Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, hari ini, Rabu (21/10/2026) Menjadi Pembicara Bedah Buku “Menuliskan yang Lisan – Sehimpun Esai Lokalitas di Kabupaten Pangkep” di Aula Asdar Muis RMS Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusarsip) Pemkab Pangkep. Isi buku “Menuliskan yang Lisan” adalah kumpulan esai dari para peserta yang pernah mengikuti Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal pada Tahun 2025 yang pernah diselenggarakan oleh Dispusarsip Pangkep.
Bedah Buku berlangsung dari Pukul 09.00 s.d. 12.00 WITA diikuti oleh seluruh peserta Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya pada Tahun 2025 dan peserta lain yang mengikuti rangkaian Festival Literasi Pangkep (FLP) yang berlangsung selama sepekan dari Tanggal 20 -24 Oktober 2026. Selain penulis, Dispusarsip juga menghadirkan dua esais kontributor buku tersebut dan mengundang diskusi menarik seputar aspek lokalitas Pangkep, terkait sejarah, budaya dan bahasa daerah Pangkep.
Judul Menuliskan yang Lisan mengandung makna yang menarik. Ada sesuatu yang selama ini dituturkan, diceritakan, diingat, dan diwariskan secara turun-temurun, tetapi belum tentu memperoleh tempat yang memadai dalam dokumentasi tertulis. Sesuatu itu bisa berupa tradisi, bahasa, sejarah kampung, pengalaman masyarakat, pengetahuan lokal, kesenian, adat istiadat, maupun perubahan sosial yang berlangsung di sekitar kita.
Pertanyaannya, bagaimana jika semua itu tidak lagi dituturkan? Bagaimana jika para tetua yang menyimpan ingatan tentang sejarah kampung telah tiada, sementara kisah-kisah mereka belum sempat direkam? Bagaimana jika bahasa daerah kehilangan penuturnya, tradisi mulai ditinggalkan, dan generasi muda semakin jauh dari pengetahuan tentang asal-usul lingkungannya? Di situlah pentingnya buku ini dan peran penting para penulisnya dalam menghidupkan tradisi lisan.
Sebagai pemerhati sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan, penulis memandang lokalitas bukan sekadar urusan tempat, nama kampung, atau cerita masa lalu. Lokalitas adalah ruang tempat identitas dibentuk, nilai-nilai diwariskan, dan pengalaman manusia memperoleh maknanya. Pangkep memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang berlapis. Wilayah daratan, pesisir, kepulauan, serta hubungan antarmasyarakatnya membentuk pengalaman sosial yang beragam. Di dalamnya terdapat ingatan tentang leluhur, tradisi tutur, bahasa, kesenian, praktik adat, dan berbagai pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat.
Namun, kekayaan itu tidak akan otomatis bertahan hanya karena pernah ada. Kebudayaan membutuhkan orang-orang yang bersedia mempelajari, merawat, mengkritisi, dan mendokumentasikannya. Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti, arsip pemerintahan, atau manuskrip tua. Sejarah juga hidup dalam ingatan masyarakat, dalam penuturan seorang tetua, dalam nama tempat, dalam praktik adat, dan dalam kebiasaan yang terus diulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi lisan patut diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang penting. Tentu saja, tradisi lisan perlu dikaji secara kritis, dibandingkan dengan sumber lain jika tersedia, dan ditempatkan dalam konteks sejarahnya. Akan tetapi, kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak pengalaman masyarakat yang tidak tercatat dalam dokumen resmi justru tersimpan dalam ingatan kolektif mereka.
Selamat atas terselenggaranya bedah buku “Menuliskan yang Lisan”, dan semoga mendapatkan perhatian yang layak dari para pembacanya, khususnya dalam memotivasi generasi kekinian untuk turut menulis dan berkontribusi “Menuliskan yang Lisan” pada daerah dan lingkungan yang diakrabinya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
Komentar Terbaru