Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (26): Tentang Hijrahnya Para Nabi dan Hasil-hasil di Makkah

Terjemah Nurul Yaqin (26): Tentang Hijrahnya Para Nabi dan Hasil-hasil di Makkah

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 25 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

Dengan peristiwa hijrah ini berarti Rasulullah saw. telah memenuhi sunnah (perjalanan) saudara-saudaranya, yaitu para nabi sebelumnya. Tiada seorang pun dari para nabi yang tidak dikeluarkan dari tempat kelahirannya, kemudian hijrah meninggalkannya. Hal ini telah dilakukan sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi ‘Isa a.s. Sekalipun mereka semua memiliki derajat yang besar dan kedudukan yang tinggi, mereka dihina oleh kaumnya sendiri. Tetapi mereka sabar dalam menghadapi ujian ini, supaya mereka menjadi teladan yang baik bagi para pengikutnya di kemudian hari dalam hal keteguhan dan kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai selagi hal tersebut dalam rangka taat kepada Allah.

Lihatlah negeri Mesir dan sejarahnya. Anda pasti akan mendengar tentang Nabi Ya’gub dan anak-anaknya. Mereka hijrah ke Mesir tatkala melihat penduduk Mesir menyambut dengan baik kehadiran mereka di negerinya, dan membiarkan mereka menunaikan ibadahnya sebagai penghormatan mereka kepada nabi Yusuf dan kebijaksanaannya. Hanya saja, setelah bertahun-tahun orang Mesir lupa akan jasa Nabi Yusuf terhadap mereka. Akhirnya mereka mulai menekan dan menyakiti Bani Israil. Lalu kaum Bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa dan Nabi Harun keluar dari negeri tersebut supaya mereka dapat menunaikan kewajiban mereka kepada Allah, yaitu menyembahnya.

Nabi ‘Isa a.s. lari dari orang Yahudi ketika mereka mendustakannya dan bermaksud membunuhnya sehingga di antara ajaran-ajaran yang disampaikan oleh nabi ‘Isa kepada murid-muridnya ialah, “Berbahagialah orang-orang yang diusir demi kebajikan karena sesungguhnya mereka memperoleh kerajaan langit (surga).” Selanjutnya Nabi ‘Isa pun pernah mengatakan kepada murid-muridnya, “Bergembiralah dan beribadahlah kalian karena sesungguhnya pahala kalian besar, dan tidak aneh karena mereka telah mengusir nabi-nabi sebelum kalian.”

Lihatlah negeri-negeri yang telah tertimpa azab Allah swt. karena kekufuran penduduknya seperti negeri kaum Nabi Luth, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud. Mereka akan menceritakan tentang hijrah para Nabi dari negeri-negeri tersebut sebelum ditimpa oleh azab Allah. Tidak aneh bila Rasulullah saw. hijrah meninggalkan negeri yang penduduknya telah mencegahnya menyampaikan risalah yang telah dikehendaki oleh Allah swt. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telah berfirman: Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum kamu, dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (Q.S. 38 Al-Ahzab: 62)

Dalam pembahasan ini kami akan mengemukakan hal-hal yang telah dita. namkan oleh Rasulullah saw. sewaktu di Makkah, berupa pokok-pokok agama (ushulud-din). Hal tersebut ada dua perkara, yaitu:

Pertama: Meyakini keesaan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dalam hal ibadah, apakah sesuatu itu berupa berhala seperti apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang musyrik Makkah, atau berupa bapak, istri, anak seperti yang telah dilakukan oleh agamaagama lain, misalnya seperti agama Nasrani. Seandainya tidak ada ke. yakinan bahwa Allah itu Mahaesa, pasti orang tidak akan membebani dirinya dengan kewajiban melaksanakan norma-norma kehidupan berupa akhlak dan etika. Akan tetapi, ia pasti akan hidup sekehendak hawa nafsunya demi mencapai kepuasannya selagi apa yang dilakukannya itu tidak terlihat oleh orang lain.

Kedua: Percaya akan adanya hari kebangkitan dan bahwa di sana terdapat alam lain bagi manusia, di dalam alam tersebut setiap orang akan menerima pembalasan atas amal perbuatannya sewaktu ia hidup di dunia. Apabila amal perbuatannya itu baik, maka balasannya akan baik pula. Apabila amal perbuatannya buruk, niscaya balasannya akan buruk pula.

Kedua masalah inilah yang mendominasi kandungan ayat-ayat AlQuran yang diturunkan di Makkah. Jarang sekali surah Makkiyyah yang tidak membahas kedua masalah tersebut, tetapi pasti dipenuhi dengan dalil-dalil yang menunjukkan kedua masalah itu, dan pasti mengandung celaan terhadap orang-orang yang meninggalkannya. Semuanya itu disuguhkan oleh Al-QQur’an dengan metode yang memikat akal dan penuh dengan bukti-bukti yang terang. Di dalamnya terkandung semua manfaat dunia dan akhirat bagi umat manusia.

Telah diturunkan kepada Rasulullah saw. sebagian besar Al-QQur’an di Makkah, sedangkan bagian lainnya, terdiri dari dua puluh tiga surah, tidak diturunkan di Makkah. Surah-surah yang tidak diturunkan di Makkah itu jalah Al-Bagarah, Ali ‘Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-Anfal, At-Taubah, Al-Haj, An-Nur, Al-Ahzab, Al-Qital (Muhammad), Al-Fath, Al-Hujurat, AlHadid, Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, Al-Jumw’ah, Al-Munafigun, At-Taghabun, Ath-Thalag, At-Tahrim, dan An-Nashr. Se mua surah tersebut diturunkan di Madinah, sedangkan yang lainnya diturunkan di Makkah.

Ketika Rasulullah saw. singgah di Quba’, dia tinggal di rumah syekh dari Bani ‘Amr, yaitu Kultsum ibnul-Hadm. Akan tetapi, manakala Rasulullah saw. menerima orang-orang dan berbicara kepada mereka, hal itu dilakukannya di rumah Sa’d ibnu Khaitsamah karena Sa’d adalah seorang duda. Sahabat Abu Bakar tinggal di AsSanh (salah satu daerah di kota Madinah), yaitu di rumah Kharijah ibnu Zaid dari kalangan BanilHarits, kabilah Khazraj. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Terjemah Matan Hidayatus Sibyan
Oleh : Immim pangkep

Terjemah Matan Hidayatus Sibyan

0 Komentar

KELUAR