
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus meluangkan waktu hadir dalam berbagai majelis ilmu dan menimba pemahaman khazanah keilmuan dari para ulama’. Salah satu majelis ilmu atau dauroh ilmiyyah yang penulis hadiri tersebut adalah Dauroh Kutub ‘Aqidah yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al-Ahsan, Medan dengan Mujiz/Pemberi Sanad, Ustadzuna, Ustadz Muhammad Azhar Abu Ahmad Al-Maidaniy حَفِظَهُ اللَّه , pada 21 Desember 2023 lalu.
Ya, Masalah aqidah adalah masalah yang paling fundamental dalam beragama. Karenanya, sangat tidak patut bagi seorang Muslim untuk mengabaikannya dalam mempelajari dan mengkajinya. Jika seseorang salah dalam beraqidah, maka dia akan terjatuh pada kemusyrikan, minimal cacat dalam satu bagian ‘aqidah atau bid’ah dalam beraqidah. Itulah sebabnya penulis bersemangat dalam mengikuti dauroh kutub ‘aqidah ini dan mengambil sanad dari pematerinya.
Diantara kitab yang penulis dapatkan ijazah sanadnya tersebut adalah Kitab Syarhus Sunnah yang sanadnya bersambung sampai kepada penulisnya, yaitu Imam Isma’il bin Yahya al-Muzani (w. 264 H.). Beliau salah seorang murid utama Imam asy-Syafi’i (w.204 H), sebagai tanggapan atas sejumlah masalah aqidah yang sangat krusial pada masa itu, masa dimana banyak bid’ah merajalela. Di antaranya bid’ah jahmiyah murji’ah terkait dengan iman, bid’ah qadariyah, dan bid’ah mu’tazilah terkait al-Qur`an.
Sekilas tentang Imam al-Muzani dan Kitab Syarhus Sunnah (Madzhab Syafi’i)
Dalam kitab ini Imam al-Muzani menjelaskan akidah yang kokoh berpedoman pada al-Qur`an dan as-Sunnah, menyematkan Nama dan Sifat Allah sesuai dengan apa yang disematkan Allah dan RasulNya, tanpa mentakwil, mentahrif, dan mentakyif. Syarhus Sunnah secara harfiyah artinya penjelasan Aqidah. Aqidah disebut Sunnah (periwayatan), karena dibangun di atas dalil bukan akal, dan rujukan utamanya adalah hadits shohih bukan akal dan filsafat.
Syarhus Sunnah karya Al-Muzani ini menjadi besar martabatnya karena kedudukan penulisnya, di mana beliau adalah satu dari 3 murid utama Asy-Syafi’i (Al-Robi bin Sulaiman, Al-Muzani, Al-Buwaithi), dan pemilik kitab Mukhtashor Al-Muzani (kitab fiqih pertama dan utama dalam madzhab As-Syafi’i). Dalam menyusun kitab ini, ia menghabiskan 20 tahun: “Aku menyusun kitab ini selama 20 tahun. Aku mengoreksinya sebanyak 3 kali dan aku ubah isinya. Setiap kali aku ingin menyusunnya, kuawali dengan puasa 3 hari dan sholat sekian rokaat.”(Manāqibu Asy-Syāfi’ī, 2/349, Al-Baihaqi)
Di antara kegigihannya dalam mengkaji adalah ucapannya: “Aku membaca kitab Ar-Risalah karya Asy-Syafii sebanyak 500 kali hatam. Setiap kali kuulang lagi, aku mendapatkan faidah baru yang belum kudapatkan sebelumnya.” Ia juga berkata: “Aku mengkaji kitab Ar-Risalah karya Asy-Syafi’i semenjak 50 tahun.”(Manāqibu Asy-Syāfi’ī, 2/236, Al-Baihaqi)
Tentang ibadahnya, Yusuf bin Abdul Ahad Al-Qumi berkata: “Aku pernah menemani Al-Muzani pada malam yang sangat dingin sementara matanya sedang sakit. Dia sering memperbaruhi wudhu lalu berdoa. Ketika ia mulai mengantuk, ia berdiri untuk merperbaruhi wudhu lagi, dan ia melakukan itu sebanyak 17 kali.”(Manāqibu Asy-Syāfi’ī, 2/340, Al-Baihaqi). Adz-Dzahabi memujinya sebagai “imam (pemimpin ulama), ‘allāmah (memiliki murid-murid yang menjadi ulama), faqih, simbol kezuhudan.”(Siyar Alāmin Nubalā, 12/217, Adz-Dzahabi)
Di antara murid Imam al-Muzani yang terkenal adalah Imam Ibnu Khuzaimah penyusun Shohih Ibnu Khuzaimah dan Kitabut Tauhid, Ibnu Abi Hatim Ar-Rozi penyusun kitab pertama dalam Jarh wa Ta’dil, dan Abu Ja’far Ath-Thohawi, keponakannya, penyusun Aqidah Thohawiyah.
Kitab ini mendapat perhatian oleh para ahli ilmu dengan dihafal, diterjemahkan, dan disyarah (dijabarkan). Di antara ulama yang mensyarahnya adalah Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr dan Dr. Kholid bin Mahmud Al-Juhani.
