Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: 22 Puisi Akrostik Atas Nama Santriwati Kelas XII
IMMIMPANGKEP – Menulis puisi akrostik sejumlah nama santriwati yang tinggal dan hidup dalam lingkungan pondok pesantren dengan latar belakang sosial budaya, daerah dan suku yang berbeda-beda, sungguh bukan proses kreatif yang tidak mudah. Kegiatan mencipta puisi ini cukup memacu adrenalin, bukan sekadar tugas merangkai kata, melainkan sebuah aktivitas psikologi sosial dan literasi kreatif yang sangat seru. Mengapa Ini Seru? Ya, Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan kata yang sulit dan menghubungkannya dengan karakter siswi/santri tersebut. Hal ini merupakan salah satu bentuk validasi diri, permainan teka teki atau bisa juga menjadi bahan canda. Terkadang akrostik yang dibuat secara santai memunculkan diksi-diksi lucu yang menggambarkan kebiasaan unik santri sekelas, yang membuat suasana kelas menjadi cair.
Proses kreatif menyusun dan merangkai puisi akrostik merupakan satu bentuk pembelajaran sastra tersendiri, ada penguatan aspek literasi dan linguistik (kecerdasan bahasa) didalamnya, khususnya menyangkut Pengayaan Kosakata serta Pengenalan Rima dan Irama. Pun ada penguatan Aspek Karakter dan Sosial (Emotional Intelligence), khususnya dalam membangun empati, meningkatkan Kepercayaan Diri, dan mempererat Ikatan (Bonding) sesama santri atau antara guru dengan santri.
Puisi akrostik juga bisa membangun Aspek Pedagogis bagi Guru. Sebagai guru bisa melihat bagaimana dinamika pertemanan di kelas dan bagaimana persepsi siswa terhadap diri mereka sendiri maupun teman-temannya. Dan tentu disana, ada Penyaluran Energi Kreatif untuk menghindari kejenuhan dari materi akademik yang berat (seperti Nahwu/Shorof) tanpa meninggalkan esensi belajar bahasa. Untuk menghindari kejenuhan dalam pemenuhan diksi akrostik, puisi terkadang dibuat berdasar kaidah nahwu, tajwid, dan ulumul hadits, atau berdasarkan istilah drumband, palang merah remaja atau bela diri yang menjadi talenta santriwati yang dijadikan namanya sebagai materi puisi akrostik.

Buku Antologi Puisi Akrostik, “Risalah Untuk Putri IMMIM”, Media Palontaraq. (foto: ist/*)
Berikut ini Sehimpun Puisi Akrostik (diposting memakai nama pena: Etta Adil di Web Blog Palontaraq) yang diambil atas nama dan untuk nama santriwati Kelas X dibawah ini:
1. Aisyah Mardhatillah Ihwan ~ Puisi: Menjadi Cahaya di Jalan Ilmu dan Al-Qur’an
2. Ajeng Septiani Putri ~ Puisi: Derap Harmoni Sang Santri
3. Almira Mufidah AH ~ Puisi: Jejak Qur’ani Seorang Santri
4. Amirah Zahidah ~ Puisi: Matan Kehidupan Seorang Santri
5. Andi Tenri Zahra Ramadhani ~ Puisi: Harapan di Balik Perpisahan
6. Arifah Azizah ~ Puisi: Jejak Tahfidz Seorang Santri
7. Asti Asliyah Ahmad ~ Puisi: Dreams Step by Step
8. Ghaziya Hafiza Nasrullah ~ Puisi: Si Mungil di Garis Finish
9. Ismi Syarifah ~ Puisi: Cahaya Ayat di Pundak Amanah
10. Khanza Azka Sitara Hidayat ~ Puisi: Menulis Takdir dengan Iman dan Kata
11. Meuthya Kamaratih ~ Puisi: Muraja’ah dalam Do’a
12. Mufidah Nurul Haq Suardi ~ Puisi: Jejak Ushul Fiqih Mufidah
13. Mutmainna Rahmadani ~ Puisi: Harmoni Gerak dan Doa
14. Nadya Apriliani ~ Puisi: Maaf yang Terlambat untuk Nadya
15. Naura Faisal ~ Puisi: Identitas Lokal, Nurani Universal

16. Nur Ain ~ Puisi: Dari Ladang Rantau ke Pelataran Ilmu
17. Nurhalisa ~ Puisi: Resiliensi di Dua Negeri
18. Nurul Fatimah binti Didit ~ Puisi: Dari Luang Manis ke Pelataran Ilmu
19. Nurul Fitri Ramadhani ~ Puisi: Sabuk Iman Seorang Santri
20. Nurul Fitriyana ~ Puisi: Cahaya Tajwid, Cahaya Perjuangan
21. Qhilby Abhya ~ Puisi: Berhati Putih, Menari dalam Iman
22. Silva Shafira Jurman ~ Puisi: I‘rab Ilmu, Pilar Kehidupan
23. Zahra ~ Puisi: Raf‘u di Tengah Nasb
24. Zahra Ainun Nayla ~ Puisi: Hijrah Menuju Makna
25. Zahra Humaira ~ Puisi: Tartil Menuju Kemuliaan
26. Indri Paramita, S.Pd (Wali Kelas XI SMA) ~ Puisi: Sunyi yang Berempati
27. Nur Hikmah, S.Hum., M.Pd (Wali Asrama Masyitah) ~
Demikianlah 26 Puisi Akrostik, 25 puisi untuk dan atas nama Santriwati Kelas X dan seorang lagi adalah Wali Kelas X dalam lingkungan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep. Barakallahu fiikum. (*)

Tinggalkan Komentar