Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Shalat Idul Fitri dan Hal-hal Terkait
IMMIMPANGKEP – Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah memperkenankan kita menuntaskan perjalanan spiritual selama sebulan penuh di Madrasah Ramadhan. Salawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan arti sejati dari sebuah kemenangan. Ikhwah fillah yang dirahmati Allah, Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya masa lapar dan dahaga, melainkan sebuah garis “start” bagi jiwa yang baru.
Di penghujung perjalanan ini, umat Islam disatukan dalam satu barisan yang rapat, satu kiblat yang sama, dan satu gema takbir yang menggetarkan angkasa melalui ibadah Shalat Idul Fitri. Shalat Idul Fitri adalah puncak dari manifestasi rasa syukur kita. Ia adalah ibadah yang istimewa, bukan hanya karena dilaksanakan sekali setahun, tetapi karena di dalamnya terkandung simbol persatuan umat dan ketundukan mutlak kepada Sang Khalik. Dalam barisan shalat tersebut, tidak ada sekat antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan rakyat jelata; semua bersimpuh dalam derajat yang sama di hadapan Allah SWT.
Panduan ini disusun untuk menyegarkan kembali ingatan kita mengenai tata cara, sunnah-sunnah, serta adab dalam melaksanakan Shalat Idul Fitri sesuai dengan tuntunan syariat. Mengingat Shalat Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri—seperti jumlah takbir yang berulang dan pelaksanaan khutbah setelah shalat—pemahaman yang benar menjadi kunci agar ibadah kita tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan menjadi pengalaman spiritual yang membekas di hati. Mari kita jemput fajar 1 Syawal dengan hati yang bersih, pakaian terbaik yang kita miliki, dan pemahaman ibadah yang sempurna. Semoga setiap takbir yang kita kumandangkan menjadi saksi bahwa kita telah kembali ke fitrah, dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan suci ini.
***
Panduan shalat Ied secara tertib ini merupakan penjelasan dari salah seorang pendiri NU Syekh KHR Asnawi dalam kitab Fashalatan. Hal serupa juga dapat dijumpai di kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î (juz I) karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan ‘Ali asy-Asyarbaji.
1. Niat Shalat Id Hal pertama yang perlu dilakukan dalam shalat id adalah membaca niat. Kalau menjadi makmum ditambah lafal ma’muman, sedangkan saat menjadi imam ditambah bacaan imaaman.
Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak’ataini (ma’mûman/imâman) lillahi ta’ala.
Artinya:
“Aku niar shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”
Untuk diketahui, hukum pelafalan niat adalah sunnah. Sementara yang wajib yaitu ada maksud secara sadar dan sengaja dalam batin bahwa seseorang akan menunaikan shalat sunnah Idul Fitri.
2. Takbiratul Ihram
Sebagaimana shalat biasa, shalat Id juga terdapat takbiratul ihram. Usai membaca doa iftitah, disunnahkan takbir lagi hingga tujuh kali untuk rakaat pertama. Di sela-sela tiap takbir itu dianjurkan membaca:
Allahu akbar kabira, wal hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila
Artinya:
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.” Atau membaca:
Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar
Artinya:
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”
3. Membaca Al-Fatihah
Setelah selesai membaca iftitah dan melakukan takbir sebanyak tujuh kali, wajib membaca surat Al-Fatihah. Lalu dianjurkan membaca surat Al-A’la. Berlanjut ke ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
4. Rakaat Kedua
Di dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, disunnahkan takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan dan melafalkan allâhu akbar seperti rakaat sebelumnya. Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali bacaan sebagaimana dijelaskan pada poin kedua. Kemudian baca Surat al-Fatihah, lalu Surat al-Ghâsyiyah. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.
Untuk diketahui, hukum takbir tambahan (lima kali pada pada rakaat kedua atau tujuh kali pada rakaat pertama) adalah sunnah, sehingga tidak sampai menggugurkan keabsahan shalat Id apabila terjadi kelupaan mengerjakannya.
5. Mendengar Khutbah
Setelah shalat selesai dengan diakhiri gerakan salam, jamaah tidak disarankan buru-buru pulang, tetapi perlu mendengarkan khutbah Idul Fitri sampai selesai. Kecuali bila shalat id ditunaikan tidak secara berjamaah.
Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dalam sebuah hadits:
Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i). Untuk khatib, disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan khutbah kedua dengan takbir tujuh kali.
Demikian Catatan Singkat terkait Panduan Shalat Idul Fitri. Semoga bermanfaat adanya. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Selamat merayakan kemenangan.(*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar