Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Fathul Qarib Bab Qurban

Kitab Fathul Qarib Bab Qurban

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Terjemah Muqaddimah Kitab Fathul Qorib (Fath Al-Qarib)

BLOGGURU – Berikut ini penjelasan Bab Qurban dalam Kitab Fikih, “Fathul Qarib”.

(Fasal) menjelaskan Hukum-hukum Qurbàn.

 

(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ (الْأُضْحِيَّةِ)

 

Al-Udhhiyah, dengan membaca dlammah huruf hamzahnya menurut pendapat yang paling masyhùr, yaitu nama binatang ternak yang disembelih pada hari Raya Qurbàn dan hari At-Tasyríq karena untuk mendekatkan diri pada Allàh Swt.

 

بِضَمِّ الْهَمْزَةِ فِيْ الْأَشْهَرِ وَهُوَ اسْمٌ لِمَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ يَوْمَ عِيْدِ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى

 

Hukum Qurbàn

Al-Udhhiyah hukumnya adalah sunnah kifàyah muakkadah.

 

(وَالْأُضْحِيِّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ) عَلَى الْكِفَايَةِ

 

Sehingga, ketika salah satu dari penghuni suatu rumah telah ada yang melaksanakannya, maka sudah mencukupi dari semuanya.

 

فَإِذَا أَتَى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ جَمِيْعِهِمْ

 

Al-Udhhiyah tidak bisa wàjib kecuali dengan nadzar.

 

وَلَا تَجِبُ الْأُضْحِيَّةُ إِلَّا بِنَذْرٍ

 

Binatang Qurbàn

Yang bisa mencukupi di dalam Al-Udhhiyah adalah kambing domba yang berusia satu tahun dan menginjak dua tahun.

 

(وَيُجْزِئُ فِيْهَا الْجَذْعُ مِنَ الضَّأْنِ) وَهُوَ مَا لَهُ سَنَةٌ وَطَعَنَ فِيْ الثَّانِيَةِ

 

Dan kambing kacang yang berusia dua tahun dan menginjak tiga tahun.

 

(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ) وَهُوَ مَا لَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

 

Dan onta ats-tsaniyah yang berusia lima tahun dan memasuki usia enam tahun.

 

(وَالثَّنِيُّ مَنَ الْإِبِلِ) مَا لَهُ خَمْسُ سِنِيْنَ وَطَعَنَ فِيْ السَّادِسَةِ

 

Dan sapi ats-tsaniyah yang berusia dua tahun dan memasuki usia tiga tahun.

 

(وَالثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرَةِ) مَالَهُ سَنَتَانِ وَطَعَنَ فِيْ الثَّالِثَةِ

 

Untuk Siapa Qurbàn?

Satu èkor onta cukup digunakan qurbàn untuk tujuh orang yang bersama-sama melakukan qurbàn dengan satu onta.

 

(وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) اشْتَرَكُوْا فِيْ التَّضْحِيَّةِ بِهَا

 

Begitu juga satu èkor sapi cukup digunakan qurbàn untuk tujuh orang.

 

(وَ) تُجْزِئُ (الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَذَلِكَ

 

Satu èkor kambing hanya cukup digunakan qurbàn untuk satu orang. Dan satu ékor kambing lebih afdhal daripada bersama-sama dengan orang lain melakukan qurbàn dengan onta.

 

(وَ) تُجْزِئُ (الشَّاةُ عَنْ) شَخْصٍ (وَاحِدٍ) وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ فِيْ بَعِيْرٍ

 

Qurbàn yang paling utama adalah onta, kemudian sapi lalu kambing.

 

وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْأُضْحِيَّةِ إِبِلٌ ثُمَّ بَقَرٌ ثُمَّ غَنَمٌ.

 

Binatang Yang Tidak Sah

Ada empat (4) binatang, dalam sebagian rédaksi menggunakan bahasa, “arba’atun” yang tidak mencukupi untuk dijadikan qurbàn.

