Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Konsep dan Psikologi Perkembangan Remaja

Konsep dan Psikologi Perkembangan Remaja

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Bagaimana konsep perkembangan remaja? Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, biasanya berkisar antara 10–19 tahun (WHO, 2004). Pada periode ini, individu mengalami perubahan fisik, kognitif, emosional, sosial, dan moral yang signifikan. Sebenarnya tidak mudah untuk mendefinisikan  remaja secara tepat, karena banyak sekali sudut pandang yang dapat digunakan dalam mendefinisikan remaja. Kata “remaja” berasal dari bahasa Latin adolescene berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984, Rice, 1990 dalam Jahja, 2011).

Banyak tokoh yang memberikan definisi remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak- kanak dan dewasa. (Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta:Kencana, 2011), hlm. 220. Papalia dan Olds, tidak memberikan pengertian remaja secara eksplisit melainkan  secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). Menurut Papalia dan Olds,4 masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun.

Secara umum, Perkembangan remaja dapat dibagi menjadi beberapa aspek, salah satunya adalah Perkembangan Fisik. Misalnya: Terjadi pubertas, yaitu perubahan biologis menuju kemampuan reproduksi, yang mana Perubahan meliputi pertumbuhan tinggi badan, suara, rambut, dan organ reproduksi. Fase pubertas dibagi menjadi: Awal (10–14 tahun) → muncul perubahan fisik pertama, Tengah (15–17 tahun) → pertumbuhan cepat, perubahan emosional, dan Akhir (18–21 tahun) → kedewasaan fisik.

Perkembangan lainnya adalah menyangkut Perkembangan Kognitif, Emosional, Sosial dan Moral. Perkembangan Kognitif misalnya, dengan meningkatnya kemampuan berpikir abstrak, logis, dan kritis. Remaja mulai mampu merencanakan, memecahkan masalah, dan memahami konsekuensi tindakan.  Perkembangan Emosional, misalnya Remaja mengalami fluktuasi emosi, rasa percaya diri, dan pencarian identitas diri. Pada saat kondisi demikian, perlu dukungan orang tua/guru untuk membangun stabilitas emosional. Perkembangan Sosial misalnya, dengan terjadinya peningkatan interaksi dengan teman sebaya dan pengaruh kelompok. Pada saat kondisi demikian, terjadi Pembentukan identitas sosial, nilai, dan norma yang diinternalisasi dari keluarga, teman, dan masyarakat, dan Perkembangan moral dimana Remaja mulai memahami nilai, norma, dan etika. Keputusan mulai dipandu oleh prinsip moral, agama, dan tanggung jawab sosial.

Anna Freud, berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, di mana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan batasan mengenai siapa remaja secara konseptual. Dikemukakannya oleh WHO ada tiga kriteria yang digunakan; biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, yakni:  (1) individu yang berkembang saat pertama kali ia menunjukkan  tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, (2) individu yang mengalami perkembangan  psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa, dan (3)  terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang lebih mandiri. (S. Wirawan, Psikologi Remaja,  (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 23)

Selanjutnya, Wirawan menjelaskan bahwa untuk mendefinisikan  remaja seharusnya disesuaikan dengan budaya setempat, sehingga untuk di Indonesia digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah dengan pertimbangan-pertimbangan, diantaranya: (1) Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda sekunder mulai nampak. (2) Pada masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak. (3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas ego (menurut Ericson), tercapainya fase genital dari perkembangan  psikoseksual (menurut Freud), dan tercapainya puncak perkembangan kognitif (menurut Piaget), maupun moral (menurut Kohlberg). (4) Batas usia 24 tahun adalah merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orangtua. (5) Dalam definisi tersebut, status perkawinan sangat menentukan apakah individu masih digolongkan sebagai remaja ataukah tidak.

Seperti halnya pada semua periode yang penting, sela rentang kehidupan masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelumnya dan sesudahnya. Masa remaja ini, selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun orangtuanya. Menurut Sidik Jatmika, kesulitan itu berangkat dari fenomena remaja sendiri dengan beberapa perilaku khusus; yakni: Remaja mulai menyampaikan kebebasannya dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini dapat menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bias menjauhkan remaja dari keluarganya.

Remaja lebih mudah dipengaruhi oleh teman-temannya daripada ketika mereka masih kanak-kanak. Ini berarti bahwa pengaruh orangtua semakin lemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah dalam hal mode pakaian, potongan rambut, kesenangan musik yang kesemuanya harus mutakhir. Dalam usia remaja juga, remaja itu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.

