Related Post: Mengenal Lebih Dekat PIG Pangkep-Maros
IMMIMPANGKEP – Puluhan Santriwati Kelas IX SMP dan Kelas X SMA Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi Pusat Informasi Geologi (PIG) Maros-Pangkep yang berada di Kompleks Rumah Jabatan Bupati Pangkep dan Taman Purbakala Sumpang Bita di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA dan menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual bagi para santriwati. Bagi Santriwati Kelas X, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan tugas kokurikuler, sedangkan bagi Santriwati Kelas IX menjadi bagian dari program Belajar Di Luar Kelas (BDK).
Kegiatan ini didampingi oleh dua guru bidang Sejarah, yakni Muhammad Farid Wajdi, S.H.I., M.M. dan Nur Fadjriani, S.Pd., serta tiga guru kepesantrenan, yaitu Anita, S.Hum., Aqidatul Jannah, S.Hum., M.Hum., dan Nur Alfiah Yusuf.
Kunjungan tersebut dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan rekreasi, tetapi sebagai kesempatan bagi santriwati untuk melihat secara langsung berbagai objek pembelajaran yang selama ini dipelajari melalui buku, materi pembelajaran, dan penjelasan guru.

Guru Pendamping dan Puluhan Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene di Ruang Studio Mini (Mini Theatre) PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)
Dari Geologi Menuju Sejarah Kehidupan
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pusat Informasi Geologi (PIG) Maros-Pangkep, sebuah destinasi wisata edukasi yang berada di kawasan Kompleks Rujab Bupati Pangkep. PIG Maros-Pangkep memiliki empat zona utama pembelajaran, yaitu Zona 1 Sejarah Geologi Pulau Sulawesi, Zona 2 Mitigasi Bencana serta Sumber Daya Alam Terbarukan dan Terbatas, Zona 3 Sejarah Kehidupan, dan Zona 4 Geopark. PIG juga dilengkapi ruang audio visual untuk mendukung penyampaian informasi kepada pengunjung.
Bagi santriwati, keberadaan PIG memberikan pengalaman belajar yang menarik karena mereka dapat melihat bagaimana sejarah bumi, perkembangan geologi, sumber daya alam, kehidupan, serta konsep geopark saling berhubungan.
Kabupaten Maros dan Pangkep sendiri merupakan kawasan yang memiliki kekayaan geologi, hayati, dan budaya yang luar biasa. UNESCO mencatat bahwa wilayah Maros Pangkep merupakan bagian dari rancangan UNESCO Global Geopark yang berada di bagian selatan Pulau Sulawesi dan mencakup wilayah daratan serta kawasan perairan. Kawasan ini memiliki bentang alam karst yang spektakuler, berbagai gua, serta keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk sejumlah spesies endemik Sulawesi.
Dari kunjungan tersebut, santriwati dapat memahami bahwa kawasan tempat mereka tinggal bukan sekadar wilayah geografis, tetapi menyimpan perjalanan kehidupan bumi yang sangat panjang. Mereka dapat belajar tentang bagaimana Pulau Sulawesi terbentuk, bagaimana bentang alam karst berkembang, bagaimana sumber daya alam dimanfaatkan, bagaimana bencana dapat terjadi, dan mengapa lingkungan harus dijaga.
Salah satu materi penting yang dapat dipelajari di PIG adalah mitigasi bencana. Pembelajaran ini menjadi relevan bagi santriwati karena pengetahuan tentang bencana tidak hanya dibutuhkan oleh para ahli geologi. Masyarakat umum, termasuk pelajar, perlu memahami potensi risiko di lingkungannya serta mengetahui bagaimana bersikap ketika menghadapi bencana.

Guru Pendamping dan Santriwati Putri IMMIM Belajar Sejarah dan Geologi di PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)
Melalui pembelajaran tersebut, santriwati dapat memahami bahwa mengenal alam berarti juga memahami potensi bahayanya. Para santriwati dapat diajak berpikir bahwa pendidikan lingkungan tidak berhenti pada ajakan menjaga kebersihan. Lebih jauh, manusia perlu memahami hubungan antara kondisi geologi, tata ruang, sumber daya alam, dan keselamatan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter: mengenal alam, mensyukuri ciptaan Allah, sekaligus bertanggung jawab untuk menjaganya.
Kunjungan ke PIG juga membuka perspektif bahwa sejarah tidak hanya berbicara mengenai manusia dan alamnya. Ada sejarah kehidupan. Ada perubahan lingkungan. Ada penjelasan tentang warisan budaya benda dan tak benda, Ada pengenalan terhadap flora dan fauna serta keaneka-ragaman hayati yang hidup dalam kawasan karst Maros-Pangkep, Ada proses geologis yang berlangsung selama jutaan tahun.

Para santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene belajar di PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)
Bagi santriwati yang mempelajari Sejarah, Geogragi, Biologi, Kimia dan Terkhusus Ilmu Bumi, pengalaman tersebut memperluas cara pandang mereka mengenai sejarah manusia dan unsur-unsur alam di sekitarnya. Sejarah manusia ternyata merupakan bagian dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Sebelum mengenal kerajaan, tulisan, kota, dan peradaban, manusia telah melalui berbagai tahap kehidupan dalam lingkungan alam yang terus berubah, dari sejak zaman prasejarah. Dari sini, pembelajaran sejarah dapat bergerak dari sekadar hafalan menuju kesadaran historis dan ekologis.
Menelusuri Jejak Manusia Prasejarah di Sumpang Bita
Setelah mendapatkan wawasan mengenai geologi dan sejarah kehidupan di PIG Maros-Pangkep, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Purbakala Sumpang Bita di Balocci. Taman Purbakala Sumpang Bita merupakan kawasan cagar budaya nasional yang ditetapkan melalui SK No. 158/M/1998. Kawasan tersebut berada di Kampung Sumpang Bita, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, dan berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Di kawasan tersebut terdapat dua situs gua prasejarah, yaitu Leang Sumpang Bita dan Leang Bulu Sumi. Kedua situs tersebut berada dalam gugusan Bukit Bulu Bita. Perjalanan menuju gua juga menjadi pengalaman tersendiri bagi santriwati. Untuk mencapai situs, pengunjung harus berjalan sekitar 500 meter dan menaiki sejumlah anak tangga menuju kawasan gua.
Di sinilah pembelajaran sejarah terasa berbeda. Santriwati tidak hanya membaca mengenai kehidupan manusia prasejarah, tetapi berada langsung di ruang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan manusia pada masa lampau. Salah satu hal unik dalam kawasan Prasejarah Sumpangbita ini tentu saja keberadaan lukisan dinding gua atau seni cadas.
Pada kawasan tersebut ditemukan berbagai tinggalan arkeologis, antara lain lukisan dinding, cap tangan, cap kaki anak-anak, gambar menyerupai babi rusa, serta gambar yang menyerupai perahu. Selain itu terdapat temuan berupa artefak batu, cangkang moluska, fragmen gerabah, serta fragmen tulang dan gigi.
Bagi santriwati, tinggalan tersebut membuka pertanyaan-pertanyaan penting: Siapa manusia yang membuat lukisan itu? Mengapa mereka membuatnya? Bagaimana mereka hidup? Bagaimana mereka berkomunikasi? Apa hubungan manusia masa lalu dengan lingkungan tempat mereka tinggal? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih bernilai daripada sekadar menghafalkan istilah “prasejarah”.