 

(وَأَرْبَعٌ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَأَرْبَعَةٌ (لَا تُجْزِئُ فِيْ الضَّحَايَا)

 

Salah satunya adalah binatang yang buta satu matanya yang nampak jelas, walaupun bulatan matanya masih utuh menurut pendapat al-ashah.

 

أَحَدُهَا (الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ) أَيْ ظَاهِرٌ (عِوَرُهَا) وَإِنْ بَقِيَتِ الْحَدَقَةُ فِيْ الْأَصَحِّ

 

Yang kedua adalah binatang pincang yang nampak jelas pincangnya, walaupun pincang tersebut terjadi sa’at menidurkan miring binatang itu karena untuk disembelih sa’at prosési qurbàn sebab gerakan binatang tersebut.

 

(وَ) الثَّانِيْ (الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا) وَلَوْ كَانَ حُصُوْلُ الْعَرَجِ لَهَا عِنْدَ إِضْجَاعِهَا لِلتَّضْحِيَّةِ بِهَا بِسَبَبِ اضْطِرَابِهَا

 

Yang ketiga adalah binatang sakit yang nampak jelas sakitnya.

 

(وَ) الثَّالِثُ (الْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا)

 

Dan tidak masalah jika hàl-hàl ini hanya sedikit saja.

 

وَلَا يَضُرُّ يَسِيْرُ هَذِهِ الْأُمُوْرِ

 

Yang keempat adalah binatang al ‘ajfa’, yaitu binatang yang hilang bagian otaknya sebab terlalu kurus.

 

(وَ) الرَّابِعُ (الْعَجْفَاءُ) وَهِيَ (الَّتِيْ ذَهَبَ مُخُّهَا) أَيْ ذَهَبَ دِمَاغُهَا (مِنَ الْهُزَالِ) الْحَاصِلِ لَهَا.

 

Sudah dianggap cukup berqurbàn dengan binatang yang dikebiri, maqshúdnya binatang yang dipotong dua pelirnya, dan binatang yang pecah tanduknya jika mèmang tidak berpengaruh apa-apa pada dagingnya.

 

(وَيُجْزِئُ الْخَصِيُّ) أَيِ الْمَقْطُوْعُ الْخَصِيَّتَيْنِ (وَالْمَكْسُوْرُ القَرْنِ) إِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْ اللَّحْمِ

 

Begitu juga mencukupi berqurbàn dengan binatang yang tidak memiliki tanduk, dan binatang seperti ini disebut dengan al jalja’.

 

وَيُجْزِئُ أَيْضًا فَاقِدَةُ الْقُرُوْنِ وَهِيَ الْمُسَمَّةُ بِالْجَلْجَاءِ

 

Tidak mencukupi berqurbàn dengan binatang yang terpotong seluruh telinganya, sebagiannya atau terlahir tanpa telinga.

 

(وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوْعَةُ) كُلُّ (الْأُذُنِ) وَلَا بَعْضُهَا وَلَا الْمَخْلُوْقَةُ بِلَا أُذُنٍ

 

Dan tidak mencukupi binatang yang terpotong seluruh atau sebagian èkornya.

 

(وَ) لَا الْمَقْطُوْعَةُ (الذَّنْبِ) وَلَا بَعْضِهِ

 

Waqtu Pelaksanaan Qurbàn

Waqtu penyembelihan qurbàn dimulai dari waqtunya shalàt Hari Raya, maqshùdnya Hari Raya Qurbàn.

 

(وَ) يَدْخُلُ (وَقْتُ الذَبْحِ) لِلْأُضْحِيَّةِ (مِنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ النَّحْرِ

 

Ungkapan kitàb ar-Raudhah dan kitàb ashalnya, “waqtu pelaksanaan qurbàn masuk ketika terbitnya matahari Hari Raya Qurbàn dan telah melèwati kira-kira waqtu yang cukup untuk melaksanakan shalàt dua raka’at dan dua khutbah yang dilakukan agak cepat.” Ungkapan kitàb ar-Raudhah dan kitàb ashalnya telah selesai.