Pada tingkat tertentu, Remaja sering menjadi terlalu percaya diri (over confidence) dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mengakibatkan sulit menerima nasihat dan pengarahan oangtua. Selanjutnya, Sidik Jatmika, menjelaskan adanya kesulitan yang sering dialami kaum remaja yang betapapun menjemukan bagi mereka dan orangtua, medrupakan bagian yang normal dari perkembangan remaja itu sendiri. Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja antara lain: Variasi kondisi kejiwaan. Suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri, tetapi pada saat yang lain terlihat sebaliknya, periang, berseri-seri dan yakin.

Perilaku yang sulit ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah sesuatu yang abnormal.hal ini hanyalah perlu diprihatinkan dan menjadi kewaspadaan bersama manakala telah menjerumuskan remaja dalam kesulitan-kesulitan di sekolah atau kesulitan dengan teman-temannya. (LihatL Sidik Jatmika, Genk Remaja, Anak Haram Sejarah ataukah Korban Globalisasi?,(Yogyakarta:Kanisius, 2010), hlm.10-11-12). Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba sebagai sesuatu yang normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya rasa birahi adalah normal dan sehat. Ingat, perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja. Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbulkan bentuk-bentuk perilaku seksual. Begitu pula sifat Membolos dan Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam dan menunjukkan perilaku agresif.

Sebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk teman, dan pendisiplinan yang salah dari orangtua, terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak – dan sering tidak ada sama sekali. Dari berbagai penjelasan di atas, dapatlah dipahami tentang berbagai ciri yang menjadi kekhususan remaja. Ciri-ciri tersebut adalah:

(1) Masa remaja sebagai periode yang penting. Pada  periode remaja, baik  akibat  langsung maupun  akibat  jangka panjang  tetaplah  penting. Perkembangan  fisik yang begitu cepat disertai dengan cepatnya perkembangan mental, terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan ini menimbulkan perlunya penyesuaian mental serta perlunya membentuk sikap, nilai, dan minat baru.

(2) Masa remaja sebagai periode peralihan. Pada fase ini, remaja bukan lagi seorang anak dan bukan juga orang dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti anak-anak, ia akan diajari untuk bertindak sesuai dengan umurnya. Kalau remaja berusaha berperilaku sebagaimana orang dewasa, remaja seringkali dituduh terlalu besar ukurannya dan dimarahi karena mencoba bertindak seperti orang dewasa. Di lain pihak, status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba  gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.

(3) Masa remaja sebagai periode perubahan. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku  selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun, maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun.

(4) Masa remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode perkembangan mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi persoalan yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki  maupun  anak perempuan. Ketidakmampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.

(5) Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri terhadap kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Status remaja yang mendua ini menimbulkan suatu dilema yang menyebabkan  remaja mengalami “krisis identitas” atau masalah-masalah identitas-ego pada remaja.

(6) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Anggapan stereotip budaya bahwa remaja suka berbuat semaunya sendiri atau “semau gue”, yang tidak dapat  dipercaya dan  cenderung berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. (Lihat: Hurlock, E.B., Psikologi Perkembangan:  Suatu Pendekatan  Sepanjang Rentang Kehidupan,  (Jakarta:Erlangga, 1993)

(7) Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Masa remaja cenderung memandang kehidupan melalui kacamata berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan  teman-temannya,  menyebabkan meningginya emosi  yang merupakan ciri dari awal masa remaja. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkannya sendiri.

(8) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan  bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh  karena itu,  remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum- minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks bebas yang cukup meresahkan. Mereka menganggap bahwa perilaku yang seperti ini akan memberikan citra yang sesuai dengan yang diharapkan mereka.

Selanjutnya, Jahja mengemukakan bahwa masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secra fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja yang sekaligus sebagai ciri-ciri masa remaja yaitu :

1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi bari yang berbeda dari masa-masa yang sebelumnya. Pada fase ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan kepada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah  laku seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab. Kemandirian  dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan tampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah di Perguruan Tinggi.

2. Perubahan yang cepat secara fisik juga disertai dengan kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan,  dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungannya dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.

4. Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting, karena telah mendekati dewasa.

