Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Hak Cipta Berbasis Budaya Untuk 2 Naskah Sendratari Perjuangan Kemerdekaan Melawan Belanda

Meraih Hak Cipta Berbasis Budaya Untuk 2 Naskah Sendratari Perjuangan Kemerdekaan Melawan Belanda

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Ketika Sejarah Menari di Atas Panggung: Syukur, Perjuangan, dan Penghargaan atas Hak Cipta Dua Naskah Sendratari Pangkep

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, di bulan perayaan kemerdekaan ke-81, Agustus 2026, penulis meraih dua hak cipta berbasis budaya lewat fasilitasi Direktorat Bina Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI.  Dua hak cipta berbasis budaya tersebut adalah karya naskah seni pertunjukan, yaitu Naskah Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep dan Naskah Sendratari Perjuangan Andi Maruddani melawan Belanda.

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah Swt., saya menerima penghargaan dan pengakuan penting dari negara atas dua karya naskah berbasis budaya yang telah memperoleh pencatatan hak cipta. Bagi penulis, pencatatan hak cipta ini bukan sekadar selembar sertifikat atau pengakuan administratif atas sebuah karya. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk apresiasi negara terhadap proses kreatif, kerja intelektual, serta upaya untuk mengangkat sejarah dan kebudayaan lokal ke dalam ruang ekspresi yang lebih hidup.

Pemerintah, melalui sistem perlindungan hak kekayaan intelektual, memberikan pengakuan bahwa karya berbasis sejarah dan kebudayaan juga memiliki nilai, identitas, serta hak untuk dihargai. Namun, di balik kebanggaan itu, saya juga memandangnya sebagai sebuah tanggung jawab dan ucapan terima kasih kepada semua pengurus Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep yang pernah terlibat dan mewujudkan naskah tersebut dalam sebuah pertunjukan sendratari yang apik, seru, dan mengharukan. Semuanya berjalan sukses dan terasa sempurna.

Ketika sebuah karya Sendratari lahir dari mengangkat sejarah dan kebudayaan lokal, maka ia tidak boleh lahir secara sembarangan. Naskah Sejarah itu tidak hanya dibaca dan dituliskan dalam bentuk seni pertunjukan, tetapi ia dihidupkan dan ‘diberi nyawa dalam pertunjukannya’.

Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep merupakan upaya untuk menggambarkan denyut perjuangan Andi Mappe bersama pasukannya, Laskar Harimau Indonesia dan semangat kemerdekaan dalam konteks sejarah lokal. Disana, ada rakyat biasa, pejuang, tokoh masyarakat, dan generasi yang turut merasakan getirnya penjajahan serta besarnya harga sebuah kemerdekaan.

Sementara itu, Sendratari Perjuangan Andi Maruddani Melawan Belanda menghadirkan kembali narasi perjuangan seorang tokoh lokal dalam menghadapi kekuasaan kolonial. Tokoh-tokoh perjuangan lokal sering kali hanya hidup dalam ingatan masyarakat tertentu. Mereka mungkin dikenal oleh generasi tua, disebut dalam cerita lisan, atau tersimpan dalam fragmen sejarah yang belum banyak dibaca oleh generasi muda. Perjuangan tidak hanya diceritakan. Ia diterjemahkan melalui gerak. Konflik tidak hanya dijelaskan. Ia dihadirkan dalam ekspresi.

***

Lihat pula: Bagaimana Menjadi Seniman yang Berprestasi dan Diakui Luas?

Alhamdulillah, Kedua naskah sendratari tersebut bukan hanya berhenti sebagai tulisan. Dengan rasa bangga dan penghargaan yang mendalam, kedua karya tersebut pernah diwujudkan dalam bentuk pertunjukan bersama Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep pada malam ramah tamah peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 dan ke-79 di Alun-Alun Pangkajene, Kabupaten Pangkep.

Di atas panggung, naskah yang sebelumnya hanya berupa kata-kata mulai memperoleh tubuhnya. Para penari menerjemahkan narasi menjadi gerakan. Musik memberi jiwa kepada suasana. Ekspresi para pemain menghadirkan emosi. Tata panggung dan cahaya membantu penonton memasuki kembali suasana sejarah. Inilah keajaiban sebuah sendratari.

Seorang penulis naskah mungkin memulai dengan kalimat, tetapi sebuah pertunjukan tidak hidup hanya karena kalimat. Ia membutuhkan banyak tangan, banyak pikiran, dan banyak hati. Ada sutradara atau penata pertunjukan, koreografer, penari, pemusik, penata artistik, tim pendukung, dan tentu saja para pegiat seni yang bersedia mengorbankan tenaga serta waktu untuk satu tujuan: membuat sejarah berbicara kembali kepada generasi masa kini.

Lihat Sertifikat Hak Cipta disini: Tahap 1_Muhammad Fajri Wajdi_Naskah Sendratari (Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep)_SuratCiptaan_EC002026128019 dan disini: Tahap 1_Muhammad Farid Wajdi_Sendratari (Perjuangan Andi Maruddani Karaengta Bonto-bonto Melawan Belanda)_SuratCiptaan_EC002026128024

Karena itu, pencapaian kedua karya ini bukanlah keberhasilan seorang penulis semata. Ada semangat kolektif yang turut melahirkan dan membersamainya. DKPK Pangkep telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kreatif tersebut. Melalui sinergi, kolaborasi yang apik, kerjasama dan semangat mementaskan karya sendratari yang spektakuler, sebuah naskah dapat keluar dari ruang kerja penulis dan menemukan apresiasi dan tepuk tangan yang meriah di tengah pertunjukan sendratari tersebut.

Semoga dengan perolehan dua Hak Cipta Berbasis Budaya ini, semakin memberi kekuatan dan semangat berkarya bagi penulis, khususnya dalam Pemajuan Kesenian dan Kebudayaan Lokal. Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat penghargaan dan prestasi yang diraih. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ Salama. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 24 Agustus 2026.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep

KELUAR