Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Panduan Penilaian Lomba Story Telling Kisah Nabi ini disusun sebagai acuan bagi dewan juri dalam memberikan penilaian secara objektif, adil, transparan, dan proporsional kepada seluruh peserta Festival Anak Shalehah (FAS) yang umum diselenggarakan Pondok Pesantren, Madrasah atau Sekolah Islam.
Bahasa Arab untuk Lomba Story Telling adalah: مُسَابَقَةُ سَرْدِ الْقِصَصِ (Indonesia: Musābaqatu Sardil Qiṣaṣ, yang artinya Lomba bercerita). Jika lomba secara khusus mengangkat kisah para nabi maka istilah yang lebih tepat adalah: مُسَابَقَةُ سَرْدِ قِصَصِ الْأَنْبِيَاءِ (Indonesia: Musābaqatu Sardil Qiṣaṣil Anbiyā’, yang artinya: Lomba Bercerita Kisah Para Nabi). Karena, secara spesifik lomba yang penulis inginkan adalah Lomba Story Telling Kisah Nabi, maka secara spesifik juga tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam bercerita, meningkatkan kepercayaan diri, melatih keterampilan berkomunikasi, serta menanamkan Nilai-nilai keislaman melalui kisah perjuangan dan keteladanan para nabi.
Penilaian tidak hanya berorientasi pada kemampuan peserta dalam menyampaikan cerita secara menarik, tetapi juga memperhatikan penguasaan isi, penghayatan, ekspresi, artikulasi, kreativitas, dan ketepatan pesan moral yang disampaikan. Melalui panduan ini, diharapkan dewan juri memiliki standar penilaian yang seragam sehingga dapat menentukan peserta terbaik berdasarkan kemampuan, penampilan, dan kesesuaian cerita dengan nilai-nilai Islami. Dengan demikian, lomba ini menjadi sarana edukatif untuk membentuk generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, kreatif, dan berprestasi.
Berikut ini Tabel Aspek dan Bobot Penilaian Lomba Story Telling Kisah Nabi tersebut:
| No. | Aspek Penilaian | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|---|
| 1 | Penguasaan isi cerita | Penguasaan alur, kelancaran bercerita, ketepatan kisah nabi, dan pemahaman pesan moral. | 25% |
| 2 | Ekspresi dan penghayatan | Kemampuan menjiwai cerita, membangun suasana, serta menampilkan emosi yang sesuai. | 20% |
| 3 | Artikulasi dan intonasi | Kejelasan pelafalan, volume suara, intonasi, tempo, dan penekanan kata. | 15% |
| 4 | Gestur dan mimik wajah | Kesesuaian gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh dengan isi cerita. | 15% |
| 5 | Kreativitas dan daya tarik | Keunikan gaya bercerita, variasi penyampaian, serta kemampuan menarik perhatian audiens. | 10% |
| 6 | Kepercayaan diri dan penguasaan panggung | Keberanian tampil, sikap, kontak mata, dan kemampuan menguasai suasana panggung. | 10% |
| 7 | Ketepatan waktu | Kemampuan menyelesaikan cerita sesuai durasi yang ditetapkan panitia. | 5% |
| Total | 100% |
Untuk Ketentuan Umum Penilaian Lomba Story Telling Kisah Nabi adalah:
1. Setiap peserta dinilai berdasarkan seluruh aspek dan bobot yang telah ditetapkan.
2. Dewan juri memberikan nilai secara objektif sesuai kualitas penampilan masing-masing peserta.
3. Isi cerita harus sesuai dengan kisah nabi dan tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam.
4. Penampilan yang menarik hendaknya tetap mengutamakan kesantunan, adab, dan pesan keteladanan.
5. Nilai akhir ditentukan berdasarkan akumulasi nilai seluruh aspek penilaian. Keputusan dewan juri bersifat final dan mengikat.
Panduan ini diharapkan menjadi pedoman pelaksanaan lomba yang tertib dan berkualitas, sekaligus mendukung tujuan Festival Anak Shalehah (FAS) 2026 dalam membina generasi muda Islam yang berilmu, berakhlak mulia, percaya diri, dan berprestasi.
Pedoman Penilaian untuk Dewan Juri
– Penguasaan cerita: Cerita runtut, mudah dipahami, dan sesuai dengan kisah nabi yang disampaikan.
– Ekspresi dan penghayatan: Mampu menghidupkan suasana cerita dan menunjukkan emosi yang sesuai.
– Artikulasi dan intonasi: Suara jelas, pelafalan tepat, serta variasi nada yang menarik.
– Gestur dan mimik: Gerakan tubuh dan ekspresi wajah mendukung isi cerita secara wajar.
– Kreativitas: Memiliki gaya bercerita yang menarik, komunikatif, dan sesuai usia peserta.
– Kepercayaan diri: Tampil berani, tenang, dan mampu berinteraksi dengan audiens.
– Ketepatan waktu: Menyelesaikan penampilan sesuai durasi yang ditentukan panitia.
Selain itu, Juri juga perlu memperhatikan ketepatan pesan keislaman dan keteladanan nabi yang disampaikan. Unsur ini dapat dimasukkan ke dalam aspek penguasaan isi cerita agar penilaian tetap berjumlah 100%.
Demikian catatan singkat ini dan semoga dapat dipedomani atau dijadikan panduan dalam penilaian Lomba Story Telling Kisah Nabi. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Tinggalkan Komentar