Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Pengantar Sejarah Islam di Sulawesi Selatan: Proses, Strategi, dan Transformasi Budaya

Pengantar Sejarah Islam di Sulawesi Selatan: Proses, Strategi, dan Transformasi Budaya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Menuliskan sejarah Islam di Sulawesi Selatan adalah upaya memetakan perjumpaan antara sistem kepercayaan lokal yang sangat kuat dengan nilai-nilai universal Islam. Sulawesi Selatan, khususnya wilayah Makassar (Gowa-Tallo) dan Bugis (Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, Sidenreng), merupakan salah satu titik krusial dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara karena perannya sebagai gerbang utama di kawasan Timur Indonesia.

Sejarah Islam di Sulawesi Selatan merupakan fenomena sejarah yang unik karena terjadi pada masa ketika kerajaan-kerajaan lokal telah mencapai tingkat peradaban yang tinggi. Berbeda dengan beberapa wilayah lain di Nusantara di mana Islam masuk ke wilayah yang sedang mengalami kemunduran otoritas pusat, di Sulawesi Selatan, Islam hadir dan berhadapan dengan struktur politik yang mapan serta sistem nilai Siri’ na Pesse yang sangat kuat.

Islamisasi di wilayah ini bukan sekadar pergantian label keyakinan, melainkan sebuah transformasi sosial-budaya yang mendalam tanpa menghapuskan sepenuhnya identitas lokal. Sejarah mencatat bahwa proses ini berlangsung melalui jalur perdagangan, diplomasi politik, hingga pendekatan kultural yang dilakukan oleh para mubaligh terkemuka. Sebelum Islam diterima secara resmi, masyarakat Bugis-Makassar menganut sistem kepercayaan yang sering disebut sebagai Attoriolong (kepercayaan para leluhur).

Masyarakat Sulawesi Selatan Pra Islam meyakini adanya tuhan yang tunggal, Dewata Seuwae (Bugis) atau Turerie A’na’na (Makassar). Kepercayaan ini sangat terikat pada naskah suci La Galigo dan peran para Bissu sebagai pendeta sakral. Struktur sosial masyarakat sangat hierarkis, yang dipimpin oleh raja-raja yang dianggap memiliki garis keturunan dewa (Tomanurung). Kondisi ini membuat proses Islamisasi nantinya harus melalui pendekatan “atas-ke-bawah” (top-down), di mana Islam baru bisa berkembang luas setelah diterima oleh pihak kerajaan.

***

Jejak awal Islam di Sulawesi Selatan dapat dilacak melalui kehadiran para pedagang Melayu pada abad ke-15 dan 16. Kerajaan Siang di Pangkep dan Kerajaan Gowa mulai didatangi oleh saudagar dari Malaka dan Sumatera setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511). Komunitas Melayu ini membangun masjid pertama di Somba Opu dan menjadi agen awal yang memperkenalkan syiar Islam di lingkungan istana.

Momentum formal Islamisasi ditandai dengan kedatangan tiga ulama asal Minangkabau yang diutus dari Kerajaan Luwu dan Gowa atas rekomendasi dari ulama di Johor dan Pattani. Mereka dikenal sebagai Dato’ Tallua (Tiga Dato): Dato’ ri Bandang (Abdul Makmur), Ahli fikih yang berdakwah di Gowa-Tallo, Dato’ ri Pattimang (Sulaiman), Ahli tauhid yang berhasil mengislamkan Raja Luwu, dan Dato’ ri Tiro (Nurdin Ariyani),  Ahli tasawuf yang berdakwah di wilayah Bulukumba yang kental dengan sihir dan klenik.

Islamisasi Kerajaan Luwu (1603)

Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua dan dianggap memiliki martabat tertinggi secara tradisional. Dato’ ri Pattimang berhasil meyakinkan Raja Luwu, La Pattiware’ Daeng Parabbung, untuk memeluk Islam pada 15 Ramadan 1011 H (1603 M). Beliau kemudian bergelar Sultan Muhammad Wali Muzahiruddin. Secara strategis, masuknya Luwu mempermudah diterimanya Islam oleh kerajaan-kerajaan Bugis lainnya.

Islamisasi Gowa-Tallo (1605)

Dua tahun setelah Luwu, dua tokoh sentral Makassar, I Malingkaan Daeng Manyonri (Raja Tallo/Mangkubumi Gowa) dan I Manga’rangi Daeng Manrabia (Raja Gowa ke-14), memeluk Islam pada 22 September 1605. Sang Raja Gowa kemudian bergelar Sultan Alauddin. Tanggal ini kini diperingati sebagai hari jadi masuknya Islam secara resmi di Makassar.

Perang Pengislaman (Musu’ Selleng)

Penerimaan Islam oleh Gowa-Tallo membawa konsekuensi politik. Sultan Alauddin merasa memiliki kewajiban moral untuk mengajak kerajaan-kerajaan anggota persekutuan Tellumpoccoe (Bone, Wajo, Soppeng) untuk ikut memeluk Islam berdasarkan perjanjian lama bahwa “siapa yang menemukan jalan yang lebih baik, harus memberitahu yang lain.”

Namun, kerajaan-kerajaan Bugis menolak karena menganggap ajakan tersebut sebagai upaya hegemoni politik Gowa. Hal ini memicu rentetan peperangan yang dikenal sebagai Musu’ Selleng (Perang Pengislaman): Soppeng masuk Islam (1609), Wajo masuk Islam (1610), dan Bone masuk Islam (1611) setelah kalah dalam perang dari Gowa. Dengan tunduknya Bone, maka secara de facto seluruh semenanjung Sulawesi Selatan telah berada di bawah naungan Islam pada tahun 1611.

Integrasi Islam dalam Adat (Pangadereng)

Salah satu pencapaian besar historiografi Islam di Sulawesi Selatan adalah keberhasilan para ulama dan cendekiawan lokal mengintegrasikan Islam ke dalam struktur adat. Konsep Pangadereng (Sistem Norma) yang semula terdiri dari empat elemen (Ade’, Bicara, Rapang, Wari’), ditambah dengan elemen kelima yaitu Sara’ (Syariat Islam).

Terbentuklah ungkapan: “Adat na Sara’ sipue-pue, melle’ sipuppureng” (Adat dan Syariat adalah dua hal yang menyatu, tidak dapat dipisahkan). Jabatan Parewa Sara’ (petugas syariat) seperti Qadhi, Imam, dan Khatib menjadi bagian resmi dalam birokrasi kerajaan.

Perkembangan Intelektual: Era Syekh Yusuf Al-Makassari

Pada abad ke-17, muncul tokoh intelektual terbesar dari Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf Abul Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Makassari. Beliau membawa tradisi tasawuf yang moderat dan menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan dunia Arab. Syekh Yusuf tidak hanya menjadi guru spiritual bagi para raja, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Jadi, Islamisasi di Sulawesi Selatan adalah contoh proses akulturasi yang damai namun terorganisir secara politik. Islam diterima bukan karena paksaan fisik semata, melainkan karena kemampuannya beradaptasi dengan nilai-nilai kemuliaan (Siri’) masyarakat lokal. Melalui peran Dato’ Tallua, dukungan para sultan, dan integrasi ke dalam sistem adat, Islam menjadi fondasi identitas utama masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja Muslim hingga saat ini.

Bagi peneliti masa kini, terutama dalam mengkaji sejarah lokal seperti Kerajaan Siang atau kontribusi Melayu, sangat penting untuk melihat Islam bukan sebagai interupsi budaya, melainkan sebagai penyempurna dari nilai-nilai kearifan lokal yang sudah ada.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi:

Sumber Naskah Kuno

Lontara’ Patturioloang Gowa. (Naskah catatan raja-raja Gowa).

Lontara’ Bilang Gowa-Tallo. (Buku harian kerajaan yang mencatat peristiwa harian secara kronologis).

Buku dan Jurnal

Abbas, Irwan. (2013). Sejarah dan Eksistensi Kerajaan Siang di Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca.

Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.

Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.

Caldwell, Ian. (1995). Power, State and Society among the Bugis, 1500–1650. London: School of Oriental and African Studies.

Hadjrawi, Muhlis. (2010). Islamisasi di Sulawesi Selatan: Penelusuran Melalui Naskah Lontara. Jurnal Manuskrip Nusantara.

Mattulada. (1982). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Bhakti Baru.

Noorduyn, J. (1955). Een Achttiende-Eeuwse Bron Voor de Geschiedenis van de Celebes. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Pelras, Christian. (2006). The Bugis (Manusia Bugis). Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris.

Putuhena, M. Shaleh. (2003). Islamisasi di Sulawesi Selatan: Analisis Sejarah dan Kebudayaan. Makassar: IAIN Alauddin Press.

Reid, Anthony. (1990). The Islamization of Southeast Asia. Tokyo: University of Tokyo Press.

Sewell, C.A. (2007). Saints and Scholars: Islam in Southeast Asia. Singapore: NUS Press.

Uka Tjandrasasmita. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Zainuddin, Cyril. (1970). A Short History of Indonesia. New York: Praeger.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR