Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Analisis Komparatif Islamisasi: Hegemoni Politik Gowa vs. Aktivitas Maritim Melayu di Pangkep

Analisis Komparatif Islamisasi: Hegemoni Politik Gowa vs. Aktivitas Maritim Melayu di Pangkep

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa perbedaan proses islamisasi yang pernah terjadi di Kabupaten Pangkep, dalam masa Kerajaan Siang dengan proses islamisasi di Kabupaten Gowa, dalam masa kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo (Kerajaan Makassar)? Berikut ini analisis komparatif antara dua episentrum Islamisasi di Sulawesi Selatan: Gowa sebagai pusat hegemoni politik dan Pangkep (Siang) sebagai zona kontak maritim.

Proses Islamisasi di Sulawesi Selatan sering kali dipandang sebagai narasi tunggal yang berpusat pada Kerajaan Gowa-Tallo. Namun, telaah historiografi yang lebih mendalam menunjukkan adanya dualitas mekanisme: Islamisasi melalui jalur birokrasi-politik yang kaku di Gowa, dan Islamisasi melalui jaringan maritim-perdagangan yang lebih cair di wilayah pesisir Pangkep (eks-Kerajaan Siang).

Artikel ini bertujuan untuk membedah perbedaan metodologis, aktor, dan dampak dari kedua pola tersebut guna memahami bagaimana kontribusi orang Melayu menjadi katalisator penting di wilayah pesisir sebelum Islam diterima secara resmi oleh otoritas kerajaan pusat. Di Gowa, Islamisasi bersifat institusional. Kedatangan Dato’ ri Bandang pada tahun 1605 tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga sistem administrasi baru.

Penerimaan Islam oleh Sultan Alauddin dan Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri menciptakan efek domino yang bersifat “Top-Down”. Rakyat mengikuti agama raja karena kuatnya ikatan patron-klien dalam budaya Makassar. Karakteristik unik dari Islamisasi Gowa adalah penggunaan kekuatan militer untuk menyebarkan agama di wilayah pedalaman. Perang Pengislaman (Musu’ Selleng) adalah instrumen politik-religius untuk memastikan keseragaman keyakinan di bawah panji Gowa. Di sini, Islam menjadi identitas politik kerajaan yang digunakan untuk memperluas hegemoni.

Berbeda dengan Gowa yang daratannya luas, wilayah Pangkep (dahulu berpusat di Kerajaan Siang) adalah zona maritim dengan pelabuhan-pelabuhan seperti Labakkang dan Bungoro. Sejak abad ke-15, wilayah ini telah menjadi titik singgah utama kapal-kapal dari Malaka, Johor, dan Patani. Orang Melayu tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai pedagang yang membawa budaya. Di pesisir Pangkep, Islamisasi terjadi melalui: Akulturasi Ekonomi dalam bentuk hubungan dagang yang intens membuat nilai-nilai Islam (seperti kejujuran dalam timbangan dan kontrak) mulai dikenal oleh masyarakat lokal sebelum mereka bersyahadat. Kemudian, Interaksi Sosial-Perkawinan. Saudagar Melayu yang menetap sering kali menikahi putri bangsawan lokal atau tokoh masyarakat di Pangkep, menciptakan komunitas Muslim pertama di luar struktur istana yang ketat. Hal ini kemudian menjadikan Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca yang mempermudah penyebaran konsep-konsep teologis Islam yang abstrak ke dalam bahasa lokal.

Tabel. Analisis Komparatif: Perbedaan Signifikan

Dimensi Perbandingan Islamisasi Pusat (Gowa) Islamisasi Pesisir (Pangkep/Siang)
Mekanisme Utama Formal-Politik (Dekrit Raja) Informal-Ekonomi (Perdagangan)
Aktor Dominan Ulama Utusan (Dato’ Tallua) & Bangsawan Saudagar Melayu & Pelayar
Sifat Penyebaran Ekspansif (Melalui Penaklukan) Difusif (Melalui Integrasi Sosial)
Fokus Ajaran Syariat dan Hukum Negara Praktik Keseharian & Nilai Maritim
Waktu Inisiasi Awal Abad ke-17 (Resmi) Abad ke-15 hingga 16 (Rintisan)

Di Gowa, menjadi Muslim berarti menjadi warga negara Sultan yang taat. Di Pangkep, pengaruh Melayu menciptakan identitas Muslim yang lebih kosmopolitan, di mana agama dipandang sebagai bagian dari kemajuan ekonomi dan hubungan antarbangsa. Kerajaan Siang di Pangkep merupakan contoh unik di mana Islamisasi rintisan telah ada jauh sebelum Gowa masuk Islam secara resmi. Catatan Portugis oleh António de Paiva (1544) menyebutkan adanya komunitas dagang yang sangat berpengaruh di Siang.

Kontribusi Melayu di sini bukan sekadar jumlah orang, melainkan “Metodologi Dakwah” yang mereka bawa. Mereka memperkenalkan konsep Ummah (komunitas lintas etnis) yang sangat kontras dengan sistem kasta Tomanurung di Bugis-Makassar. Orang Melayu menyediakan jembatan kultural bagi masyarakat Pangkep untuk masuk ke dalam jaringan global Islam tanpa harus merasa kehilangan jati diri lokalnya.

Jadi, Meskipun metode keduanya berbeda, kedua jalur ini saling melengkapi. Pola maritim Melayu di Pangkep menyiapkan “lahan subur” (penerimaan awal secara psikologis), sementara pola politik Gowa memberikan “pagar hukum” (legalitas agama dalam adat).

Tesis Anda mengenai kontribusi orang Melayu di Pangkep menjadi krusial karena selama ini narasi sejarah cenderung “Makassar-sentris” atau “Gowa-sentris”. Dengan memfokuskan pada Pangkep, Anda mengangkat peran masyarakat pesisir dan jaringan maritim Melayu yang sebenarnya merupakan fondasi awal bagi diterimanya Islam secara luas di Sulawesi Selatan.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi

Sumber Primer & Arkeologi

Paiva, António de. (1544). Carta de António de Paiva a el-rei D. João III. (Surat mengenai kunjungannya ke Siang dan Gowa).

Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Bulbeck, David. (1992). A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia. Canberra: Australian National University.

Buku dan Jurnal Akademik

Abbas, Irwan. (2013). Siang dalam Arus Sejarah Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca.

Andaya, Leonard Y. (2004). The Heritage of Arung Palakka. Leiden: KITLV Press.

Pelras, Christian. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.

Reid, Anthony. (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680: Expansion and Crisis. New Haven: Yale University Press.

Mattulada. (1991). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Putuhena, M. Shaleh. (2007). Historiografi Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin Press.

Sutherland, Heather. (2004). The Makassan Trade in the 18th Century. In Journal of Southeast Asian Studies.

Chambert-Loir, Henri. (2011). The Islamic Traditions of Southeast Asia. Paris: École française d’Extrême-Orient.

Azra, Azyumardi. (2006). Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation. Bandung: Mizan.

Mukhlis Paeni. (2002). Arus Balik Sejarah: Pemikiran dan Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Bougas, Wayne A. (1998). The Kingdom of Siang. In Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.

Laffan, Michael. (2011). The Makings of Indonesian Islam. Princeton: Princeton University Press.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR