Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengenal Kitabul Jami’

Kitabul Jami

Kitabul Jami’. (foto: ist/*)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengenal Kitab Bulughul Maraam dan Ibnu Hajar al-Asqalani

BLOGGURU – Apa itu Kitabul Jami’? Pernah mendengarnya atau bahkan sudah dihafalkan hadits-hadits yang ada dalam Kitab Jami’?  Ya, Kitabul Jami’ memang memuat kumpulan hadits pada bagian terakhir Kitab Bulughul Maraam min Adillatil Ahkam karya Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (wafat 852 H).

Jadi, sebenarnya yang dimaksud Kitabul Jami’ bukanlah sebuah kitab, tetapi merupakan kumpulan hadits yang terdapat dalam Kitab Hadits “Bulughul Maraam”. Uniknya, hadits-hadits yang dikategorikan masuk dalam Kitabul Jami’ bukanlah kumpulan hadits Ahkam (Fikih), tetapi lebih kepada kumpulan hadits Adab dan Akhlak. Ya, Al-Hāfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah memang menjadikan Kitābul Jāmi’ sebagai bab penutup dari kitab karya fenomenalnya, “Bulughul Maraam”.

Kitab Bulūghul Marām min Adillatil Ahkām tentu tak asing bagi pelajar, santri, mahasiswa dan sarjana muslim dan tentu banyak khalayak muslim. Kitab ini merupakan salah satu karya tulis ringkas terbaik yang merangkum sejumlah hadits Rasulullah ﷺ dalam kajian fikih. Berbagai hadis yang dimuat di dalamnya terkategorikan ke dalam hadis-hadis yang merupakan fondasi hukum Islam di kalangan para ulama. Dimulai dari Bab Taharah, Bab Salat, Bab Haji, Bab Zakat, Bab Jihad, dan seterusnya, disajikan secara apik dan ringkas, termasuk pula penisbahannya kepada referensi primer di mana hadits tersebut diriwayatkan dengan sanadnya, serta penilaian terhadap derajat haditsnya.

Mengapa Kitābul Jāmi’ hanya memuat hadits tentang adab dan akhlak, tentunya Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani hendak mengingatkan bahwasanya penguasan terhadap bab-bab fikih, sepatutnya tidak terpisahkan dari balutan adab yang baik dan akhlak yang mulia. Seakan beliau rahimahullah hendak mengingatkan, bahwa dalam diri seseorang, apabila ilmu tidak dihiasi dengan adab dan akhlak.

Dalam sejarah tradisi penulisan ilmiah Islam, ditengarai bahwa yang pertama kali menginovasi sebutan Kitabul Jami’ adalah Imam Malik bin Anas (wafat 179 H), sebagaimana disebutkan oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi al-Ma’afiri (wafat 543 H) dalam al-Qabas yang merupakan syarah milik beliau untuk kitab al-Muwaththa`.

Alasan penamaannya seperti itu oleh Imam Malik, menurut Ibnul ‘Arabi, adalah karena isi Kitab Bulughul Maraam yang tidak serasi dengan bentuk taklif dari berbagai hukum yang telah terkategorisasikan ke dalam pelbagai bab dan sub-bab. Saat Imam Malik menganalisis ragam hukum syara’ dan mendapatinya terbagi menjadi kelompok perintah, larangan, ibadah dan muamalah, serta jinayah, beliau pun merangkainya dan mengaitkan jenis yang satu dengan lainnya. Kemudian didapati sejumlah makna dari ajaran syara’ yang tidak dapat dikelompokkan menjadi satu, juga tidak pas untuk dimasukkan satu-persatunya ke dalam suatu bab terpisah dari lainnya karena terlalu ringkas. Akhirnya, beliau pun mengumpulkan dan merangkaikannya menjadi satu dalam kumpulan yang kemudian diberi nama Kitabul Jami’.

Pengelompokan tersendiri Kitabul Jami’ ini, membuka horizon para ulama hadits di masa-masa selanjutnya. (Lihat: Abu Bakar Ibnul ‘Arabi, al-Qabas, 3/1082. Uraian serupa juga dikutip dari Ibnul ‘Arabi oleh as-Suyuthi dalam Tanwir al-Hawalik, 3/82, namun dinisbahkan kepada tafsirnya).

Dilihat dari sistematika penyusunan Bulughul Maram, dalam hal penyertaan Kitabul Jami’ dan penempatannya pada bagian paling akhir, tampaknya al-Hafizh Ibnu Hajar mengikuti para ulama pendahulunya yang juga menuliskan buku kompilasi hadis-hadis hukum secara ringkas semisal Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H) dalam al-Ilmam dan Ibnu Abdil Hadi (wafat 744 H) dalam al-Muharrar.

Al-jami’ dalam bahasa Arab artinya yang mengumpulkan atau yang mencakup. Ia disebut sebagai Kitābul Jāmi’, karena kitab ini mencakup 6 bab yang berkaitan dengan akhlak, yaitu sebagai berikut:

Bab Pertama – Bab al-Adab.

Bab Kedua – Bab al-Birr wa ash-Shilah, yaitu bab tentang bagaimana beramal kebajikan dan bagaimana mengukuhkan tali silaturahim.

Bab Ketiga – Bab az-Zuhd wa al–Wara’, tentang zuhud dan sifat warak.

Bab Keempat – Bab at-Targhib min Makarim al-Akhlaq, bab yang berisi peringatan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Bab Kelima – Bab at-Targhib min Makarim al-Akhlaq, bab yang berisi motivasi untuk berakhlak mulia.

Bab Keenam – Bab adz-Dzikr wa ad–Du’ā, bab yang berkaitan dengan zikir dan doa.

Maka demikianlah Kitabul Jami’ yang kita kenal hingga saat ini, dan di kalangan pelajar dan santri, di madrasah dan pondok pesantren, pengelompokan hadits dalam Kitabul Jami’ ini justru memudahkan penghafalan hadits-hadits Adab dan Akhlak.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

 

Artikel/tulisan terkait: 

Hadits-Hadits Adab dalam Kitabul Jami’ (1)

Hadits-hadits Silaturahim dan Kebaikan dalam Kitabul Jami’ (2)

Hadits-hadits Zuhud dan Wara’ dalam Kitabul Jami’ (3)

Mengenal istilah Ilmu Hadits

 

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR