IMMIMPANGKEP – Seni pertunjukan pada hakikatnya adalah perjumpaan. Ia mempertemukan gagasan dengan tubuh, cerita dengan gerak, suara dengan keheningan, pemain dengan penonton, serta masa lalu dengan masa kini. Di atas panggung, sebuah cerita tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui ekspresi wajah, gestur, musik, cahaya, kostum, tata panggung, gerak tubuh, bahkan melalui diam yang kadang justru lebih kuat daripada dialog. Karena itu, seni drama dan tari, seni teater dan termasuk sendratari, bukan sekadar tontonan. Ia merupakan pengalaman kebudayaan yang melibatkan pikiran, perasaan, imajinasi, dan kesadaran manusia.
Sehimpun catatan tentang seni drama dan tari (sendratari) ini berangkat dari kesadaran sederhana bahwa pertunjukan seni perlu dipahami bukan hanya dari apa yang tampak di atas panggung, tetapi juga dari apa yang terjadi di balik dan di dalamnya. Ada proses panjang sebelum sebuah pertunjukan hadir di hadapan penonton. Ada gagasan yang dirumuskan menjadi naskah, ada proses membaca dan memahami karakter, ada pemilihan pemain, latihan dialog dan gerak, penataan musik, kostum, properti, tata cahaya, hingga penghayatan terhadap suasana cerita. Semua itu merupakan rangkaian kerja kreatif yang membutuhkan kedisiplinan, kesabaran, kemampuan bekerja sama, dan kepekaan artistik.
Drama dan tari memiliki bahasa yang berbeda, tetapi keduanya dapat bertemu dalam sebuah bentuk pertunjukan yang utuh. Drama banyak mengandalkan dialog, penokohan, konflik, dan alur cerita. Tari mengandalkan tubuh sebagai medium ekspresi melalui gerak, ritme, ruang, dan simbol. Ketika keduanya dipadukan dengan musik, narasi, tata panggung, serta unsur visual lainnya, lahirlah sendratari sebagai bentuk seni yang memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan cerita.
Teater dan Sendratari memungkinkan sebuah kisah diceritakan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dialog. Gerak dapat menjadi kalimat. Ekspresi dapat menjadi paragraf. Musik dapat menjadi penanda suasana. Keheningan dapat menjadi simbol ketegangan. Sementara narasi dapat menjadi jembatan yang membantu penonton memahami latar, tokoh, peristiwa, dan pesan yang hendak disampaikan. Dalam konteks inilah sendratari dapat menjadi media yang sangat efektif untuk menghidupkan kembali sejarah, legenda, mitologi, tradisi, dan berbagai nilai kebudayaan.
Terkait dengan upaya memahami Seni Teater dan Sendratari secara utuh, berikut ini dihimpun tulisan Muhammad Farid Wajdi, salah satu guru dalam lingkungan Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep tentang Sendratari. Tentu ini tak lepas dari kapasitas beliau sebagai Penulis Naskah dan Narator Sendratari, sekaligus sebagai Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.
Berikut ini link tulisannya:
– Sendaratari “Putri We Tadang Mpali” menguak Legenda Kelahiran Kerajaan Wajo (Palontaraq, 13/7/2019)
– Pendekatan Psikologi dalam Pertunjukan Sendratari (Palontaraq, 7/10/2023
– Sendratari Sebagai Media Pembelajaran Sejarah Daerah (Palontaraq, 20/8/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (1): Mengenal Seni Teater (Palontaraq, 15/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (2): Asal Usul Seni Teater dan Perkembangannya (Palontaraq, 16/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (3): Babak dan Adegan dalam Teater (Palontaraq, 17/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (4): Berlatih Adegan dalam Drama (Palontaraq, 18/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (5): Drama: Ekspresi Diri Melalui Akting (Palontaraq, 19/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (6): Membuat Skenario Drama Pendek (Palontaraq, 20/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (7): Sutradara Pertunjukan Drama (Palontaraq, 21/9/2024)
– Pengetahuan Dasar Seni Teater (8): Latihan dan Peran Para Pemain dalam Pertunjukan Drama (Palontaraq, 22/9/2024)
– Teknik Menulis Naskah Sendratari (Palontaraq, 27/2/2025)
– Tips Menulis Naskah Sendratari Untuk Pertunjukan Santri (Blog Guru, 21/4/2025)
– Naskah Sendratari: “Mappakarennu”: Cahaya yang Tak Pernah Padam (Palontaraq, 2/6/2026)
– Ketika Sejarah Menari di Atas Panggung: Syukur, Perjuangan, dan Penghargaan atas Hak Cipta Dua Naskah Sendratari Pangkep (Palontaraq, 14/8/2026)
– Pertunjukan Sendratari: Antara Suara Leluhur, Nurani Kebudayaan, dan Pandangan Ulama (Palontaraq, 25/8/2026)
– Psikologi Penonton dalam Pertunjukan Teater (Palontaraq, 7/9/2026)
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

saya sherlly dari kelas 10 SMA izin bertanya, Kenapa pertunjukan seni harus dipahami tidak hanya dari apa yang tampak di atas panggung, tapi juga apa yang terjadi di balik dan didalamnya?
Tinggalkan Komentar