***
Kitab kedua yang penulis terima ijazah sanadnya adalah Kitab ‘Aqidah Thahawiyah (Madzhab Hanafi) karya Abu Ja’far At-Thahawi.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Al-‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Warraq Ath-Thahawi-di Mesir-berkata: “Inilah penuturan keterangan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menurut mahdzab para ahli fiqih Islam: Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari dan Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani Ridwanallahu ‘alaihim ajma’in, beserta pokok-pokok keagamaan yang mereka yakini dan mereka gunakan untuk beribadah kepada Allah Rabbil ‘alamin.”
Apa saja yang dimaksud Pokok-pokok ‘Aqidah itu:
1. Kami menyatakan tentang tauhid kepada Allah, berdasarkan keyakinan semata-mata berkat taufiq Allah: Sesungguhnya Allah itu Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya.
2. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya.
3. Tiada sesuatupun yang dapat melemahkannya.
4. Tiada yang berhak untuk diibadahi selain diri-Nya.
5. Yang Maha Terdahulu tanpa berawal, yang Maha Kekal tanpa pernah berakhir.
6. Tak akan pernah punah ataupun binasa.
7. Tak ada sesuatupun yang terjadi, melainkan dengan kehendak-Nya.
8. Tak dapat digapai oleh pikiran, tak juga dapat dicapai oleh pemahaman.
9. Tidak menyerupai makhluk-Nya.
10. Yang Maha Hidup tak pernah mati, yang Maha Terjaga dan tak pernah tertidur.
11. Mencipta tanpa merasa membutuhkan (kepada ciptaan-Nya), membagi rezeki tanpa mengharapkan imbalan.
12. Mematikan tanpa gentar dan Membangkitkan (setelah mati) tanpa kesulitan.
13. Dia telah memiliki sifat-sifat itu semenjak dahulu, sebelum mencipta. Dengan terciptanya para makhluk, tak bertambah sedikitpun sifat-sifat-Nya. Yang selalu tetap dengan sifat-sifat-Nya semenjak dahulu tanpa berawal, dan akan terus kekal dengan-Nya, sifat-sifat-Nya selamanya.
14. Nama-Nya Al-Khaliq sebagai Pencipta, tidaklah disandang-Nya baru setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Dan namanya Al-Bari (Yang Menjadikan) tidaklah diambil baru seusai Dia menjadikan hamba-hamba-Nya.
Pokok-pokok ‘Aqidah sebagaimana disebutkan diatas termaktub dalam Mukaddimah Matn Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan syarah dan komentar Syaikh Al-Albany.
***
Kitab ketiga yang penulis peroleh ijazah sanadnya adalah Kitab Al Ushul As Sittah (Madzhab Hambali) karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab bin Sulaiman At Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H). Secara harfiah, al-ushul artinya: beberapa landasan, sedang as-sittah artinya: enam, Kitab ‘Aqidah ini membahas enam landasan yang agung dalam Agama Islam, yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Apa sajakah enam landasan atau enam prinsip beragama dalam Kitab ‘aqidah “Al-Ushul Sittah” yang dimaksudkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tersebut? Berikut ini enam poin prinsip beragama dan berikut dalil yang melatarbelakanginya, yaitu:
1. Tentang Keikhlasan, Tauhid versus Syirik
Penulis berkata, “Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya serta menjelaskan lawannya, yaitu menyekutukan Allah.” Lalu Syaikh Ibnu Utsaimin memaparkannya dengan lugas dalam 5 halaman bolak-balik. Beliau menyebutkan beberapa ayat tentang tauhid, di antaranya: Allah Ta’ala berfirman, (artinya) “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Surat al-An’am: 162-163)
Lalu Pensyarah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyebutkan, “Syirik ada dua macam; Syirik Akbar dan Syirik Asghar.” Dan beliau menutup dengan kisah Umar bin Khatthab yang bertanya kepada Hudzaifah bin Yaman tentang kemunafikan, apakah beliau termasuk orang munafik? Mengingat Hudzaifah pemegang rahasia Rasulullah. Subhanallah … Inilah orang besar yang dirinya takut terjerumus ke dalam kesyirikan. Lantas bagaimana dengan kita?
2. Perintah Bersatu dan Larangan Berpecah dalam Beragama, Persatuan dan Kesatuan dari Masyarakat Islam
Penulis berkata, “Allah memerintahkan agar bersatu serta melarang dari berpecah belah dalam agama.” Lalu pensyarah membuka penjelasannya dengan ayat ini,
Artinya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Surat Ali Imran: 103)
3. Kewajiban Mendengar dan Taat kepada Pemimpin, Taat kepada pemerintah sebagai penyempurna persatuan dan kesatuan
4. Ilmu dan Ulama, Siapakah yang layak disebut Ulama Imitasi Itu? Pada landasan ini, diurai tentang siapakah ulama yang sebenarnya
5. Wali Allah Versus Wali Setan, Penjelasan tentang siapakah wali Allah yang sesungguhnya
6. Anjuran Untuk Mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah serta Teguran yang Keras dari Mengikuti Pendapat Akal dan Hawa Nafsu! Landasan ini sekaligus membantah syubhat (tipu daya) Iblis supaya menjauhi al-Qur’an dan as-Sunnah.
Demikian catatan singkat ini mengenai tiga ijazah sanad dari kutub ‘aqidah yang penulis ikuti daurohnya, yaitu kitab Syarhus Sunnah Imam Muzaniy, Aqidah Thahawiyah dan Al-Ushul Sittah. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.