Bagaimana Cara Membuatnya atau proses kreatif lahirnya Puisi Akrostik? Ya, membuat puisi akrostik sangat cocok bagi pemula karena struktur hurufnya sudah memberikan panduan tentang apa yang harus ditulis. Pertama, Tentukan Kata Kuncinya. Pilih satu kata yang ingin dijadikan “tulang punggung” puisi. Misalnya: pada contoh puisi “Muhasabah tetapkan Tujuan Hidup” berikut ini, yang jika dilihat secara vertikal pada awal kata (dari atas ke bawah) akan terbaca: Hokky Mira Widayadana Palar.
Muhasabah Tetapkan Tujuan Hidup
Hanya bagi yang tulus dan ikhlas
Orang yang ditakdirkan tangguh menghadapi berbagai cobaan
Kelak akan mereguk manisnya kesuksesan
Kelak akan merasai indahnya kebahagiaan
Yang akan muncul sebagai pemenang kehidupan
Marilah lihat ke dalam diri
Impian dan cita-cita yang engkau tata sejak usia dini
Relakan banyak kesenangan dan ajakan bersenang-senang
Awali perjalanan panjang dengan belajar dan menuntut ilmu
Walau banyak godaan di tengah jalan
Impian dan cita-cita tetap tergenggam erat
Daripada berpaling dari tujuan yang sudah jelas
Yang sudah pula mendapatkan restu orangtua
Aku memilih berdiri kokoh, tegar dan kuat
Dalam perjalanan menuju puncak
Antara Iman, Ilmu, dan Amal sebagai pelengkap bekal
Nun jauh disana, perjalananku akan berakhir
Aku akan memilih Tuhan dan Surga sebagai ujung dari segalanya.
Pada siapa lagi kiranya diri ini akan menuju
Aku menyadari diri, hidup adalah penghambaan kepada-NYA
Lantas mengapa aku harus memilih jalan selain jalan menuju kepada-NYA
Aku menyadari diri, hidup terhina dan dihinakan tanpa asma-NYA
Rugilah diri jika tak menuju kecintaan kepada-NYA.
Etta Adil, Minasatene, 08 Mei 2025
Selengkapnya bisa dilihat disini: Puisi Etta Adil: Muhasabah Tetapkan Tujuan Hidup. Contoh lainnya disini: Puisi: Negeriku yang Hilang
Demikianlah Contoh Puisi Akrostik yang karakteristiknya bebas rima. Tidak ada aturan ketat mengenai rima atau sajak di akhir kalimat. Kamu bisa membuatnya berima (A-B-A-B) atau bebas sama sekali. Panjang pendeknya puisi ditentukan oleh jumlah huruf dalam kata yang dipilih, dan meskipun biasanya menggunakan huruf pertama, ada variasi akrostik yang menggunakan huruf tengah atau huruf terakhir, namun ini jauh lebih sulit dilakukan.
Puisi jenis ini sering digunakan sebagai sarana belajar menulis bagi anak-anak atau sebagai hadiah personal (seperti membuat puisi dari nama sahabat). Dalam dunia sastra Indonesia, puisi akrostik lebih sering dikenal sebagai metode pembelajaran kreatif atau teknik penulisan bagi pemula daripada genre utama yang ditekuni oleh penyair-penyair besar (maestro). Penyair legendaris seperti Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono lebih dikenal dengan puisi bebas atau liris.
Meski begitu, ada beberapa penulis dan pegiat literasi di Indonesia yang secara khusus menerbitkan buku kumpulan puisi akrostik. Diantaranya adalah Drs. Sutanto. Beliau ini guru dari MTsN 3 Bantul yang menulis buku, Menebar Manfaat. Isinya kumpulan puisi akrostik menggunakan 100 nama pahlawan nasional. Karya ini mendapat apresiasi tinggi karena dianggap sebagai cara unik untuk mengenalkan sejarah melalui sastra. Ada pula Syofni Erita, yang menerbitkan buku, Petualangan Rindu: Kumpulan Puisi Akrostik (2018). Buku ini merupakan salah satu referensi kontemporer di Indonesia yang secara konsisten menggunakan format akrostik dalam setiap karyanya untuk menceritakan kisah kehidupan dan kerinduan.