Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.
Sebagai salah satu karya tasawuf klasik dari Indonesia, Kitab Nashoihul ‘Ibad telah menjadi panduan dan inspirasi bagi banyak orang, pelajar, santri, mahasiswa dan intelektual muslim, dalam meningkatkan kualitas kehidupan moral dan spiritualnya, dimana didalamnya menghimpun 214 nasihat yang terbagi dalam 10 Bab. Sebanyak 45 nasehat diantaranya bersumber dari hadits, sedang sisanya berasal dari atsar atau ucapan para sahabat dan pengikut Nabi SAW. Setiap bab dalam kitab ini disertai syarah dan ta’liq dari Syekh Nawawi al-Bantani.
Kitab Nashoihul ‘Ibad ini diselesaikan oleh Syekh Nawawi al-Bantani pada Kamis, 21 Safar 1311 H (1893 M). Melalui kitab ini, beliau telah memberikan panduan atau tuntunan berharga bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan dan menumbuhkan kesadaran akan akherat. Syaikh Nawawi al-Bantani pernah menjadi imam dan pengajar di Masjidil Haram, Makkah, dan karenanya selalu mengingatkan pentingnya ilmu sebagai warisan yang paling baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bersabda:
العه خبر ميراث والأدب خير جرفة والتقوى خيرزاد والعبادة خير بضاعة والعمل الصالح خير قائد وحسن الخلق خير قرين
والحلم خير وزير والقناعة خيرغي والتوفيق خير عون والموت خير مؤدب
Artinya:
“Ilmu adalah sebaik-baik warisan, etika adalah sebaik-baik pekerjaan, taqwa itu adalah sebaik-baik bekal, ibadah adalah sebaik-baik perdagangan. Amal shaleh adalah sebaik-baik penuntun (menuju surga), akhlak yang terpuji adalah sebaik-baik teman (di dunia dan di akhirat). Sikap lemah lembut adalah sebaik-baik penolong, qana’ah adalah sebaik-baik kekayaan.
Syekh Nawawi al-Bantani lahir pada tahun 1815 di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten. Beliau adalah anak sulung dari tujuh saudara, termasuk Tamim, Ahmad Syihabudin, Said, Abdullah, Tsaqillah, dan Sarriyah. Syekh Nawawi merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, yang merupakan Raja Banten pertama dan Putra Sunan Gunung Jati. Ayahnya adalah Syekh Umar Bin Arabi Al-Bantani, seorang ulama lokal, dan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga. Syekh Nawawi menikah dengan Nyasi Nasimah dan dikaruniai tiga anak, yaitu Maryam, Nafisah, dan Rubi’ah.
Sejak usia 5 tahun, Syekh Nawawi telah diajarkan ilmu agama oleh ayahnya dan kakak kandungnya. Ia mempelajari bahasa Arab, tauhid, Al-Qur’an, fiqih, dan tafsir. Pada usia 8 tahun, beliau menimba ilmu di pesantren di daerah Jawa yang dipimpin oleh ulama bernama K.H Sahal. Selanjutnya, ia melanjutkan penuntutan ilmu ke Syekh Baing Yusuf di daerah Purwakarta. Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi menunaikan ibadah haji dan belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah.
Semangatnya dalam mendalami Khazanah keilmuan Islam begitu tinggi sehingga memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia dan terus menimba ilmu di Mekkah. Beliau tetap tinggal di Mekkah hingga wafatnya pada tahun 1898 dan dimakamkan di Ma’la. Beliau dikenal sebagai Sayyidul Ulama Hijaz di Mekkah karena ketenarannya. Beliau merupakan Imam yang zuhud, sangat menghargai waktunya dan selalu mengisinya dengan keta’atan beribadah atau menulis. Karya produktifnya yang berupa Kitab-kitab berbahasa Arab menjadi kurikulum pendidikan agama di pesantren di seluruh Indonesia dan bahkan menyebar ke Filipina, Malaysia, Thailand, dan negara-negara Timur Tengah.
1. Ilmu adalah warisan yang paling baik. Hadis ini menekankan pentingnya menghormati dan memuliakan para ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi. Memuliakan mereka berarti juga memuliakan Allah dan Rasul-Nya.
2. Etika adalah sebaik-baik pekerjaan. Artinya, dalam segala aspek kehidupan, kita harus berlaku dengan etika yang baik, dan semua pekerjaan yang kita lakukan haruslah dilakukan dengan etika yang benar.
3. Taqwa adalah bekal yang paling baik menuju akhirat. Taqwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta berhati-hati dengan segala hal yang samar-samar (syubhat).
4. Ibadah adalah sebaik-baik perdagangan. Melakukan ibadah dan amal shaleh merupakan investasi terbaik bagi kehidupan akhirat.
5. Amal shaleh adalah penuntun terbaik menuju surga. Amal shaleh adalah kunci untuk meraih surga dan mendapatkan keridhaan Allah.
6. Akhlak yang terpuji adalah sebaik-baik teman di dunia dan di akhirat. Memiliki akhlak yang baik akan menjadikan kita diterima oleh masyarakat dan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat.
7. Sikap lemah lembut adalah sebaik-baik penolong. Sikap lemah lembut dan sabar akan membantu kita menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.
8. Qana’ah adalah sebaik-baik kekayaan. Qana’ah adalah menerima segala ketentuan Allah dengan tawakal dan rasa puas, bukan terus-menerus menginginkan lebih.
9. Taufik adalah sebaik-baik pertolongan. Taufik adalah bimbingan Allah yang membantu kita dalam melakukan kebaikan dan menerima petunjuk-Nya.
10. Kematian adalah sebaik-baik pendidik menuju akhlakul karimah. Kematian mengingatkan kita tentang kehidupan yang sementara di dunia ini dan akan membawa kita menuju akhlak yang mulia jika kita berpegang teguh pada ajaran-Nya.
* * *
Teruntuk Ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisy, Abu Abdillah al-Batawy yang telah mengijazahkan kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani ini, Semoga senantiasa diberikan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, dilimpahkan nikmat kesehatan kepada beliau, keluarga dan para gurunya, serta terkhusus waktu luang dan kesempatan kepada beliau untuk selalu mendakwahkan agamaNYA dalam mewariskan sanad keilmuannya.
Untuk kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani ini, beliau meriwayatkannya dari banyak masyaikh diantaranya dari:
شيختنا جميلة بنت محمد الزمزمي الكتانية عن الشيخ عبد الستار الدهلوي عن المؤلف رحمه الله
Semoga catatan singkat ini dapat menjadi pengingat ijazah dalam mempelajari dan mengkaji secara khusus Kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani tersebut. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
20 Agustus 2024 M/15 Safar 1446 H
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.