 

وَعِبَارَةُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا يَدْخُلُ وَقْتُ التَّضْحِيَّةِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ النَّحْرِ وَمَضَى قَدْرُ رَكْعَتَيْنِ وَخُطْبَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ انْتَهَى

 

Waqtu penyembelihan binatang qurbàn tetap ada hingga terbenamnya matahari di àkhir hari at-Tasyríq. Hari at-Tasyríq adalah tiga hari yang bersambung setelahnya tanggal sepuluh Dzil Hijjah.

 

وَيَسْتَمِرُّ وَقْتُ الذَّبْحِ (إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ) وَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمُتَّصِلَةُ بِعَاشِرِ الْحِجَّةِ

 

Kesunnahan Qurbàn

Disunnahkan melakukan lima (5) perkara sa’at pelaksanaan qurbàn,

 

(وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ الذَّبْحِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ)

 

Salah satunya adalah membaca basmalah. Maka orang yang menyembelih sunnah mengucapkan, “bismillah”. Dan yang paling sempurna adalah, “bismillàhirahmànirrahím.”

 

أَحَدُهَا (التَّسْمِيَّةُ) فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “بِسْمِ اللهِ” وَالْأَكْمَلُ “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ”

 

Dan seandainya orang yang menyembelih tidak mengucapkan basmalah, maka binatang qurbàn yang disembelih hukumnya halàl.

 

وَلَوْ لَمْ يُسَمِّ حَلَّ الْمَذْبُوْحُ

 

Yang kedua adalah membaca shalawàt kepada baginda Nabí Saw.

 

(وَ) الثَّانِيْ (الصَّلَّاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

 

Dimakrúhkan mengumpulkan diantara nama Allàh dan nama Rasúl-Nya.

 

وَيُكْرَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ اسْمِ اللهِ وَاسْمِ رَسُوْلِهِ

 

Yang ketiga adalah menghadapkan binatang qurbànnya ke arah qiblat.

 

(وَ) الثَّالِثُ (اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ) بِالذَّبِيْحَةِ

 

Maksudnya, orang yang menyembelih menghadapkan léhér binatang yang disembelih ke arah qiblat. Dan ia sendiri juga menghadap qiblat.

 

أَيْ يُوَجِّهُ الذَّابِحُ مَذْبَحَهَا لِلْقِبْلَةِ وَيَتَوَجَهُ هُوَ أَيْضًا.

 

Keempat adalah membaca takbír tiga kali, maqshúdnya sebelum atau setelah membaca basmalah, sebagaimana yang dijelaskan oléh Imàm al-Mawardi.

 

(وَ) الرَّابِعُ (التَّكْبِيْرُ) أَيْ قَبْلَ التَّسْمِيَّةِ أَوْ بَعْدَهَا ثَلَاثًا كَمَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ

 

Yang kelima adalah berdo’a semoga diterima oléh Allàh Swt.

 

(وَ) الْخَامِسُ (الدُّعَاءُ بِالْقَبُوْلِ)

 

Maka orang yang menyembelih berkata, “Yà Allàh, ini adalah dari Engkau dan untuk Engkau, maka sudilah Engkau menerimanya.” Maqshúdnya, “binatang qurbàn ini adalah ni’mat dari-Mu untuk-ku, dan aku mendekatkan diri pada-Mu dengan binatang qurbàn ini, maka terimalah binatang qurbàn ini dariku.”

 

فَيَقُوْلُ الذَّابِحُ “اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ” أَيْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّةُ نِعْمَةٌ مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

 

Memakan Daging Qurbàn

Orang yang melaksanakan qurbàn tidak diperkenankan memakan apapun dari qurbàn yang dinadzari.

 

(وَلَا يَأْكُلُ الْمُضَّحِيْ شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ)

 

Bahkan bagi dia wàjib menshadaqahkan semua dagingnya.

 

بَلْ تَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِ لَحْمِهَا

 

Kemudian, seandainya ia menunda untuk menshadaqahkannya hingga rusak, maka wàjib baginya untuk mengganti.

 

فَلَوْ أَخَّرَهَا فَتَلِفَتْ لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

 

Ia diperkenankan memakan sepertiga dari binatang qurbàn yang sunnah menurut pendapat al-Jadíd.

 

(وَيَأْكُلُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا) ثُلُثًا عَلَى الْجَدِيْدِ

 

Sedangkan untuk dua sepertiganya, maka ada yang mengatakan harus dishadaqahkan, dan ini diunggulkan oléh Imàm an-Nawawi di dalam kitàb Tashhíh at-Tanbíh.

 

وَأَمَّا الثُّلُثَانِ فَقِيْلَ يُتَصَدَّقُ بِهِمَا وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ تَصْحِيْحِ التَّنْبِيْهِ

 

Dan ada yang mengatakan, bahwa ia menghadiahkan sepertiga dari dagingnya kepada qaum muslimín yang kaya dan menshadaqahkan sepertiganya kepada qaum faqír.

 

وَقِيْلَ يُهْدِيْ ثُلُثًا لِلْمُسْلِمِيْنَ الْأَغْنِيَاءَ وَيَتَصَدَّقُ بِثُلُثٍ عَلَى الْفُقَرَاءِ مِنْ لَحْمِهَا

 

Di dalam kitàb ar-Raudhah dan kitàb ashalnya, Imàm an-Nawawi tidak mengunggulkan salah satu dari dua pendapat ini.

 

وَلَمْ يُرَجِّحِ النَّوَوِيُّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا شَيْئًا مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ

 

Menjual Daging Qurbàn

Tidak bolèh menjual, maqshúdnya bagi orang yang melaksanakan qurbàn diharàmkan untuk menjual bagian dari binatang qurbànnya, maqshùdnya dari daging, bulu atau kulitnya.

 

(وَلَا يَبِيْعُ) أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُضَّحِيْ بَيْعُ شَيْئٍ (مِنَ الْأُضْحِيَّةِ) أَيْ مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْ جِلْدِهَا

 

Begitu juga haràm menjadikan bagian dari binatang qurbàn sebagai ongkos untuk pejagal, walaupun berupa binatang qurbàn yang sunnah.

 

وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأُضْحِيَّةِ تَطَوُّعًا

 

Wàjib memberi makan bagian dari binatang qurbàn yang sunnah kepada qaum faqír dan qaum miskìn.

 

(وَيُطْعِمُ) حَتْمًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوِّعَةِ بِهَا (الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ)

 

Yang paling utama adalah menshadaqahkan semuanya kecuali satu atau beberapa cuil daging yang dimakan oléh orang yang melakukan qurbàn untuk mengharapkan berkah. Karena sesungguhnya hàl itu disunnahkan baginya.

 

وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا إِلَّا لُقْمَةً أَوْ لُقَمًا يَتَبَرَّكُ الْمُضَّحِيْ بِأَكْلِهَا فَإِنَّهُ يُسَنُّ لَهُ ذَلِكَ

 

Ketika ia memakan sebagian dan menshadaqahkan yang lainnya, maka ia telah mendapatkan pahala berqurbàn semuanya dan pahala shadaqah sebagiannya saja.

 

وَإِذَا أَكَلَ الْبَعْضَ وَتَصَدَّقَ بِالْبَاقِيْ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ التَّضْحِيَّةِ بِالْجَمِيْعِ وَالتَّصَدُّقِ بِالْبَعْضِ

 

Sumber: Kitàb Fathul Qaríb.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Ikhtisar Amaliah Ibadah Qurban
Oleh : Immim pangkep

Ikhtisar Amaliah Ibadah Qurban

0 Komentar

KELUAR