5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan itu, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab itu. (Lihat: Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,hlm.  238

Selanjutnya dilengkapi pula oleh Gunarsa & Gunarsa,12 dan Mappiare,13 dalam menjelaskan ciri-ciri remaja sebagai berikut :

1. Masa remaja awal. Biasanya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dengan ciri-ciri: (1) tidak stabil keadaannya, lebih emosional, (2) mempunyai banyak masalah,  (3) masa yang kritis, (4) mulai tertarik pada lawan jenis, (5) munculnya rasa kurang percaya diri, dan (6) suka mengembangkan pikiran baru, gelisah, suka berkhayal dan suka menyendiri.

2. Masa remaja madya (pertengahan). Biasanya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dengan ciri-ciri: (1) sangat membutuhkan teman, (2) cenderung bersifat narsistik/kecintaan pada diri sendiri, (3) berada dalam kondisi keresahan dan kebingungan, karena pertentangan yang terjadi dalam diri, (4) berkenginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya, dan (5) keinginan  menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas.

3. Masa remaja akhir. Ditandai dengan ciri-ciri: (1)  aspek-aspek  psikis  dan fisiknya mulai stabil, (2) meningkatnya  berfikir realistis, memiliki sikap pandang yang sudah baik, (3) lebih matang dalam cara menghadapi masalah, (4) ketenangan emosional bertambah, lebih mampu menguasai perasaan, (5) sudah terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, dan (6) lebih banyak perhatian terhadap lamabang-lambang kematangan.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan dapatlah disimpulkan bahwa masa remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya tampak sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa remaja gagal menunjukan kedewasaannya.  Pengalamannya mengenai alam dewasa masih belum banyak karena ia sering terlihat pada remaja adanya kegelisahan, pertentangan, kebingungan, dan konflik pada diri sendiri. Bagaimana remaja memandang peristiwa yang dialami akan menentukan  perilakunya dalam menghadapi peristiwa-peristiwa tersebut.

***

Salah satu periode penting dalam rentang kehidupan ialah (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan  individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Untuk dapat melakukan sosialisasi dengan baik, remaja harus menjalankan tugas-tugas perkembangan pada usinya dengan baik.

Apabila tugas pekembangan  sosial ini dapat dilakukan dengan baik, remaja tidak akan mengalami kesulitan dalam  kehidupan  sosialnya serta  akan  membawa  kebahagiaan dan  kesuksesan dalam menuntaskan tugas perkembangan untuk  fase-fase  berikutnya. Sebaliknya,  manakala remaja gagal menjalankan tugas-tugas perkembangannya akan membawa akibat negatif dalam kehidupan sosial fase-fase berikutnya, menyebabkan ketidakbahagiaan pada remaja yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya.

William Kay, sebagaimana dikutip Yudrik Jahja mengemukakan tugas-tugas perkembangan masa remaja sebagai berikut: Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya, Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai otoritas, Mengembangkan ketrampilan komunikasi interpersonal dan bergaul dengan teman sebaya, baik secara individual maupun kelompok, Menemukan manusia model yang dijadikan identitas pribadinya, dan Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri, Memeperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah hidup (weltanschauung), dan Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanak-kanakan.

Selanjutnya, dalam membahas tujuan tugas perkembangan remaja, Jahja mengemukakan pendapat Luella Cole yang mengklasifikasikannya ke dalam sembilan kategori, yaitu menyangkut Kematangan emosional, Pemantapan minat-minat heteroseksual, Kematangan sosial, Emansipasi dari control keluarga, Kematangan intelektual, Memilih pekerjaan, Menggunakan waktu senggang secara tepat, Memiliki falsafah hidup, dan Identifikasi diri.

Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut  Havighurst sebagaimana  dikutip Gunarsa (Lihat: Gunarsa, S.D., dan Gunarsa, Y.S., Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, hlm.39.), sebagai berikut: (1) Menerima kenyataan terjadinya perubahan fisik yang dialaminya dan dapat melakukan perannya secara efektif dan merasa puas terhadap keadaan tersebut. (2) Belajar memiliki peranan sosial dengan teman sebaya, baik teman sejenis maupun lawan jenis sesuai dengan jenis kelamin masing-masing. (3) Mencapai kebebasan dari ketergantungan terhadap orangtua dan orang dewasa lainnya. (4) Mengembangkan kecakapan intelektual dan konsepsi kehidupan bermasyarakat. (5) Mencari jaminan bahwa suatu saat harus mampu berdiri sendiri, mandiri (6) Mempersiapkan diri  menentukan pekerjaan  yang  sesuai  dengan  bakat  dan kesanggupannya. (7) Memahami tanggungjawab sesuai norma dan nilai yang berlaku. (8) Memperoleh informasi tentang pernikahan dan mempersiapkan diri berkeluarga. dan (9) Mendapatkan penilaian bahwa dirinya mampu bersikap tepat sesuai dengan pandangan ilmiah.

Mengingat tugas-tugas perkembangan tersebut sangat kompleks dan relatif berat bagi remaja, maka untuk  dapat  melaksanakannya dengan baik, remaja masih sangat membutuhkan bimbingan, nasehat dan arahan supaya dapat mengambil langkah yang tepat sesuai dengan kondisinya. Remaja masih mempunyai banyak kebutuhan  yang tentu saja menuntut pemenuhan secepatnya sesuai darah mudanya yang bergejolak. Misalnya terkait: (1) kebutuhan meraih sesuatu, (2) kebutuhan superior, ingin menonjol dan dikenal, (3) kebutuhan apresiasi dan penghargaan, (4) kebutuhan akan keteraturan,  (5) kebutuhan kebebasan menentukan sikap dan kehendaknya, (6) kebutuhan persahabatan, (7) keinginan ikut berempati, mencari bantuan dan simpati, (8) keinginan menguasai tetapi tidak ingin dikuasai, (9) kebutuhan adanya variasi dalam kehidupan,  keuletan melaksanakan tugas, bergaul dengan lawan jenis, dan (10) mengkritik orang lain.

Intensitas ragam kebutuhan diatas tidak semua sama antara individu karena kondisi pribadi dan lingkungan yang berbeda, serta ada individu yang ingin segera kebutuhannya terpenuhi, namun kenyataannya banyak yang tidak terpenuhi. Artinya, tugas perkembangan dan kebutuhan merupakan sesuatu yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan remaja. Apabila tugas dan kebutuhan dapat terpenuhi, maka membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas  perkembangan berikutnya. Sebaliknya jika gagal, maka berpotensi menyebabkan ketidakbahagiaan pada remaja bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, serta kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan periode berikutnya. (*)

 

 

Bahan Bacaan:

Anderson, Craig A. et. al. “Violent Video Game Effects on Aggression, Empathy, and Prosocial Behavior

in Eastern and Western Countries: A Meta-Analytic Review”, Psychological Bulletin, No. 2, Vol. 136,

2010, American  Psychological Association

Argiati, Siti Hafsah Budi, Perilaku Agresif Ditinjau dari Persepsi Pola Asuh Authoritarian, Asertivitas dan Tahap Perkembangan Remaja Pada Anak Binaan Lembaga Pemasyarakata Anak Kutoarjo, Jawa Tengah, Tesis, tidak diterbitkan, Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM, 2008

Djiwandono,  Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan, Edisi Revisi, Jakarta: Grasindo, 2008

Gunarsa, S.D., dan Gunarsa,  Y.S., Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001

Hurlock, E. B. Developmental Psychology: A Life-Span Approach (6th Edition). New York: McGraw-Hill. 2011.

Hurlock,  E.B., Perkembangan Anak, Jilid I Edisi ke-6, Jakarta: Erlangga, 1997

Hurlock. E.B., Psikologi  Perkembangan  Suatu Pendekatan Sepanjang  Rentang Kehidupan,  Jakarta: Erlangga, 1993

Jahja, Yudrik, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Kencana, 2011

Jatmika, Sidik, Genk Remaja, Anak Haram Sejarah ataukah Korban Globalisasi?, Yogyakarta: Kanisius, 2010

Jatmika, Sidik, Urip Ming Mampir Ngguyu, Telaah Sosiologis Folklor Jogja, Yogyakarta: Kanisius, 2009

Mappiare, A., Psikologi Remaja,  Surabaya: Usaha Nasional,  2000

Monks, F.J. dan AMP Roney, Psikologi Perkembangan:  Pengantar dalam Berbagai Bagian, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006

Putro, Khamim Zarkasih, Orangtua Sahabat Anak dan Remaja, Yogyakarta: Cerdas Pustaka, 2005

Santrock, J. W.  Adolescence (17th Edition). New York: McGraw-Hill Education. 2008.

Santrock, K. W. Adolescence, Jakarta: Erlangga, 2003

        , Perkembangan Anak Edisi Kesebelas, Jilid 2, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007

Sarwono,  Sarlito Wirawan,  Psikologi Remaja, Jakarta: PT Rajawali Press, 2006

Sugihartono, dkk, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UNY Press, 2007

WHO. Health for the World’s Adolescents: A Second Chance in the Second Decade. Geneva: World Health Organization. 2004.

Wirawan,  S. Psikologi Remaja, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR