Contoh: أَنْعَمْتَ (an‘amta = Engkau telah memberi nikmat) berbeda dengan أَنْعَمْتُ (an‘amtu = aku telah memberi nikmat).
Jadi, Kesalahan kecil bisa mengubah makna secara drastis.
Memperhatikan dan Menerapkan Tajwid yang benar, sesuai kaidah bacaan Al-Qur’an dalam Shalat berarti juga Menunaikan Amanah Syariat. Bukankah Allah memerintahkan membaca Al-Qur’an dengan tartil (perlahan dan benar).
“… وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا”
Artinya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil” – QS. Al-Muzzammil: 4.
Membaca dengan tajwid adalah bagian dari perintah tartil ini. Selain itu, Bertajwid dengan baik berarti juga Menjaga Tradisi Tilawah dari Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ menerima Al-Qur’an dari Jibril dengan tartil dan tajwid yang benar. Para sahabat dan ulama qirā’ah menjaga bacaan itu agar tidak berubah, dan Dengan tajwid, kita ikut menjaga keaslian bacaan sesuai sunnah Nabi ﷺ.
Berikut ini beberapa contoh kesalahan tajwid dalam shalat yang bisa membatalkan atau merusak makna bacaan Al-Fātiḥah.
| Ayat | Bacaan yang Benar | Kesalahan Tajwid | Perubahan Makna |
|---|---|---|---|
| ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ | Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn | Dibaca robil-‘ālamīn (dengan ro tipis) | Menghilangkan tafkhīm (ketebalan), merusak fasihnya bacaan. |
| مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ | Māliki yawmiddīn | Dibaca Maliki yawmiddīn (tanpa mad pada مَالِكِ) | Arti berubah: Mālik = pemilik, Malik = raja. |
| إِيَّاكَ نَعْبُدُ | Iyyāka na‘budu | Dibaca Iyāka na‘budu (satu yā’ saja, tidak ditasydid) | Arti berubah: Iyāka = sinar/cahaya, Iyyāka = hanya kepada-Mu. |
| صِرَاطَ ٱلَّذِينَ | Ṣirāṭal-lażīna (ṣād dibaca tebal) | Dibaca Sirāṭal-lażīna (ṣād jadi sīn) | Arti berubah: Ṣirāṭ = jalan, Sirāṭ (dengan sīn) = tidak bermakna. |
| أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ | An‘amta ‘alaihim | Dibaca An‘amtu ‘alaihim | Arti berubah: Engkau telah memberi nikmat → menjadi Aku telah memberi nikmat. |
| غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ | Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim (ghain tebal) | Dibaca Khairil-maghḍūbi | Arti berubah: ghair = bukan, khair = baik. |
Jika dilihat pada Tabel diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kesalahan pada panjang-pendek (mad) bisa mengubah makna (contoh: Māliki vs Maliki), Kesalahan pada tasydid bisa mengubah arti secara total (contoh: Iyyāka vs Iyāka), Kesalahan pada makhraj huruf (ṣād ↔ sīn, ghain ↔ khā’) bisa merusak makna. Jika kesalahan mengubah makna bacaan Al-Fātiḥah, shalat bisa tidak sah, karena Al-Fātiḥah adalah rukun shalat.
Bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar dalam Shalat akan Memberi Kekhusyukan dalam Shalat. Ya, Bacaan yang fasih dan indah akan menambah kekhusyukan. Sebaliknya, bacaan yang keliru dapat mengganggu kekhusyukan diri sendiri maupun makmum dalam shalat berjamaah. Memperhatikan tajwid dalam shalat bukan sekadar soal indahnya bacaan, tapi bagian dari menjaga sahnya shalat, mematuhi perintah Allah, dan melestarikan bacaan Al-Qur’an sebagaimana diturunkan.
Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)







