kapal untuk mengirimkan uang miliknya. Namun, aku tidak mampu. Sekarang aku titipkan uang itu kepada-Mu.” Kemudian dia melemparkannya ke laut hingga terapung-apung di atasnya. Kemudian orang itu pergi, sementara dia mencari sebuah kapal untuk berlayar menuju negerinya.

Orang yang meminjami uang keluar ke tepi laut untuk melihat, barangkali ada sebuah kapal datang membawa uangnya. Tiba-tiba, datanglah sepotong kayu yang di dalamnya berisi uang. Maka, dia pun mengambilnya sebagai kayu bakar buat keluarganya. Ketika dia menggergajinya, ia menemukan uang dan surat.

Tidak lama, datang orang yang meminjam uang darinya. Dia membawa 1000 dinar. Orang itu berkata: “Demi Allah, aku tetap berusaha mencari sebuah kapal untuk membawa uang kepadamu. Namun aku tidak menemukan kapal sebelum waktu keberangkatanku kemari.” Pemilik uang itu berkata: “Apakah kamu telah mengirimkan sesuatu kepadaku?” Peminjam uang itu berkata: “Kuberitahukan kepadamu, bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum waktu keberangkatanku kemari.” Pemilik uang itu berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyampaikan uangmu yang kamu kirimkan di dalam sepotong kayu. Pergilah dengan uang 1000 dinar itu dengan benar.” (H.R. Bukhari).

7. Berbuat Benar dan Berdusta 

1. Berbuat benar merupakan dasar akhlak dan tonggak adab serta sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. Macam perbuatan yang benar sangat banyak. Yang paling tersohor dan menonjol ialah pemberitahuan tentang hal-hal yang sebenarnya, baik dengan lisan, tulisan ataupun isyarat, misalnya, menggoyangkan kepala dan memberi isyarat dengan tangan serta dilakukan dengan diam.

Apabila kamu melihat seorang murid melakukan perbuatan yang patut dihukum, lalu guru menghukum anak lain secara tidak disengaja, sedangkan kamu diam, maka yang demikian itu dianggap dusta. Berkata benar ialah apabila kamu berterus terang kepada guru tentang siapa yang berhak dihukum.

Termasuk macam-macamnya: bersikap benar dalam niat dan keinginan, berbuat benar dalam tekad dan melaksanakan maksud, bersikap benar dalam perbuatan serta berbagai urusan agama. Bersikap benar dalam niat ialah: Apabila kamu tidak mempunyai pendorong dalam gerak dan diam, kecuali Allah, dan bukan karena menurut hawa nafsu. Inilah makna ikhlas, dan kebalikannya adalah riya’.

Bersikap benar dalam tekad ialah: Apabila kamu mempunyai kemauan yang benar untuk melakukan berbagai kebaikan dan tidak memiliki kecondongan maupun kebimbangan, misalnya, kamu bertekad memanfaatkan iImumu kepada orang lain, jika Allah mengaruniai ilmu. ‘

Penyair berkata: Apabila kamu mempunyai pendapat, hendaklah kamu mempunyai tekad, karena pendapat yang buruk adalah bila kamu bimbang. Berbuat benar dalam melaksanakan maksud ialah: Apabila kamu bertekad melakukan, kemudian melaksanakannya dan tidak mundur darinya. Misalnya, kamu katakan: “Apabila Allah mengaruniaiku harta, aku akan menyedekahkannya.” Maka, janganlah kamu mundur dari sedekah, apabila kamu mendapat harta.

Bersikap benar dalam perbuatan, ia:ah: Apabila kamu tidak menampakkan perbuatan-perbuatan yang berlainan dengan isi hatimu. Misalnya, memperlihatkan sikap khusyu’ ketika shalat, padahal hatimu lalai, dan berjalan dengan sikap tenang dan wibawa, sedangkan hatimu tidak bersifat begitu. Maka, berusahalah menjadikan batinmu seperti lahirmu, atau lebih dari pada lahirmu. Dalam hadits disebutkan: “Ya Allah, jadikan batinku lebih baik daripada lahirku dan jadikan lahirku suatu kebaikan.”

Bersikap benar dalam berbagai amalan agama, misalnya, bersikap benar dalam pengesaan terhadap Allah, sangat berhati-hati dari syirik yang serendah-rendahnya, bersikap benar dalam rasa takut atas siksa Allah dan harapan akan pahala-Nya, itulah yang dianjurkan. Di samping itu, hendaklah kamu bersikap benar dalam kecintaan dan keridhaan serta tawakal kepada-Nya dalam segala urusanmu.

2. Agama telah memerintahkan kita agar berbuat benar dalam semua perkataan dan keadaan, walaupun hal itu menimbulkan bahaya bagi kita, misalnya Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119).

Dalam hadits dijelaskan: “Berusahalah berbuat benar, walaupun kamu lihat bahwa di dalamnya terdapat kebinasaan, karena pada hakikatnya terdapat keselamatan. Jauhilah dusta, walaupun kamu lihat bahwa di dalam dusta terdapat keselamatan, karena pada hakikatnya terdapat kebinasaan.”

Agama sangat melarang kita berdusta. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl:105). Dalam ayat lain diterangkan: “…. agar kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang pendusta.” (QS. Ali. Imran:61).  Dalam hadits yang lalu diterangkan, bahwa ia termasuk tanda orang munafik.

Dalam hadits lain: “Hendaklah kamu berkata benar, karena kebenaran menyebabkan kebajikan, dan kebajikan menyebabkan masuk surga. Ada orang yang selalu berkata benar dan berusaha berbuat benar hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq (pembenar). Janganlah kamu berdusta, karena dusta menyebabkan kedurjanaan, dan kedurjanaan menyebabkan masuk neraka. Apabila hamba selalu berdusta, maka dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”

3. Alangkah indahnya perkataan yang benar! Dan alangkah bahagianya manusia yang berkata benar. Dia hidup bahagia dan terhormat serta dipercaya di antara masyarakat. Apabila berbicara, orang-orang membenarkan perkataannya karena mereka tidak menuduhnya berdusta. Alangkah buruknya kedustaan itu, karena ia adalah pokok setiap dosa dan penyebab setiap kejahatan serta sumber setiap kesengsaraan dan kehinaan. Pendusta itu lebih keji dari pada pencuri, karena pencuri adalah mencuri hartamu, sedangkan pendusta adalah mencuri akalmu.

Penyair berkata: Aku mampu menghadapi orang yang mengadu domba, sedang terhadap pendusta aku tidak berdaya, Siapa berbohong dalam apa yang dikatakan, maka sedikitlah dayaku terhadapnya, Alangkah sengsaranya manusia yang berdusta dalam perkataannya. Dia telah kehilangan kepercayaan manusia terhadapnya dan tidak berharga sedikit pun di sisi mereka, Mereka enggan berteman dengannya dan tidak mempercayai mengenai segala sesuatu, walaupun dia benar.

Sebagaimana kata penyair: Engkau berdusta dan orang yang berdusta, maka sama balasannya bila ia berkata benar, tidaklah ia dipercaya. Penyair lain berkata: Apabila manusia dikenal suka berdusta, ja pun tetap dianggap pendusta oleh masyarakat, walaupun berkata benar/Jika dia berkata, teman-teman duduknya tidak memperhatikan dan tidak mendengar omongannya, walaupun dia bicara/Apabila kamu melakukan kesalahan, maka akuilah kesalahanmu, walaupun ayah atau gurumu marah kepadamu. Janganlah kamu mengemukakan alasan atas kesalahan itu secara dusta.

Semoga Allah membalas kebaikan penyair yang berkata: Hendaklah kamu berkata benar, walaupun kebenaran itu membakarmu dengan api ancaman, Carilah ridha Tuhan, karena manusia yang paling dungu jalah yang membuat murka Tuhan dan mencari kerelaan para hamba-Nya.

4. Dusta adalah penyakit yang jahat. Apabila manusia terbiasa melakukannya, sulitlah baginya untuk melepaskannya. Sebagaimana kata Yahya bin Khalid: “Kami melihat peminum khamar berhenti, dan pencuri mengakhiri per, buatannya, serta pelaku perbuatan-perbuatan keji bertobat tetapi kami tidak melihat pendusta berubah menjadi orang yang benar”.

Penyair berkata:

Biasakan lisanmu berkata benar, maka kamu pun menjadi benar.

Sesungguhnya lisan itu terbiasa dengan apa yang kamu biasakan.

la bertugas menurut apa yang kamu buat dalam kebaikan dan keburukan, maka lihatlah, bagaimana kamu membiasakannya.

Oleh sebab itu, waspadalah agar jangan mudah berdusta dalam pembicaraan atau senda guraumu. Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, walaupun dia bergurau.”

Dan janganlah kamu berdusta, walaupun terhadap anak kecil. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa berkata kepada anak kecil: ‘Kemarilah, ambil ini’, kemudian dia tidak memberinya, maka itu adalah dusta.” Ini adalah ajaran dari Rasul saw. bagi setiap orang yang mengurusi pendidikan anak-anak, hingga mereka menjadi besar di atas kebenaran sejak mereka kecil dan tidak menganggap dusta sebagai dosa kecil.

Allah Ta’ala berfirman: “…. dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia di sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur:15)

5. Termasuk dusta pula ialah kecurangan dan ingkar janji, kesaksian palsu, dusta mengenai nasab (keturunan). dusta mengenai mimpi, dusta dalam sumpah dan buruk Sangka. Nabi saw. bersabda: “Maukah aku beritahukan tentang dosa terbesar?” (diulang tiga kali). Kami menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada ibu-bapak dan membunuh jiwa.” Tadinya beliau bersandar, lalu duduk dan bersabda: “Ketahuilah, dan perkataan dusta: ketahuilah, dan kesaksian palsu.” Beliau terus mengulanginya hingga kami katakan: “Semoga beliau diam.” Beliau bersabda lagi:

“Sesungguhnya termasuk dusta terbesar adalah apabila seseorang mengaku anak dari selain bapaknya, mengatakan melihat sesuatu yang tidak dilihatnya atau mengatakan sebagai perkataanku, padahal aku tidak mengatakannya.”

Dusta terhadap Rasul saw. adalah macam dusta paling besar. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Sesungguhnya dusta terhadap diriku, tidaklah seperti dusta terhadap seseorang. Maka, barangsiapa berdusta terhadapku dengan sengaja, biarlah dia menduduki tempatnya di dalam neraka.”

Mengenai larangan berburuk sangka dan bersumpah dusta dikatakan dalam hadits: “Janganlah kamu berburuk sangka, karena sangkaan itu adalah pembicaraan paling dusta. Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya.” Kemudian seorang laki-laki berkata kepadanya: “Walaupun sesuatu yang sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Meskipun sebatang kayu arok.”

6. Kebenaran itu menyebabkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia, maka lihatiah (perhatikanlah) para dokter, pedagang dan tukang, apabila mereka bertindak benar dalam pekerjaannya, bagaimana orang-orang mencintai dan mempercayai mereka! Mereka pun mendapat keuntungan besar. Kebalikan dari itu adalah dusta. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Dusta itu mengurangi rezeki.”

Kebenaran juga menyebabkan pahala yang banyak dan kenikmatan yang kekal di akhirat. Sebagaimana tersebut dalam Al-Our’an: “Allah berfirman: Ini adalah suatu hari ‘ yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengali, sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, selama, lamanya: Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (QS. Al-Maidah:119).

8. Beberapa Kisah dari Orang yang Berkata Benar dan Dusta

1. Kaab bin Malik Al-Anshari ra. terlambat dari mengikuti Perang Tabuk, padahal dia telah bertekad untuk berangkat, tetapi dia menunda-nunda dan menangguhkan tekad hingga hilang kesempatannya, kemudian sampailah berita kepadanya, bahwa Rasulullah saw. telah kembali dari Tabuk. Maka, dia pun sangat sedih dan bermaksud mengemukakan alasan dusta atas keterlambatannya. Akan tetapi dia memerangi nafsunya. Maka, dia membulatkan tekadnya untuk berkata benar dan menceritakan secara terus terang, bahwa dia tidak mempunyai alasan sedikit pun atas tertinggalnya dalam mengikuti peperangan. Maka Nabi saw. memaafkannya dan turunlah ayat mengenai tobatnya dalam Al-Our’an. Hal itu berkat kebenarannya dan dia tetap dalam keadaan yang menyatakan kebenaran serta tidak pernah dengan sengaja melakukan dusta, Kisahnya panjang dan telah tersebut dalam kitab-kitab sejarah.

2, Disebutkan dalam hadits, bahwa Tsa’labah bin Hathib berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia mengaruniai aku harta.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Tsa’labah, sedikit harta yang kamu syukuri adalah lebih baik dari pada banyak harta, tetapi tidak mampu kamu syukuri.”

Tsa’labah memohon lagi kepadanya dan berkata: “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya Dia mengaruniai aku harta, tentu aku berikan hak setiap orang yang mempunyai hak.” Kemudian Rasulullah saw. mendoakannya. Lalu dia memelihara kambing. Kambingnya berkembang biak dengan cepat seperti ulat (cacing), hingga kota Madinah terasa sesak karenanya. Maka, Tsa’labah pun tinggal di sebuah lembah dan terputus dari shalat jamaah dan Jumat, lalu Rasulullah saw. menanyakan tentang keadaannya. Maka dijawab oleh sahabat: “Hartanya menjadi banyak. hingga tidak cukup ditampung dalam sebuah lembah.” “ Rasulullah saw. berkata: “Ah! Celakalah Tsa’labah.”

Kemudian, Rasulullah saw. mengutus dua orang pemungut sedekah untuk mengambil sedekah. Lalu orangorang menyambutnya dengan memberikan sedekah mereka. Kedua orang itu singgah di rumah Tsa’labah untuk meminta sedekah darinya dan membacakan kepadanya surat dari Rasulullah saw. yang berisi kewajiban-kewajiban. Maka Tsa’labah berkata: “Ini tidak lain hanyalah pajak. Ini tidak lain hanyalah semacam pajak.”

Selanjutnya dia berkata: “Pulanglah, sampai aku putuskan pendapatku.” Ketika kedua orang itu pulang, Rasulullah saw. berkata kepada mereka, sebelum keduanya bicara: “Ah! Celakalah Tsa’labah” (diucapkannya dua kali). Kemudian turunlah ayat: “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’

Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, kare. na mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka Ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena me. reka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 75-77).

Lalu Tsa’labah datang membawa sedekah. Namun Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang aku menerima sedekah darimu.” Kemudian Tsa’labah menaburkan tanah di atas kepalanya. Rasulullah saw. bersabda: “Inilah perbuatanmu. Aku telah menyuruhmu, namun kamu tidak menaati aku.”

Ketika Rasulullah saw. wafat, Tsa’labah membawa sedekah kepada Abu Bakar ra., tetapi beliau tidak menerimanya. Kemudian dia membawanya kepada Umar ra. ketika beliau menjadi Khalifah, beliau pun tidak menerimanya. Akhirnya, Tsa’labah meninggal di zaman pemerintahan Utsman ra.

3. Dari Anas bin Malik ra., bahwa pamannya yang bernama Anas bin Nadhr ra. tidak ikut perang Badar bersama Rasulullah saw. Maka dia pun menyesali hal itu di dalam hatinya. Dia berkata: “Itu adalah perang pertama yang dihadiri Rasulullah saw., dimana aku tidak hadir. Demi Allah, jika Allah menunjukkan aku sebuah peperangan bersama Rasulullah, maka Allah akan melihat apa yang aku lakukan.”

Dia berkata: Kemudian dia ikut perang Uhud di tahun berikutnya. Saad bin Muadz menyambutnya seraya bertanya: “Hai Abu Amr, hendak kemana kamu?” Anas menjawab: “Alangkah harumnya bau surga. Aku merasakan baunya di dekat Gunung Uhud.” Kemudian dia berperang hingga terbunuh. Lalu ditemukan pada tubuhnya lebih dari delapan puluh luka: di antaranya ada yang terkena panah, pukulin dan tikaman pedang.

Saudara perempuannya, putri An-Nadhr, berkata: “Tidaklah aku mengenali saudaraku, melainkan dengan jarinya.” Kemudian turun ayat berikut: “… ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah …” (QS. Al-Ahzab: 23)

4. Tsauban ra. adalah bekas sahaya Rasulullah saw. yang sangat mencintai dan gelisah apabila tidak melihatnya. Pada suatu hari, Tsauban menemui beliau, sementara raut wajahnya telah berubah. Terlihat kesedihan. Maka Rasulullah saw. bertanya kepadanya: “Mengapa warna wajahmu berubah?” Tsauban menjawab: “Wahai Rasulullah, aku tidak sakit dan tidak menderita, namun bila tidak melihat Anda, aku merasa sangat kesepian hingga berjumpa.

Di samping itu, aku teringat akan akhirat, dan aku takut kelak tidak akan melihat Anda, karena derajat Anda diangkat bersama para Nabi. Jika aku masuk surga, maka derajatku lebih rendah daripada derajat Anda. Jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan melihat Anda sama sekali. Maka turunlah firman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (AS. AnNisa”: 69)

5. Disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi saw. melewati setumpuk makanan. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalamnya. Ternyata, jari-jarinya menyentuh barang basah. Maka beliau bersabda: “Hai pemilik makanan, apakah ini?” la menjawab: “Makanan itu terkena air hujan, wahai Rasulullah.”

Beliau berkata: “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan, agar terlihat oleh orang-orang? barangsiapa menipu kami, maka dia bukan dari golongan kami.”

6. Diceritakan, Al-Hajjaj berkhotbah secara panjang Ie. bar. Tiba-tiba, berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ingatlah shalat, karena waktu tidak menunggumu dan Tuhan tidak memberimu alasan.” Maka Hajjaj memerintah agar me. menjarakannya. Kemudian kaumnya mendatanginya. Mereka menganggapnya gila. Mereka minta agar melepaskannya. Maka Al-Hajjaj berkata: “Jika dia mengaku gila, aku akan melepaskannya.” Kemudian dikatakan kepadanya. Orang itu berkata: “Semoga Allah melindungi. Aku tidak yakin, bahwa Allah menimpakan cobaan padaku, sedangkan Dia telah mengaruniai aku kesehatan.” Sampailah berita itu kepada AlHajjaj. Maka, beliau memaafkan karena kebenarannya.”

7. Diceritakan, seorang laki-laki mempunyai seekor sapi yang diperah susunya. Kemudian dia mencampur dengan air dan menjualnya. Di saat sapi itu sedang berdiri makan rumput, tiba-tiba datang banjir yang menenggelamkannya. Maka orang itu sangat sedih atas kehilangan sapinya. Kemu“ dian anak-anaknya berkata kepadanya: “Duhai Bapak kami, janganiah Anda bersedih, karena air yang kita campur dengan susunya telah berkumpul dan menenggelamkannya.” Maka Orang itu pun menyadari, bahwa penipuan itu berakibat kebinasaan dan kerugian.

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR