Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (24): Hijrah Kaum Muslimin ke Madinah dan Darun Nudwah (Majelis Permusyarawatan Orang Quraisy)

Terjemah Nurul Yaqin (24): Hijrah Kaum Muslimin ke Madinah dan Darun Nudwah (Majelis Permusyarawatan Orang Quraisy)

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 23 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

HIJRAH KAUM MUSLIMIN KE MADINAH

Ketika orang-orang Anshar kembali ke Madinah, agama Islam semakin bertambah semarak lebih dari semula. Sedangkan Hasulullah dan para sahabatnya mendapat tekanan yang lebih keras lagi dari kaum musyrikir sebab orang-orang musyrik telah mendengar berita bahwa Rasulullah telah mengadakan perjanjian dengan penduduk Madinah untuk melawan me. reka. Hal ini membuat mereka makin memusuhi Rasulullah saw.

Selanjutnya Rasulullah saw. memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Kemudian mereka secara diam-diam be. rangkat ke Madinah karena takut ketahuan oleh orang-orang Quraisy. Jika mereka mengetahui hal tersebut, niscaya mereka akan mencegahnya. Orang yang mula-mula keluar dari Makkah adalah Abu Salamah al. Makhzumi bersama istrinya, Ummu Salamah. Pada mulanya kaum Ummu Salamah mencegahnya mengikuti jejak suaminya, tetapi akhirnya mereka membiarkannya juga pergi bersama suaminya, lalu Ummu Salamah menyusul suaminya dan berangkat menuju Madinah.

Secara berturut-turut kaum Muhajirin hijrah ke Madinah seraya mem. bawa agama mereka, agar mereka dapat beribadah kepada Allah, karena hal ini telah mendarah daging dalam diri mereka. Mereka tidak lagi mempedulikan berpisah dengan tanah air tercinta dan jauh dari orang-orang tua dan anak-anak mereka selagi hal itu merupakan kerelaan Allah dan Rasul-Nya.

Pada saat itu kaum Muslimin yang masih tetap berada di Makkah hanyalah Sahabat Abu Bakar, Sahabat ‘Ali, Sahabat Shuhaib, Sahabat Zaid, dan beberapa orang yang tidak mampu melakukan hijrah mengingat kondisi mereka yang tidak memungkinkan. Sahabat Abu Bakar sendiri sangat menginginkan hijrah, tetapi Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Tenanglah engkau, karena sesungguhnya aku sedang menunggu-nunggu izin dari Allah untuk melakukannya.”

Abu Bakar bertanya, “Ayahku menjadi tebusan engkau. Apakah memang engkau sedang mengharap-harap hal tersebut?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” Maka Sahabat Abu Bakar mengekang keinginannya itu demi Rasulullah saw. Ia mengerti bahwa dirinya diperlukan oleh Rasulullah saw. untuk menemaninya. Akan tetapi, Sahabat Abu Bakar tidak tinggal diam. Ia memberikan makanan secukupnya kepada dua ekor unta miliknya sebagai persiapan untuk kendaraan dalam hijrah nanti, dan Sahabat Abu Bakar sering tidak tidur.

Orang-orang Quraisy seolah-olah terbakar telinga mereka tatkala mendengar bahwa orang-orang Anshar berbai’at kepada Nabi saw., siap membelanya hingga mati. Para pemimpin dan para panglima perang mereka berkumpul di Darun-Nudwah, tempat yang mula-mula dibangun oleh Gushay ibnu Kilab. Di tempat tersebutlah setiap perkara orang-orang Quraisy diputuskan. Mereka bermusyawarah di situ untuk mencari cara terbaik dalam menghadapi Rasulullah saw. yang kini semakin membuat mereka khawatir.

Lalu seorang dari mereka berkata, “Kita usir saja Muhammad dari tempat kita ini sehingga tidak membuat kita lagi repot.” Tetapi mereka menolak usul tersebut mengingat bahwa jika dia keluar, niscaya banyak orang yang mengikutinya sebab mereka pasti tertarik oleh kemanisan tutur katanya dan kefasihan bahasanya.

Seseorang lainnya mengatakan, “Bagaimana kalau kita pasung dia seperti apa yang telah kita lakukan terhadap para penyair sebelumnya hingga dia menemui nasib yang sama seperti mereka, yaitu mati dalam pasungan?” Usul ini pun mereka tolak sebab lama-kelamaan pasti beritanya akan sampai ke telinga para penolongnya. “Kita semua telah mengetahui sikap orang-orang yang memasuki agamanya, mereka lebih mengutamakan Muhammad daripada orangorang tua dan anak-anak mereka sendiri. Jika mereka mendengar hal tersebut, pasti mereka akan datang membebaskannya dari tangan kita, dan tak dapat dielakkan lagi hal ini pasti akan menimbulkan peperangan. Hal tersebut jelas tidak kita inginkan.”

Akan tetapi, orang yang paling jahat di antara mereka mengatakan, “Tidak, lebih baik kita bunuh saja dia. Untuk mencegah saudara-saudara ayahnya melakukan pembalasan, kita ambil seorang pemuda yang kuat dari setiap kabilah. Kemudian mereka kita suruh mengepung rumahnya. Apabila ia keluar, mereka semua harus memukulnya secara berbarengan. Dengan demikian darahnya terbagi-bagi di antara setiap kabilah. Niscaya Bani ‘Abdu Manaf tidak akan mampu melawan kabilah Quraisy secara keseluruhan, bahkan dapat dipastikan mereka akan rela hanya dengan menerima diat.”

Akhirnya mereka menyetujui pendapat ini, Demikianlah tipu muslihat mereka. Akan tetapi, mereka tidak menyadari bahwa kehendak Allah berada di atas semua kehendak sebagaimana yang diungkapkan-Nya melalui firman berikut ini:

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah adalah Pembalas tipu daya yang sebaikbaiknya. (Q.S. 8 Ali ‘Imran: 654)

Kemudian Allah swt. memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang rencana rahasia mereka terhadapnya. Allah memerintahkan Nabi saw. untuk segera berangkat ke tempat hijrahnya, yaitu Madinah. Di tempat tersebut agama Islam akan lebih menyebar dan di tempat tersebut pula kedudukan Rasulullah saw. akan lebih disegani dan akan memperoleh kejayaannya.

Ini jelas merupakan suatu hikmah besar karena, seandainya agama Islam tersebar pada awal mulanya di Makkah, orang-orang yang tidak menyukai Islam pasti mengatakan bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy berambisi untuk merajai bangsa Arab. Untuk itu mereka mengangkat seseorang dari kalangan mereka, kemudian mereka memopulerkan bahwa dia menyerukan ajakan tersebut (agama Islam), sehingga pada akhirnya hal tersebut dijadikan mereka sebagai sarana untuk meraih tujuan-tujuan mereka.

Akan tetapi, kenyatannya tidaklah demikian, sebab orang-orang Quraisy justru merupakan musuh bebuyutan Nabi saw., dan merekalah yang menghalang-halangi ajakannya itu. Mereka telah memperlakukannya dengan cara yang sangat menyakitkan sehingga Allah swt. memilihkan untuknya berpisah dari tanah airnya untuk menjauhi kejahatan mereka. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR