Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
1 April 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (5)

Rab, 1 April 2026 Dibaca 495x

IMMIMPANGKEP – Mengenai kebaikannya (Rasulullah SAW) dalam bergaul dan sopan santun serta akhlaknya yang mulia bersama berbagai macam manusia, banyak disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih. Sehubungan dengan hal ini Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling lapang dadanya, paling jujur dalam berbicara, paling lembut sikapnya, dan paling mulia akhlaknya dalam bergaul.

Rasulullah saw. adalah orang yang dapat membuat orang-orang rukun dan tidak membuat mereka merasa antipati terhadapnya. Dia memuliakan setiap orang yang mulia di kalangan kaumnya, kemudian dia mengangkatnya menjadi pemimpin kaumnya.

Rasulullah saw. memberikan peringatan kepada umat manusia dan bersikap waspada terhadap mereka tanpa mendiskreditkan seorang pun dari kalangan mereka tentang kejelekan dan akhlak yang telah dilakukannya. Dia selalu memeriksa keadaan para sahabatnya dan selalu memberikan kepada setiap teman duduknya bagian yang selayaknya diperolehnya sehingga tidak ada seorang pun dari tempat duduknya yang merasakan bahwa ada seseorang yang lebih dimuliakan daripada dirinya di antara orang-orang yang duduk bersamanya, atau di antara kerabatnya yang datang karena suatu keperluan yang sengaja ditahannya sehingga orang itu pergi daripadanya. Siapapun yang meminta kepadanya suatu keperluan belum pernan ditolaknya. Ia berhasil memperoleh keperluannya itu atau ia hanya memperoleh nasihat yang baik.

Kelapangan dada dan akhlaknya membuat diri Nabi saw. menjadi tempat mengadu bagi semua orang sehingga jadilah ia bagaikan ayah mereka dan mereka mempunyai hak dan perlakuan yang sama di sisinya. Oleh sebab itu, Ibnu Abu Halah menggambarkan sifatnya bahwa ia adalah orang yang selalu gembira, mudah dalam bergaul dan lemah lembut, tidak keras, tidak kasar, tidak gaduh, tidak buruk, tidak mencela, dan tidak banyak memuji. Dia selalu melupakan hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi orang-orang tidak pernah merasa putus harapan terhadapnya. Sehubungan dengan sifat Rasulullah saw. Allah swt. berfirman: –

Maka karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 159)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Q.S. 41 Fushshilat: 34

Disebutkan bahwa Rasulullah saw. selalu memenuhi orang-orang yang mengundangnya dan selalu menerima hadiah sekalipun dalam bentuk kaki kambing, lalu ia langsung membalas hadiah itu. Telah disebutkan pula bahwa dia senang bergurau dengan para sahabatnya, bergaul dengan mereka dan berbincang-bincang bersama mereka, serta senang bermain dengan anak-anak mereka dan mendudukkan anak-anak mereka pada pangkuannya. Dia selalu memenuhi undangan orang merdeka, hamba sahaya lelaki, hamba sahaya perempuan, dan orang miskin. Dia selalu menjenguk teman-temannya yang sakit sekalipun rumahnya jauh dari batas kota Madinah, dan dia selalu menerima alasan orang yang diajukan kepadanya.

Sahabat Anas ibnu Malik r.a. menceritakan bahwa belum pernah ada seorang pun yang mengemukakan alasannya di hadapan Rasulullah untuk mendapat izin daripadanya, kemudian Rasulullah saw. memalingkan mukanya, kecuali setelah orang itu memalingkan mukanya terlebih dahulu. Belum pernah ada seorang pun yang berjabat tangan dengan Rasulullah saw. kemudian dia melepaskan tangannya sebelum orang itu lebih dahulu melepaskan tangannya. Rasulullah saw. selalu mulai lebih dahulu mengucapkan salam kepada orang-orang yang bertemu dengannya. Bilamana bertemu dengan para sahabatnya, ia selalu yang lebih dahulu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan mereka.

Disebutkan pula bahwa dia belum pernah mengulurkan kakinya di antara para sahabatnya sehingga ada orang yang merasa kesempitan karenanya. Rasulullah saw. selalu memuliakan orang yang bertamu kepadanya, dan terkadang ia menggelarkan pakaian atau bantal yang didudukinya, kemudian mempersilakan tamunya itu duduk di atasnya sekalipun tamunya menolak. Dia selalu memanggil para sahabatnya dengan nama panggilan yang disukai mereka sebagai penghormatan kepada mereka, dan belum pernah ia memotong pembicaraan seorang pun sebelum ia selesai pembicaraannya: setelah itu baru ia menjawabnya, baik dengan larangan ataupun dengan perintah. Disebutkan pula bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling banyak senyum dan paling baik budinya selain ketika sedang menerima wahyu Al-Qur’an atau sedang memberi nasihat atau sedang berkhotbah.

Rasa belas kasihan, rasa penyayang dan sifat rahmatnya terhadap se mua makhluk digambarkan Allah swt. melalui firman-Nya: Berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. 9 At-Taubah: 128). Dan tiadalah Karni mengutus kamu selain untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. 21 Al-Anbiya: 107)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki Badui datang menghadap dengan tujuan meminta sesuatu dari Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi apa yang dimintanya, kemudian ia berkata, “Apakah aku telah berbuat kebaikan terhadap diri engkau?”

Lelaki Badui itu menjawab, “Tidak, dan engkau tidak pula berbuat yang baik terhadap diriku.” Kala itu para sahabat marah terhadap lelaki Badui itu, kemudian mereka bangkit untuk menghajar lelaki Badui yang kurang ajar itu, tetapi Rasulullah saw. memberikan isyarat kepada mereka supaya tenang.

Lalu Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke dalam rumah, kemudian menambahkan pemberiannya kepada lelaki Badui itu. Setelah itu Rasulullah saw. berkata lagi kepadanya, “Apakah aku telah berbuat baik terhadap diri engkau?”

Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah swt. membalas pemberian engkau kepada kaum engkau sendiri dengan balasan yang baik.” Kala itu Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya engkau telah mengatakan perkataan yang telah engkau ucapkan tadi, dan ternyata di dalam diri para sahabatku terdapat sesuatu karena perilaku engkau itu. Jika engkau suka, katakanlah di hadapan mereka seperti apa yang telah engkau ucapkan di hadapanku sekarang ini supaya sesuatu yang mengganjal di hati mereka terhadap diri engkau lenyap.”

Lelaki Badui itu menjawab, “Baiklah, aku akan mengatakannya.” Ketika pada keesokan harinya atau pada sore hari itu juga lelaki Badui itu datang, Rasulullah saw. berkata, : “Sesungguhnya lelaki Badui ini telah mengatakan apa yang tadi dikatakannya, lalu kami memberinya tambahan, dan ja menduga bahwa ia telah merasa suka dengan pemberian tersebut. Bukankah demikian?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah swt. memberikan balasan atas pemberian engkau terhadap kaum engkau sendiri dengan pembalasan yang baik.”

Rasulullah saw. memberikan penjelasan kepada para sahabatnya,” Perumpamaan antara aku dan dia bagaikan seorang lelaki yang memiliki seekor unta, kemudian unta itu larat tak terkendali lagi. Orang-orang mengejarnya, tetapi justru makin menambah larat unta. Lelaki itu atau pemilik unta tersebut memanggil mereka, biarkanlah dia yang akan menangkap untanya itu karena dia lebih belas kasihan terhadapnya daripada mereka, dan dia lebih mengetahui tentang untanya daripada mereka.

Selanjutnya lelaki itu berangkat dan sampai di hadapan untanya, lalu ia langsung dapat menangkapnya dari tempat pelariannya, dan ia dapat mengembalikannnya ke tempat semula. Setelah itu ia datang dan merundukkan untanya, kemudian mengikatkan pelana ke atas punggungnya, lalu langsung menaikinya. Sesungguhnya jika aku membiarkan kalian sewaktu lelaki Badui itu mengatakan apa yang telah dikatakannya, kemudian kalian membunuhnya karena emosi, niscaya lelaki Badui itu akan masuk neraka.”

Selanjutnya Rasulullah saw. berkata, “Aku tidak menginginkan ada seseorang di antara kalian menyampaikan suatu berita tentang para sahabatku karena sesungguhnya aku ingin agar bertemu dengan kalian sementara dadaku dalam keadaan lapang.”

Pada suatu ketika, sewaktu Rasulullah sedang melakukan salat dan menjadi imam, ia mendengar tangisan anak kecil. Ia segera mempercepat salatnya karena merasa kasihan kepada anak kecil itu sebab ibunya sedang makmum bersamanya. Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud menceritakan, bahwa Rasulullah saw. selalu menyelingi nasihatnya kepada mereka dengan hal-hal lain karena takut mereka akan bosan bila dilakukan terus-menerus.

Sehubungan dengan akhlak Rasulullah saw., khususnya dalam hal memenuhi janji, dalam berjanji, serta kegemarannya bersilaturrahim, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibnu Abul Khamsa yang menceritakan bahwa ia telah berjanji akan mengadakan transaksi jual-beli bersama Nabi saw. sebelum ia diangkat menjadi rasul. Setelah hal itu berlangsung, ternyata ia masih berutang kepada Nabi, maka ia berjanji akan membawanya sendiri guna melunasi utangnya itu di tempat yang telah dijanjikannya. Akan tetapi, ternyata ia lupa. Setelah lewat tiga hari ia teringat akan janjinya kepada Nabi, lalu ia mendatangi tempat tersebut. Ternyata ia menjumpai Nabi saw. telah berada di tempat yang dijanjikannya itu. Nabi saw. lalu berkata, “Hai pemuda, engkau ini sungguh telah membuat aku capai menunggu engkau. Aku sudah berada di tempat ini sejak tiga hari yang lalu menunggu kedatangan engkau.”

