Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal – MTI

Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal - MTI

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Meraih Ijazah Sanad 6 Hadits Musalsal

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat mengikuti majelis ilmu sanadisasi hadits musalsal, yaitu musalsal bil awwaliyah, musalsal bil mahabbah, musalsal bil muhammadin, dan musalsal bi khatimil majlis bid du’a, dengan mujaz: Abu Abdillah Dhani al-Farisi bin Suhandi al-Batawy, Founder Markaz Thalabul Ilmi (MTI) via Zoom Meeting pada tanggal 21 April 2023.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hadits musalsal itu? Mengapa periwayatannya begitu khas? Hadits musalsal adalah salah satu model periwayatan hadits dari masa Nabi kepada para perawi secara turun temurun, bahkan hingga sekarang.

Secara bahasa, musalsal bermakna berturut-turut. Ulama memberikan definisi bahwa hadits musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan. Imam an-Nawawi dalam kitab at-Taqrib menyebutkan bahwa hadits musalsal ini bisa terkait perbuatan, keadaan atau sifat pada diri perawi, atau bisa juga terkait dengan cara penyampaian haditsnya.

Karena periwayatan hadits musalsal terkait dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadits musalsal bisa musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya. Sebagai contoh adalah hadits berikut:

 

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ “. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَنَا وَاللهِ أُحِبُّكَ

. قَالَ: فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

 

Artinya:

“Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal: Aku berjumpa Rasulullah SAW, beliau berkata: ‘Wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu (sebagai sahabat).’ Kemudian aku menjawab, ‘Begitupun aku wahai Rasulullah.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Sungguh, aku mewasiatkanmu dengan doa yang hendaknya kamu baca ketika usai shalat: Allahumma a’innî ‘alâ dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibâdatik’.”

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal. Dalam proses periwayatan, para perawi disebutkan meriwayatkan hadits itu sebagaimana Nabi melakukannya, yaitu dengan mengucapkan “Ya Fulan, inni lauhibbuk” (Wahai Fulan, sungguh aku mencintaimu). Hadits ini adalah contoh periwayatan hadits musalsal secara perkataan. Kemudian ada juga yang terkait suatu perbuatan. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi:

 

:شَبَّكَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَافِعٍ، وَقَالَ لِي شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لِي: شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لِي

“خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ السَّبْتِ”

 

Artinya:

(Perawi sebelumnya berkata) tanganku digenggam oleh Abdullah bin Rofi’, lalu ia berkata bahwa: tanganku digenggam oleh Abu Hurairah, dan ia juga berkata: Abul Qasim Rasulullah SAW menggenggam tanganku, dan bersabda: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu.”

Sebagaimana disebutkan, hadits tersebut diriwayatkan para perawi dengan meniru cara menjalinkan tangan (tasybik) sebagaimana Nabi lakukan. Tentu masih banyak contoh terkait hadits musalsal ini. Anda bisa merujuk kitab-kitab hadits khusus untuk itu, semisal kitab al-Musalsalat al-Kubra karya Imam Jalaluddin as Suyuthi atau at-Thali’us Sa’id al Muntakhab minal Musalsalat wal Asanid, karya Sayyid Muhammad al-Maliki.

Selain diriwayatkan secara khas dalam perkataan atau perbuatan, hadits musalsal juga bisa disampaikan perawi pada muridnya di tempat atau momen tertentu. Semisal, momen bulan Ramadhan atau hadits musalsal berdoa di Multazam.

Lihat pula: Tentang Hadits Musalsal Bil Awwaliyyah Bil Rahmah

Apa fadhilah hadits musalsal ini? Menurut para ahli hadits model periwayatan hadits musalsal ini memperkuat hafalan seseorang tentang suatu hadits, karena dalam sebuah hadits, ada hal lain yang menunjang untuk diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadits yang sudah dihapal dan diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali. Namun perlu Anda ketahui bahwa hadits musalsal ini, meskipun diriwayatkan secara khas, bahkan hingga masa sekarang, tetap harus dicek kualitas haditsnya, baik dari sanad atau matan.

Jadi kualitas hadits musalsal ini bisa shahih, hasan, atau dla’if, sehingga tetap berdampak pada aspek ajaran Islam. Di Indonesia, beberapa kiai pesantren ada yang menyampaikan hadits musalsal kepada para santri ataupun jamaahnya. Pernahkah Anda mendapatkan ijazah hadits seperti itu? Tentu tidak ada salahnya mencari berkah dari majelis hadits. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

 

KELUAR