
BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 26 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.
Rasulullah saw. tinggal di Quba’ selama beberapa hari. Sejak hari pertama tinggal di Quba’, dia langsung membangun Masjid Guba’ yang kemudian dikenal sebagai masjid yang didirikan di atas landasan takwa. Kemudian Rasulullah saw. melakukan salat bersama dengan para sahabatnya yang terdiri dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sedangkan mereka merasa aman dan tenang.
Bentuk masjid-masjid pada zaman Rasulullah saw. amat sederhana. Di dalamnya tidak terdapat hiasan-hiasan seperti lazimnya yang dilakukan oleh para arsitek masjid beberapa generasi kemudian. Kita dapat memaklumi bahwa yang menjadi pusat perhatian Rasulullah saw. dan para sahabatnya pada saat itu, hanyalah menghiasi hati dan membersihkannya dari godaan setan sehingga tembok masjid pada masa itu tingginya hanya sampai setinggi orang berdiri dan tidak lebih dari itu, kemudian di atasnya dipasang atap guna perlindungan dari sengatan panasnya sinar matahari.
Selanjutnya Rasulullah saw. berangkat menuju ke Madinah, sedangkan para sahabat Anshar pada saat itu mengawalnya seraya menyandang pedang mereka masing-masing. Pada saat itu terjadilan suatu hal yang bid’ah, tetapi tidak mengapa karena hal itu merupakan ungkapan rasa gembira yang meluap dari penduduk Madinah. Hari itu berubah menjadi hari yang sangat semarak, penuh dengan kegembiraan, yang pada sebelumnya mereka tidak pernah merasakannya. Hal ini tiada lain karena kegembiraan mereka dalam menyambut kedatangan Rasulullah saw. Kaum wanita, anak-anak, dan gadis-gadis keluar menyambut kedatangan Rasulullah saw. seraya mengucapkan:
Kini rembulan (Rasulullah saw.) telah datang kepada kami dari Tsaniyyatul Wada”. Kami harus bersyukur atas kedatangan orang yang mengajak kepada Allah. Hai orang yang diutus kepada kami, engkau telah datang dengan membawa perkara yang ditaati. Pada saat itu orang-orang berjalan mengiringi Rasulullah saw. Di antarg mereka ada yang berjalan kaki dan ada pula yang menaiki kendaraan Kemudian mereka saling bersengketa dalam hal memegang tali kendal kendaraan Rasulullah. Setiap orang menginginkan agar Rasulullah saw. singgah di rumahnya.
Ketika Rasulullah saw. sampai di tempat orang-orang Bani Salim, datanglah waktu salat Jumat. Rasulullah saw. turun dari kendaraannya, lalu melakukan salat Jumat bersama orang-orang yang ada pada saat itu. Salat Jumat ini adalah untuk yang pertama kalinya dilakukan oleh Rasulullah saw., dan ini pun merupakan khotbah pertama yang diberikannya.
Pada permulaan khotbah itu Rasulullah saw. terlebih dahulu mengucapkan hamdalah dan sanjungan kepada Allah swt., kemudian ia bersabda: Amma ba’du. Hai umat manusia, suguhkanlah untuk diri kalian sendiri. Niscaya kalian akan mengetahui, demi Allah, seseorang di antara kalian pasti akan mati, kemudian pasti ia akan meninggalkan kambing gembalaannya, yang kemudian tidak mempunyai penggembala lagi.
Selanjutnya pasti Rabb akan berkata kepadanya, tanpa ada penerjemah alau pengawal yang menghalang-halangi dirinya bertemu dengan Rabb, “Bukankah telah datang kepadamu utusan-Ku, kemudian ia menyampaikan seruan-Ku kepada-Mu, dan Aku telah memberimu harta serta Aku telah mengaruniakan kepadamu (nikmat yang banyak). Sekarang apakah yang telah engkau lakukan buat dirimu sendiri? Kemudian niscaya ia menoleh ke kanan dan ke kiri, maka ia tidak menemukan apa-apa, selanjutnya ia pasti melihat ke arah depannya, dan ternyata yang dilihatnya hanyalah neraka Jahannam.
Maka barang siapa yang mampu memelihara wajahnya dari neraka, se kalipun hanya dengan sedekah separuh biji kurma, maka hendaknys dilakukannya hal itu. Dan barang siapa yang tidak menemukannya, hendaknya ia berkata dengan tutur kata yang baik. Karena sesungguh nya semua ilu merupakan kebaikan yang akan dibalas sepuluh kali lipat hingga mencapai tujuh ratus kali lipat. Dan semoga kesejahteraan dan rahmat serta barakah Allah atas kalian semuanya. (*)