
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Berikut ini terjemah Nadzom Alfiah Ibnu Malik tentang Isim Alam, bait ke-
Zhonna dan saudara-saudaranya
Nashabkanlah sebab Fi’il Qulub terhadap dua juz ibtida (Mubtada dan Khabar), yakni aku maksudkan adalah: Ro’aa, Khoola, ‘Alima, Wajada.
Zhonna, Hasiba dan Za’ama, berikutnya ‘Adda, Hajaa, Daroo, juga Ja’ala yg seperti arti I’taqada (mempercayai).
dan Hab, Ta’allam, juga yg searti dg lafazh Shoyyaro nashabkanlah juga dengannya terhadap mubtada’ dan khobar.
KETERANGAN BAIT KE 1,2,3 :
Bagian Bab dari fiil-fiil nawasikh ZHONNA Cs, menashabkan mubtada’ dan khobar sebagai dua maf’ulnya.
Fi’il-fi’il pada bab ini terbagi dua, Af’aalul Quluub dan Af’aalut Tahwiil.
AF’AALUL QULUUB
Secara makna berarti pekerjaan-pekerjaan yg ada dalam hati seperti mengetahui, meyakini, menyangka, dll. Af’aalul Quluub dalam hal ini terbagi menjadi empat bagian:
AF’AALUT-TAHWIIL
Secara makna menunjukkan pada perubahan sesuatu, yakni merubah dari satu keadaan kepada keadaan yg lain. Oleh karenanya dinamakan juga AF’AALUT-TASHYIIR, karena semua kata kerja pada bagian ini mempunyai arti SYUYYIRO (menjadikan). Yaitu:
Hukum Ta’liiq dan Ilghaa’ hanya dikhususkan untuk Saudara-saudara Zhonna yg disebut sebelum HAB! (lihat redaksi Bait-bait sebelumnya). Dan untuk HAB! Ditetapkan pada bentuk amarnya saja (tidak mutasharrif)
Seperti juga TA’ALLAM! (sama dengan HAB!). Dan pada bentuk selain fi’il madhi (Zhonna Cs) selain HAB dan TA’ALLAM, jadikanlah semua hukum yg biasa berlaku pada fi’il madhinya.
KETERANGAN BAIT KE 4,5
Telah disebutkan pada keterangan bait sebelumnya bahwa fi’il-fi’il pada bab ini terbagi menjadi AF’ALUL QULUB dan AF’ALUT-TAHWIL.
AF’ALUL QULUB dalam bab ini, ada yg mutasharrif dan ada yg tidak mutasharrif. Fiil yg mutasharrif selain HAB dan TA’ALLAM.
Selain bentuk fi’il madhi dari fi’il-fi’il mutasharrif tersebut mengamal sebagaimana hukum pengamalan yg biasa berlaku untuk fi’il madhinya. Sedangkan HAB dan TA’ALLAM tidak diberlakukan kecuali bentuk Amarnya.
Diberlakukan juga secara khusus pada fi’il-fiil qulub yg mutasharrif yaitu hukum TA’LIQ dan ILGHA’:
TA’LIQ adalah: meninggalkan pengamalan secara lafazh bukan secara makna (mengamal secara Mahal/Maqom) dikarenakan ada lafazh yg menjadi pencegah (MAANI’). Contoh:
“ZHONANTU LA ZAIDUN QOOIMUN”
Yg menjadi pencegah dalam contoh ini adalah huruf LAM.
ILGHA’ adalah: meninggalkan pengamalan secara lafazh dan makna tanpa adanya MAANI’ (lafazh pencegah amal). Contoh:
“ZAIDUN ZHONANTU QOOIMUN”…
Perbolehkan menghukumi Ilgha (ZHONNA CS – AF’ALUL QULUB MUTASHARRIF) yang bukan berada di awal kalimat.
Dan mengiralah dhamir syaen atau lam ibtida’…
…didalam perkataan seorang Muhim (anggapan benar) terhadap hukum Ilgha-nya yg ada di awal kalimat.
Dan wajibkanlah menghukumi Ta’liq padanya yg berada sebelum MAA NAFI, …
IN NAFI dan LAA NAFI, demikian juga LAM IBTIDA atau LAM QOSAM. Adapun ta’liq juga wajib dikarenakan ada ISTIFHAM.
KETERANGAN BAIT KE 6,7,8
Tiga bait diatas menerangkan hukum ILGHA dan TA’LIQ pada ZHONNA dan saudara-saudaranya yg berupa Af’aalul Qulub yg mutasharrif.
Hukum ILGHA (pembatalan amal secara lafzhan dan mahallan) karena berada di tengah atau di akhir kalimat. Contoh:
AS-SIDQU ‘ALIMTU NAAFI’UN
AS-SHIDQU NAAFI’UN ‘ALIMTU
“Aku tahu kejujuran itu bermanfa’at”.
Apabila ada kalam wahem yg meng-ilgha-kan padahal ia ada di awal kalimat, maka dihukumi menyimpan dhamir syaen atau lam ibtida’, contoh:
‘ALIMTU AS-SHIDQU NAAFI’UN
Takdir dhamir syaen :
‘ALIMTU HU ASSHIDQU NAAFI’UN
Takdir lam ibtida’:
‘ALIMTU LASSHIDQU NAAFI’UN
Hukum TA’LIQ (pembatalan amal secara lafzhan bukan mahallan). Dikarenakan ada Mani’ atau pencegah. Pencegah tersebut berupa:
1. Huruf nafi (MAA, IN dan LAA) contoh:
وَظَنُّوا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ
وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِنَا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ
وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا
2. Lam Ibtida’ contoh:
وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
3. Lam Qosam contoh:
علمت ليحاسبن المرء على عمله
4. Istifham, contoh:
لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى
وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ
……………
Bagi lafazh ‘ILMUN (yg mempunyai arti) ‘IRFAANUN (mengenal) dan ZHONNUN (yg mempunyai arti) TUHAMATUN (menuduh), lazimnya muta’addi pada satu maf’ul.
Dan bagi lafazh RO-A (yg mempunyai arit RU-YAA (bermimpi) golongkanlah! pada hukum golongan lafazh ‘ALIMA dengan menuntut dua maf’ul, sebagaimana disebutkan pada bait sebelumnya (lihat disini awal bait bab zhanna CS).
Di sini (bab zhanna CS) janganlah kamu memperbolehkan membuang dua maf’ul ataupun satu maful dengan tanpa adanya dalil (yakni boleh apabila ada dalil/penunjukan lafazh)
Jadikanlah untuk lafazh TAQUULU (berbentuk fi’il mudhari’ mukhathab) berlaku seperti hukum TAZHUNNU, jika ia mengiringi langsung adat istifham dengan tidak terpisah…. < ke bait berikutnya >
Selain terpisah oleh Zhorof atau yg serupa Zhorof (jar-majrur) atau ma’mulnya. Jika kamu pisahkan dengan sebagian pemisah ini, maka pemisahan ini dibenarkan.
Juga lafazh QAUL diberlakukan seperti hukum ZHANNA secara mutlak (tanpa syarat) demikian menurut logat Bani Sulaim, contoh: QUL! DZAA MUSYFIQAN.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
Bagus bangeet. Thanks sangat membantu. Barokallah lak