Para Guru Pendamping dan Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene belajar di Taman Purbakala Sumpangbita, Balocci. (foto: ist/*)
Santriwati diajak menyadari bahwa manusia masa lalu juga memiliki kemampuan untuk mengamati lingkungan, membuat simbol, meninggalkan jejak, dan membangun kebudayaan. Dengan demikian, Sumpang Bita dapat menjadi ruang pembelajaran tentang arkeologi, sejarah awal manusia, seni, kebudayaan, lingkungan, dan perkembangan peradaban secara sekaligus.
Kunjungan ke Sumpang Bita juga memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana sejarah direkonstruksi. Tidak semua peristiwa masa lalu meninggalkan dokumen tertulis. Untuk periode prasejarah, para peneliti harus membaca berbagai jenis bukti: lukisan gua, artefak, tulang, cangkang, lapisan tanah, serta konteks lingkungan.
Sumpang Bita bahkan telah menjadi objek penelitian arkeologi. Pendataan situs kemudian ditindaklanjuti dengan ekskavasi penyelamatan pada 1984 yang melibatkan akademisi dari Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin, kemudian dilanjutkan dengan studi konservasi pada 1985 dan 1986. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi santriwati bahwa sejarah bukan sekadar cerita yang diterima begitu saja. Sejarah membutuhkan bukti, penelitian, interpretasi, dan sikap kritis.
Pelajaran semacam ini sangat penting bagi generasi muda di tengah derasnya informasi digital. Santriwati perlu memiliki kemampuan membedakan antara fakta, interpretasi, cerita masyarakat, dan informasi yang belum terverifikasi.
***
Kunjungan ke PIG Maros-Pangkep dan Taman Purbakala Sumpang Bita memberikan sejumlah manfaat pendidikan. Pertama, memperkuat pembelajaran kontekstual. Materi yang dipelajari di kelas dapat dilihat secara langsung di lapangan. Kedua, memperluas wawasan sejarah dan geologi. Santriwati memahami bahwa sejarah manusia berkaitan erat dengan lingkungan dan perjalanan bumi.
Selanjutnya, Ketiga, menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya lokal. Situs yang berada di sekitar tempat tinggal mereka ternyata memiliki nilai nasional dan bahkan global. Keempat, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Kawasan karst, gua, flora, fauna, dan sumber daya alam merupakan bagian dari warisan yang harus dilestarikan. Kelima, melatih kemampuan observasi. Santriwati belajar melihat, mencatat, bertanya, mendokumentasikan, dan menarik kesimpulan dari objek yang mereka temui.
Tak hanya sampai disitu, Manfaat kunjungan berikutnya yang keenam adalah melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Kegiatan lapangan menuntut santriwati mengikuti jadwal, menjaga ketertiban, menjaga kebersihan, serta mematuhi arahan guru dan pendamping. Ketujuh, memperkuat kerja sama dan ukhuwah. Perjalanan bersama memberikan ruang bagi santriwati untuk saling membantu dan membangun pengalaman kolektif, serta Kedelapan, menumbuhkan kesadaran pelestarian cagar budaya. Dengan melihat langsung peninggalan masa lalu, santriwati diharapkan memahami bahwa situs sejarah bukan sekadar tempat wisata, tetapi warisan yang harus dijaga.

PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)
Bagi Ponpes Modern Putri IMMIM, kegiatan seperti ini sudah menjadi agenda rutin pembelajaran setiap tahun karena memiliki arti penting dalam pengembangan pendidikan dan wawasan santriwati. Kelas IX memperoleh pengalaman belajar di luar kelas, sementara Kelas X mengintegrasikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari tugas kokurikuler. Dengan demikian, kegiatan bukan sekadar perjalanan, tetapi memiliki hubungan langsung dengan proses pendidikan.
Di sisi lain, Guru tidak hanya menjadi penyampai materi di ruang kelas, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu santriwati membaca pengalaman di lapangan. Di PIG, santriwati belajar tentang bumi, geologi, bencana, sumber daya alam, dan geopark. Di Sumpang Bita, mereka belajar tentang manusia masa lalu, seni cadas, arkeologi, sejarah, dan kebudayaan.
Dua lokasi tersebut pada akhirnya menghadirkan satu pesan pendidikan yang sama: manusia tidak dapat dipisahkan dari ruang dan waktu tempat ia hidup. Kegiatan Sabtu (19/9/2026) tersebut menunjukkan bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja. Bahwa Belajar tidak harus selalu di balik meja.
Ketika santriwati melihat batuan dan bentang karst, mereka belajar geologi. Ketika menyaksikan informasi mitigasi bencana, mereka belajar kesiapsiagaan. Ketika melihat lukisan telapak tangan manusia prasejarah, mereka belajar sejarah dan arkeologi. Ketika berjalan menuju gua, mereka belajar ketekunan. Ketika mengikuti aturan perjalanan, mereka belajar disiplin. Ketika saling membantu dengan teman, mereka belajar ukhuwah. Dan ketika menyaksikan kekayaan alam serta warisan budaya Pangkep, mereka belajar mencintai daerahnya.

Membina Kebersamaan, Makan Siang bersama di Taman Purbakala Sumpangbita. (foto: ist/*)
Pada akhirnya, inilah esensi belajar di luar kelas: membawa ilmu keluar dari buku dan membawanya berjumpa dengan kehidupan nyata. Bagi santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM, kunjungan ke PIG Maros-Pangkep dan Taman Purbakala Sumpang Bita bukan sekadar perjalanan sehari. Ia merupakan perjalanan intelektual untuk mengenal bumi, sejarah, manusia, budaya, dan lingkungan yang berada begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Dari Pangkep, Para Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep belajar bahwa warisan geologi dan sejarah bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah amanah untuk generasi hari ini dan tanggung jawab untuk generasi yang akan datang. (*)
Tinggalkan Komentar