Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Bahan Diskusi Studi Hadits: Kritik Sanad: Konsep dan Metodenya

Bahan Diskusi Studi Hadits: Kritik Sanad: Konsep dan Metodenya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Bismillah wal Hamdulillah. Kali ini penulis tengah mempersiapkan bahan diskusi Studi Hadits untuk topik, “Kritik Sanad: Konsep dan Metodenya”. Ya, Berikut  ini adalah lima pertanyaan tingkat lanjut (S2) mengenai Kritik Sanad dalam Studi Hadis, yang dirancang untuk menggali pemahaman epistemologis, metodologis, dan sejarah kritis bagi mahasiswa pascasarjana.

Pertama, terkait Transformasi Epistemologis Kritik Sanad. Analisis bagaimana pergeseran dari tradisi lisan (oral tradition) ke tradisi tulisan (written record/tadwin) pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah memengaruhi akurasi metodologi Jarh wa al-Ta’dil. Sejauh mana subjektivitas para kritikus hadis (mu’addil dan mujarrih) dapat diminimalisir dalam menentukan kederajatan seorang perawi? Silakan buka referensi untuk menjawab pertanyaan ini dari Kitab Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits; atau M.M. Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature.

Kedua, terkait Kritik atas Teori “The Common Link”. Diskusikan teori Common Link yang diajukan oleh orientalis seperti Joseph Schacht dan G.H.A. Juynboll dalam memetakan silsilah sanad. Bagaimana metodologi kritik sanad klasik (‘ulumul hadits) menjawab klaim bahwa sanad hanyalah konstruksi hukum yang dibuat belakangan (proyeksi ke belakang) untuk melegitimasi tradisi lokal? Jawab pertanyaan ini dengan menggali referensi dari Buku, Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence; dan jawaban kritiknya dalam Mohammad Mustafa al-Azami, On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence.

Ketiga, terkait Dialektika “Ittishal al-Sanad” dan Problem “An’anah”. Evaluasi perbedaan standar antara Imam al-Bukhari (syarat liqa’ / pertemuan fisik) dan Imam Muslim (syarat mu’asharah / kesemasaan) dalam menilai ketersambungan sanad pada hadis mu’an’an. Apa implikasi metodologis dari perbedaan ini terhadap volume hadis shahih dalam kedua kitab tersebut? Jawab pertanyaan ini dengan mengacu kepada Kitab Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim (Muqaddimah); dan Ibnu Hajar al-Asqalani, Nukhbat al-Fikar.

Keempat, terkait Akurasi Sanad dalam Menghadapi “Illat” yang Tersembunyi. Kritik sanad tidak berhenti pada lahiriah sanad yang tampak bersambung (zahir al-ittishal). Analisis bagaimana metode I’tibar (pendataan jalur-jalur sanad) digunakan untuk menemukan Illat (cacat tersembunyi) yang hanya bisa dideteksi melalui perbandingan variasi jalur (turuq). Mengapa disiplin ‘Ilal al-Hadits dianggap sebagai puncak paling sulit dalam kritik sanad? Jawab pertanyaan dengan mengacu pada referensi Kitab Ibn al-Shalah, Muqaddimah Ibn al-Shalah (Ma’rifat Anwa’ ‘Ulum al-Hadits); dan Al-Khathib al-Baghdadi, Al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah.

Kelima, terkait Relevansi Kritik Sanad di Era Digital. Dengan munculnya perangkat lunak takhrij dan basis data perawi yang besar (seperti Lidwa atau Shamela), apakah metodologi kritik sanad saat ini mengalami mekanisasi yang mereduksi ketajaman analisis kualitatif? Diskusikan bagaimana mahasiswa pascasarjana seharusnya mengintegrasikan teknologi digital tanpa menghilangkan tradisi thabaqat dan kedalaman analisis teks sejarah perawi. Mari diskusikan pertanyaan ini dengan salah satu acuannya adalah Buku Jonathan Brown, Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World; dan jurnal-jurnal kontemporer mengenai Digital Hadith Studies.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, fokus diskusi sebaiknya tidak lagi pada definisi dasar, melainkan pada logika di balik hukum (the logic of law) yang diterapkan oleh para ulama hadits serta perbandingannya dengan metode kritik sejarah modern.

Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 5 November 2025

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep
Oleh : Immim pangkep

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep

0 Komentar

KELUAR