Bilamana Rasulullah saw. mendapat hadiah, dia berkata, “Bawalah oleh kalian hadiah itu ke rumah si Fulanah karena sesungguhnya dia adalah teman baik Khadijah, dia benar-benar mencintainya.” Rasulullah saw. selalu menghubungkan silaturrahim dengan semua kerabatnya tanpa memandang bulu dan tanpa pilih kasih.

Pada suatu hari datang para utusan menghadap Rasulullah saw. Dia bangkit meladeni mereka, lalu para sahabat berkata, “Biarkanlah kami yang meladeni mereka.” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya para utusan itu berlaku sangat hormat terhadap para sahabatku, maka aku bernaksud membalas budi mereka.” Siti Khadijah r.a. berkata, “Bergembiralah, demi Allah, selamanya Dia tidak akan mengecewakan engkau, sesungguhnya engkau adalah orang yang gemar ber-silaturrahim, menanggung beban, mengupayakan orang yang tidak mampu, selalu menghormati tamu, dan selalu menolong orang-orang yang tertimpa bencana.”

Adapun sifat rendah diri Rasulullah saw., sekalipun kedudukan dan pangkatnya sangat tinggi, ia adalah orang yang paling rendah diri dan hampir tidak pernah takabbur. Kiranya cukup untuk dijadikan sebagai bukti, bahwa pada suatu hari dia disuruh memilih antara menjadi seorang nabi lagi seorang raja, atau seorang nabi tetapi bersifat sebagai hamba biasa. Kala itu Rasulullah saw. memilih menjadi seorang nabi lagi hamba biasa.

Pada suatu hari Rasulullah saw. keluar menemui para sahabatnya. Pada waktu itu ia berjalan seraya bertopang pada sebilah tongkat. Ketika para sahabat melihat kedatangannya, lalu mereka bediri sebagai penghormatan kepadanya. Ketika itu juga Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri karena menghormat sesama mereka.: Lalu ia meneruskan, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah. Aku makan sebagaimana seorang hamba Allah makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba Allah duduk.”

Bila menaiki kendaraannya, Rasulullah saw. sering memboncengkan seseorang di belakangnya. Dia gemar berkunjung kepada kaum fakir-miskin dan bergaul dengan mereka, atau memenuhi undangan seorang hamba sahaya. Dia selalu duduk-duduk, campur bersama para sahabatnya, di mana ada tempat, maka di situlah dia duduk bersama para sahabatnya.

Rasulullah saw. berkata, “Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku bagaikan orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung anak lelaki Maryam (Nabi ‘Isa). Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Sebutlah aku sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw. melakukan ibadah haji hanya membawa bekal yang harganya tidak mencapai empat dirham, dan hanya memakai pelana yang sederhana sekali. Kemudian ia berdoa, “Ya Ailah, jadikanlah hal ini sebagai haji yang sebenarnya, bukan karena ria dan bukan pula karena harga diri.” Padahal waktu ia melakukan ibadah haji, dihadiahkan kepadanya sebanyak seratus ekor unta, dan berbagai negeri telah dapat dibukanya.

Ketika kota Makkah dibuka (ditaklukkan), kemudian beliau memasuki kota Makkah bersama tentara kaum Muslimin, ia merundukkan kepalanya di atas kendaraan sehingga kepalanya hampir menyentuh bagian depan pelananya. Demikianlah yang dilakukannya karena merendahkan diri kepada Allah. Sahabat Abu Hurairah r.a. telah meriwayatkan sebuah hadis, “Aku memasuki pasar bersama Rasulullah saw. lalu ia membeli beberapa celana dan mengatakan kepada penjualnya, “Ukurlah dan lebihkanlah.” Selanjutnya Abu Hurairah menceritakan, “Penjual itu menangkap tangan Rasulullah dan langsung menciuminya, tetapi Rasulullah saw. menarik tangannya seraya mengatakan, ‘Ini kebiasaan yang dilakukan oleh orangorang ‘Ajam terhadap raja-raja mereka. Aku bukanlah seorang raja. Sesungguhnya aku hanyalah seorang lelaki diantara kalian. Selanjutnya Rasulullah saw. mengambil celana-celana yang dibelinya itu. Aku bermaksud membawakannya, tetapi dia berkata, ‘Orang yang memiliki sesuatu lebih berhak untuk membawanya.”

 

(Bersambung …. )

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077