Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Salah satu pokok bahasan yang menarik diulas dari Materi Pelajaran Al-Qur’an-Hadits Kelas VIII SMP adalah Pelajaran 5. Menjauhi Gaya Hidup Materialistik, Hedonis dan Konsumtif. Apa dan bagaimana itu Gaya Hidup Materialistik, Hedonis, dan Konsumtif itu dijelaskan pada Bagian 1 Tulisan ini, selanjutnya akan dibahas tentang Ayat-ayat Al-Qur’an dan memahami kandungannya terkait peringatan kepada manusia agar menjauhi Gaya Hidup Materialistik, Hedonis dan Konsumtif tersebut.
B. Memaknai Isi Kandungan Al-Qur’an Qs. Al-A‘la (87): 14-19, Qs. Al-Qaṣaṣ (28): 77, dan Qs. Ali Imran (3): 148.
1. Qs. Al-A‘la (87): 14-19,
Dalam ayat ini, Qs. Al-A‘la (87): 14-19, Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan akherat itu lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia. Mereka yang lebih kehidupan dunia, bertingkah sombong, materialistik, hedonis dan konsumtif akan merasai penyesalan nanti di kehidupan akherat.
2. Qs. Al-Qaṣaṣ (28): 77
Wabtaghi fiimaaa aataakal laahud Daaral Aakhirata wa laa tansa nasiibaka minad dunyaa wa ahsin kamaaa ahsanal laahu ilaika wa laa tabghil fasaada fil ardi innal laaha laa yuhibbul mufsidiin
Artinya:
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”. (Qs. Al-Qaṣaṣ (28): 77)
Nasihat di atas tidak berarti seseorang hanya boleh beribadah murni (mahdah) dan melarang memperhatikan dunia. Berusahalah sekuat tenaga dan pikiran untuk memperoleh harta, dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu di dunia, berupa kekayaan dan karunia lainnya, dengan menginfakkan dan menggunakannya di jalan Allah. Akan tetapi pada saat yang sama janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan di dunia dengan tanpa berlebihan.
Dan berbuat baiklah kepada semua orang dengan bersedekah sebagaimana atau disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan mengaruniakan nikmat-Nya, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan dan akan memberikan balasan atas kejahatan tersebut.
Pada ayat ini, Allah menerangkan 4 nasehat/petunjuk yang ditujukan kepada Qarun oleh kaumnya. Orang yang mengamalkan nasihat dan petunjuk itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat.
(1) Orang yang dianugerahi oleh Allah kekayaan yang berlimpah ruah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk, serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu”. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu ‘Abbas)
(2) Setiap orang dipersilakan untuk tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman, pakaian, serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah. Baik Allah, diri sendiri, maupun keluarga, mempunyai hak atas seseorang yang harus dilaksanakannya. Sabda Nabi Muhammad, ”
Kerjakanlah seperti kerjanya orang yang mengira akan hidup selamanya. Dan waspadalah seperti akan mati besok”. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar)
(3) Setiap orang harus berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadanya, misalnya membantu orang-orang yang memerlukan, menyambung tali silaturrahim, dan lain sebagainya.
(4) Setiap orang dilarang berbuat kerusakan di atas bumi, dan berbuat jahat kepada sesama makhluk, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
3. Qs. Ali Imran (3): 148
Fa aataahumul laahu sawaabad dunyaa wa husna sawaabil Aakhirah; wallaahu yuhibbul muhsiniin.
Artinya:
“Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akherat. Dan Allah mencintai Orang-orang yang berbuat kebaikan. (Qs. Ali Imran (3): 148 )
Maka demikianlah, Allah mengabulkan doa mereka dan memberi mereka pahala di Dunia berupa kemenangan, memperoleh harta rampasan perang, nama baik dan kehormatan, dan pahala yang baik di akhirat, yaitu surga dan keridaan Allah. Dan Allah mencintai, memberi Anugerah kepada Orang-orang yang berbuat kebaikan.
Oleh karena kesungguhan, keikhlasan, keteguhan iman dan kesabaran para pengikut Nabi-nabi yang terdahulu dalam menghadapi segala macam penderitaan dalam memperjuangkan kebenaran di jalan Allah, maka Allah memberikan kepada mereka balasan dunia dan pahala yang setimpal di akhirat.
(bersambung …. )
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar