Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Filologi Naskah Lontaraq Pangkep: Metodologi Analisis Tekstual untuk Rekonstruksi Sejarah Kerajaan Siang

Filologi Naskah Lontaraq Pangkep: Metodologi Analisis Tekstual untuk Rekonstruksi Sejarah Kerajaan Siang

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa itu Filologi? Untuk detail naskah Lontaraq Pangkep, khususnya untuk kebutuhan penelitian penulis, terutama yang berkaitan dengan Kerajaan Siang, menyimpan memori kolektif yang sangat kaya namun rentan karena usia dan kondisi fisik, menggunakan metode analisis filologi yang presisi. Hal ini bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan validitas data sejarah.

Filologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari naskah-naskah lama untuk mengetahui isi, sejarah terjadinya naskah, dan sejarah teks. Dalam konteks Pangkep, filologi menjadi “pintu masuk” utama untuk memahami periode pra-Islam hingga masa transisi Islam di Kerajaan Siang. Lontara Pangkep sering kali ditulis dalam aksara Lontara Baru atau Jangang-Jangang pada media kertas Eropa atau daun lontar. Analisis filologi bertujuan untuk membersihkan teks dari kesalahan penyalinan sehingga didapatkan teks yang paling mendekati aslinya (teks otoritatif).

Bagaimana Tahapan Kerja Filologi pada Lontaraq Pangkep? Pertama, Inventarisasi dan Deskripsi Naskah. Langkah pertama adalah mendata naskah yang ada di lapangan (Pangkajene, Labakkang, Bungoro, Segeri). Pencarian dilakukan di Balai Arsip Sulawesi Selatan dan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pangkep, koleksi pribadi keluarga keturunan raja, hingga perpustakaan internasional seperti Universitas Leiden, dilanjutkan dengan pemberian Deskripsi, meliputi judul naskah, ukuran, jumlah halaman, kondisi fisik (rapuh, berlubang, atau masih terbaca), jenis alas tulis (kertas atau daun), dan bahasa yang digunakan (Bugis, Makassar, atau bahasa Siang kuno). Langkah Kedua, adalah Transliterasi dan Transkripsi. Mengubah aksara Lontara ke aksara Latin adalah tahap paling krusial, meliputi kegiatan: Transliterasi Diplomatis (Menyalin teks apa adanya, termasuk kesalahan tulis atau ejaan lama, guna menjaga otentisitas naskah), dan Transliterasi Standar (Menyesuaikan ejaan dengan kaidah bahasa Bugis/Makassar modern agar lebih mudah dipahami secara akademis).

Naskah Pangkep sering kali memiliki variasi dialek lokal yang berbeda dari dialek Gowa atau Bone. Kerja Filologi harus jeli membedakan antara kesalahan tulis (lapsus calami) dan variasi dialek. Jika misalnya ditemukan lebih dari satu naskah dengan isi yang mirip (naskah jamak), maka harus melakukan kritik teks, yaitu Membandingkan naskah-naskah tersebut (Metode Saksi), kemudian membuat “pohon silsilah” naskah untuk melihat naskah mana yang merupakan induk (prototipe) dan mana yang merupakan salinan yang penuh kesalahan. (Stemma Codice), dan terakhir, Emendasi, yaitu Memperbaiki bagian teks yang jelas-jelas rusak atau hilang berdasarkan logika konteks sejarah.

Analisis Isi: Mencari Jejak “Melayu” dalam Lontara

Setelah teks bersih, tahap selanjutnya adalah analisis mendalam terkait topik tesis penulis “Sumbangsih Orang Melayu dalam Proses Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep”. Seorang filolog akan mencari kata serapan. Munculnya kata-kata seperti Sembahyang (pengganti Mappakaraja), Puasa, Zakat, atau gelar-gelar seperti Sayyid, Syarif, dan Datuk dalam naskah Pangkep menunjukkan pengaruh kuat dari penyebar Islam yang menggunakan bahasa Melayu sebagai perantara.

Filologi membantu membedah struktur narasi. Apakah dalam Lontara Siang proses Islamisasi digambarkan sebagai peristiwa mukjizat, hasil diskusi intelektual, ataukah lewat jalur perdagangan? Seringkali, naskah lokal menyebutkan kedatangan “orang dari Barat” atau “orang Jawi” (Melayu) yang menetap di pelabuhan Labakkang.  Filologi tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus didukung oleh Historiografi. Karena itu perlu diperhatikan dengan seksama Sinkronisasi Waktunya. Jika naskah menyebutkan sebuah peristiwa, bandingkan dengan catatan luar (seperti laporan Portugis atau catatan harian Sultan Gowa). Begitu pula halnya terkait Fungsi Sosial Naskah. Di Pangkep, Lontara bukan sekadar buku sejarah, tapi sering dianggap benda pusaka (Arajang). Hal ini menjelaskan mengapa naskah tersebut disimpan dengan sangat tertutup oleh keluarga pemiliknya.

Sebagai peneliti sejarah budaya Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pangkep, penulis menghadapi tantangan sosiologis, yaitu: Pertama, menyangkut Kesakralan Naskah. Beberapa pemilik naskah mungkin enggan membuka naskahnya jika tidak dilakukan ritual tertentu. Kedua, terkait Kondisi Naskah yang Rusak. Banyak naskah di Pangkep yang terkena jamur atau hancur karena penyimpanan yang lembap. Penggunaan teknik fotografi digital resolusi tinggi sangat diperlukan sebelum naskah tersebut benar-benar musnah.

Jadi, Metode filologi pada naskah Lontaraq Pangkep adalah instrumen paling valid untuk membuktikan peran orang Melayu dalam Islamisasi Kerajaan Siang. Melalui kritik teks dan analisis leksikal, Anda dapat membuktikan bahwa Islam masuk ke Pangkep melalui proses dialog budaya yang panjang, di mana orang Melayu berperan sebagai katalisator intelektual dan ekonomi sebelum sistem syariat dilembagakan secara resmi.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi:

Metodologi Filologi

Baroroh-Baried, dkk. (1985). Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Robson, S.O. (1994). Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL.

Djamaris, Edwar. (2002). Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV. Manasco.

Reynolds, L.D. & Wilson, N.G. (1991). Scribes and Scholars: A Guide to the Transmission of Greek and Latin Literature. Oxford: Clarendon Press (Penting untuk teori transmisi teks).

Referensi Spesifik Lontara & Pangkep

Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Abbas, Irwan. (2013). Sejarah dan Eksistensi Kerajaan Siang di Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca.

Caldwell, Ian. (1988). South Sulawesi A.D. 1300-1600: Ten Bugis Texts. Thesis: Australian National University.

Macknight, C.C. (2012). The Early History of South Sulawesi: Some Supplementary Notes. Canberra: ANU Press.

Matthes, B.F. (1875). Boeginesche Chrestomathie. Amsterdam: Spin (Kumpulan teks Bugis kuno).

Tol, Roger. (1996). A Knot of Island: Indonesian Manuscripts in the Netherlands. Leiden: KITLV.

Pelras, Christian. (2010). Explorations dans l’univers des Bugis. Paris: L’Harmattan.

Kern, R.A. (1939). Catalogus van de Boegineesche Handschriften van het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Leiden: KITLV.

Bulbeck, David. (1996). The Construction of a Chronicle of the Kings of Gowa. Canberra: ANU.

Gonda, J. (1973). Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture (Penting untuk analisis serapan kata).

Sweeney, Amin. (1987). A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Berkeley: University of California Press.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengenal Istilah Ilmu Hadits
Oleh : Immim pangkep

Mengenal Istilah Ilmu Hadits

0 Komentar

KELUAR