Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Menjadi Juri dalam Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya #TonasaSocialFestival2024

Menjadi Juri dalam Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya #TonasaSocialFestival2024

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Melacak Jejak Seni Tradisional di Pangkep

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, dapat berpartisipasi dalam Social Festival 2024 di Lapangan Sepak Bola Tonasa 2, Desa Biringere yang diselenggarakan oleh Manajemen PT. Semen Tonasa sebagai salah satu rangkaian acara menyemarakkan Perayaan Hari Ulang Tahun ke-56 Pabrik Semen terbesar di kawasan timur Indonesia tersebut.

Salah satu kegiatan dalam Social Festival 2024 tersebut adalah Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya pada Rabu malam (23/10/2024) yang diperuntukkan diikuti oleh Kelompok Pegiat Seni Budaya dalam Wilayah Ring 1 PT. Semen Tonasa. Bertindak sebagai Juri dalam Lomba tersebut adalah penulis sendiri, Andi Rezki Maghfirah Syahrir Amir, dan Adelia Supariadi, yang kesemuanya merupakan aktivis/pengurus Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.

Bagaimana Cara Menilai Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya? Apa yang menjadi Dasar Penilaian, Pertimbangan atau Kriteria Juri dalam menilai setiap tampilan Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya? Selengkapnya dapat dilihat: DISINI

Dari hasil penilaian ketiga Juri, maka Sanggar Seni Oni-oni Batara meraih Nilai paling tinggi, yaitu 2.413 dan karenanya ditetapkan sebagai Juara 1. Perwakilan sanggar seni dari kelurahan samalewa ini menampilkan Rempaq Gendang dengan harmonisasi yang apik serta sentuhan drama yang jenaka, sementara Sanggar Seni Mappakarennu dari Kampung Sela Desa Mangilu yang menampilkan Maringala Mappadendang meraih nilai 2.308, dan karenanya ditetapkan sebagai  Juara 2.

Sementara Sanggar Seni dari Yayasan Tomanurung Desa Biringere meraih nilai 2.160 dan karenanya ditetapkan sebagai Juara 3. Dari sehimpun catatan juri, Sanggar Yayasan Tomanurung menampilkan Sendratari tentang Tomanurung dan Bissu, suatu penceritaan awal masa La Galigo.  Ceritanya cukup menarik, namun ada beberapa catatan juri dalam penampilannya, misalnya  penari kelihatan bingung, banyak part/durasi yang kosong, terlalu lama berjeda,  serta penggunaan alat musik modern, seperti simbal, jimbe, rebana (alat musik islami), kekompakan penari, dan lain sebagainya.

Untuk penampilan lainnya, ada Tari Lipa’ Sabbe’ dari Kelurahan Sapanang, memperoleh nilai 1.610, Ada pula Penampilan dari Kelompok Ana’ dara Mappideceng dengan “Tari 4 Etnis”-nya dari Desa Taraweang dengan nilai 1.725.  Penampilan musik tradisional yang sederhana dan masih menampakkan sebagai aslinya, sebagaimana pakem-nya, adalah Seni Musik Tennong-tennong yang tampil apa adanya dari Desa Tabo-Tabo, memperoleh nilai 2.054, dan terakhir dari Desa Mangilu yang menampilkan Tari Toraja, Nesundepi, Rambu Solo dan divariasikan tak biasa dengan Tari Bali, memperoleh nilai 1.675 .

Demikianlah sedikit catatan dari kegiatan Lomba Seni Tari Tradisi dan Atraksi Budaya #TonasaSocialFestival2024 dimana penulis duduk sebagai Juri bersama Andi Rezki Maghfirah Syahrir Amir, dan Adelia Supariadi. Semoga dapat dimaklumi. Barakallahu fiikum. (*)

 

Biringere, Pangkep, 24 Oktober 2024

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru dan Pengasuh di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep/Ketua 1 Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep.

 

KELUAR