Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
18 Februari 2026

Nahwu Cinta di Bawah Satu Payung

Rab, 18 Februari 2026 Dibaca 144x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Langit pagi itu seperti sedang belajar tawadhu’. Gerimis yang berubah jadi hujan deras, sekejap kemudian mereda dan kembali jadi gerimis kecil yang turun perlahan, seolah bertasbih dan ikut merayakan Pembukaan Porseni Pondok Pesantren Putri IMMIM.

Di lapangan, para santri berdiri rapi. Berpakaian olahraga sesuai angkatan masing-masing, berusaha tegar meski satu dua diantaranya mulai menggigil. Pakaiannya mulai berbintik-bintik air. Tapi barisan tetap tegak, tak ingin mengecewakan Pak Kakan Kemenag yang hadir ditengah luapan kebahagiaan para santriwati yang menggelar Porseni. Semangat tetap utuh.

Di sisi lapangan, usai pembukaan Porseni, berdirilah dua guru dengan satu payung.

Payungnya kecil, dipakai berdua. Maka terjadilah diplomasi posisi.

“Ustadz Naja, geser sedikit,” kata Etta sambil menahan tawa.

“Ini sudah geser, Etta. Kalau saya geser lagi, saya yang jadi basah, kena hujan,” jawab Ustadz Naja.

Gerimis turun lebih rapat.

Etta melirik barisan santri yang tetap bersemangat di bawah hujan. “MasyaAllah… Anak-anak luar biasa ya. Tetap menikmati hujan, meski mulai merasai dingin.”

Ustadz Naja mengangguk kagum. “Itu namanya istiqamah. Dalam ilmu nahwu, itu seperti fi’il mudhari’—berkelanjutan.”

Etta tersenyum. “Nah, mulai lagi nih. Asyik, semua dikaitkan ke nahwu.”

“Loh, memang begitu. Lihat itu, barisan mereka rapi seperti susunan mubtada’ dan khabar. Kalau mubtada’-nya lurus, khabar-nya juga tenang.”

Etta tertawa kecil. “Kalau begitu, apa i’rab dari hujan ini, Ustadz?”

Ustadz Naja berpikir sejenak, lalu menjawab mantap, “Gerimis ini zharaf zaman yang membuat suasana menjadi romantis.”

“Romantis?” Etta mengangkat alis.

“Iya. Bukankah kita sekarang berdiri dalam satu payung? Ini seperti idhafah.”

“Idhafah bagaimana maksudnya?”

“Saya mudhaf, payung mudhaf ilaih.”

Etta menahan tawa. “Berarti kalau payungnya diambil, i’rab Ustadz berubah?”

“Bisa jadi manshub karena kedinginan,” jawab Ustadz Naja cepat.

Mereka tertawa kecil, sementara dari kejauhan terdengar samar suara Ketua Yayasan memanggil.

Sejenak keduanya terdiam, memandangi santri-santri yang tetap ditengah lapangan,  meski baju dan sepatu mulai basah.

“Lihat itu,” kata Etta pelan, “tidak ada yang bubar. Padahal hujan makin rapat.”

Ustadz Naja mengangguk. “Itu pelajaran terbesar hari ini. Cinta kepada pesantren mereka itu seperti jumlah ismiyyah—tetap, kokoh, tidak tergantung cuaca.”

Etta tersenyum. “Kalau begitu, nahwu cinta itu apa sebenarnya?”

Ustadz Naja mencoba merapikan posisi payung yang mulai miring.

“Nahwu cinta,” katanya serius tapi mata berbinar, “adalah ketika hati menjadi mubtada’, dan sabar menjadi khabar. Keduanya harus marfu’, tidak boleh jatuh.”

Etta tertawa. “Kalau cemburu?”

“Itu huruf jar. Bisa membuat hubungan jadi majrur.”

Hujan sedikit mereda, berubah jadi gerimis. Angin sedikit bertiup. Payung kecil itu bergoyang.

“Tolong jangan terlalu filosofis, Ustadz. Nanti payungnya yang jadi maf’ul bih karena tertiup angin.”

“Baik, baik,” Ustadz Naja menyerah sambil tersenyum.

Para santri meminta dokumentasi, wali asrama sigap mengabadikan momen. Semua santri pasang aksi angkat dua jari. Gerimis tetap turun, tapi tak satu pun barisan angkatan pecah.

Etta memandang mereka dengan mata berbinar. “Anak-anak ini tangguh ya, campur nekad kali.”

“Betul,” sahut Ustadz Naja. “Kalau dalam nahwu, mereka ini isim mabni. Tidak berubah walau kondisi berubah.”

Etta mengangguk kagum. “Semoga kelak mereka jadi kalimat sempurna.”

“Aamiin,” jawab Ustadz Naja.

Tiba-tiba seorang santri kecil, Cucu Etta berlari ke arah mereka sambil berbisik, “Etta … basah, mau juga dipayungi? Payung kecil itu mengabaikan punggung Ustadz Naja yang basah demi Cucu Etta yang juga minta dipayungi. Ustadz Naja sudah mulai basah.”

Ustadz Naja dan Etta saling pandang.

“Bagaimana, ini Etta?” tanya Ustadz Naja.

Etta tersenyum lebar. “Kalau cinta itu berbagi, maka payung juga harus dibagi.”

Akhirnya payung kecil itu diberikan kepada santri. Ustadz Naja dan Etta kini berdiri tanpa pelindung, ikut menerima gerimis dengan ikhlas.

Beberapa detik kemudian, Ustadz Naja berkata pelan, “Sekarang kita jadi apa dalam nahwu?”

Etta tersenyum sambil menatap langit yang basah.

“Kita jadi contoh. Isim fa’il—pelaku kebaikan.”

Gerimis masih mereda. Porseni tetap berlangsung.

Dan di tengah lapangan basket pesantren, nahwu cinta benar-benar hidup—bukan dalam kitab, tapi dalam sikap dan adab. (*)

 

— Mengenang Pembukaan Porseninya Putri IMMIM, Biraeng, 14 Februari 2026

(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Nahwu Cinta/Penulis Buku, Risalah Untuk Putri IMMIM – Antologi Puisi Akrostik (Februari 2026)

@immim_pangkep

Buku “Risalah untuk Putri IMMIM” #blogger #immim #immimputri #immimpangkep #santrikeren

♬ suara asli – IMMIM Pangkep – IMMIM Pangkep

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077