Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Awail Kutubut Tis’ah

Meraih Ijazah Sanad Awail Kutubut Tis’ah

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post:  Keutamaan Mempelajari Hadits/Ilmu Hadits

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri penulis dapat mengikuti sanadisasi awail kutubut tis’ah yang diselenggarakan oleh Markaz Thalabul Ilmi (MTI) pada Tanggal 29 Januari 2023 dengan pemateri/mujiz: Ustadz Abu Abdillah al-Batawi.

Kutubut Tis’ah adalah sebutan untuk sembilan kitab hadits. Yakni, Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), ditambah dengan 4 kitab Sunan (Sunan Abu Daud, Sunan An Nasai, Sunan At Tirmidzi, dan Ibnu Majah), dan ditambah 3 buku terakhir yakni Musnad Ahmad, Al Muwaththa’ Imam Malik dan Sunan Ad Darimi.

Penyebutan yang populer sebenarnya adalah Kutubus Sittah, yaitu enam kitab hadits, kemudian ditambah dengan 3 kitab terakhir yakni Musnad Imam Ahmad, Al Muwaththa’ dan Sunan Ad Darimi, sehingga menjadilah sembilan, Kutubut Tis’ah.

1) Kitab Shahih al-Bukhari (w. 256 H),

2) Kitab Shahih Muslim lim (w. 261 H),

3) Kitab Sunan Abu Dawud  (w. 275 H)

4) KItab Sunan al-Tirmidzi (w. 279 H)

5) Kitab Sunan al-Nasa’i  (w. 303 H)

6) Kitab Sunan Ibn Majah  (w. 273 H)

7) Kitab Sunan al-Darimi  (w. 255 H),

8) Kitab al-Muwaththa’ Imam Malik (w. 179 H),  dan

9) Kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H).

Sejak Kapan ada Istilah Kutubut Tis’ah? Al-Kutub al-Tis’ah merujuk pada sembilan kitab yang digunakan oleh penulis kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadits al-Nabawi dalam memberikan informasi rujukan sumber asli (mashasdir al-ashliyah) dengan sanad hadits tersendiri. Kitab-kitab hadits tersebut sangat banyak, tetapi sebagian kaum muslim menyebut dengan beberapa istilah seperti al-kutub al-khamsah (lima kitab hadits), al-kutub al-sittah (enam kitab hadis), al-kutub al-sab’ah (tujuh kitab hadits), dan al-kutub al-tis’ah (sembilan kitab hadist).

Pada Ahad malam lalu, 29 Januari 2023, penulis mengikuti Majelis Sama’ wa Ijazah Awail Kutubut Tis’ah dengan penyaji Ustadz Abu Abdillah al-Batawi. Mengapa penulis mengikuti Majelis Sama’ ini? Ya, tentu saja sebagai seorang pelajar, yang terus saja haus ilmu dan pemahaman, hal ini sebagai upaya menambah pembelajaran tentang Khazanah Keilmuan Hadits. Meski disebut 9 kitab hadits, tapi yang diijazahkan adalah awal kutubut tis’ah, artinya yang dibaca dalam majelis hanya awal dan akhirnya saja dari masing-masing 9 kitab hadits tersebut.

DOWNLOAD DISINI: AWAIL KUTUBUT TIS’AH

Di sisi lain sebenarnya, penulis sangat tertarik dengan awal eksistensi penyebutan kutubut tis’ah ini? Karena dari penelusuran penulis, ada banyak juga ulama, pelajar dan sarjana muslim yang tidak menyukai penyebutan istilah ini. Mengapa demikian?

Pertama, Asal usulnya penyebutan sembilan kitab hadits ini bermula dari terbitnya kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazhi Al-Hadits An-Nabawi. (المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي), yang merupakan indeks atau kamus hadits, dimana sumbernya hanya dari sembilan kitab hadits. Indeks itu terdiri dari 8 jilid dan disusun dalam rentang waktu antara 1916-1988 atau sekitar 72 tahun.

Kedua, tak lain karena Penyusun kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazhi Al-Hadits An-Nabawi. (المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي), adalah Arent Jan Wensinck, seorang orientalis Belanda non muslim yang merupakan peneliti bahasa Arab dan bahasa semit pada umumnya di Universitas Leiden Belanda, sehingga memunculkan kekhawatiran ada ‘maksud lain’ dibalik kepentingan penelitian hadits yang dilakukannya. Saking terkenalnya Arent Jan Wensinck, sampai-sampai semua dosen hadits selalu memperkenalkannya kepada semua mahasiswanya. Akibatnya, para mahasiswa tidak kenal kitab hadits lain selain sembilan kitab itu saja. Ada positifnya memang, tapi efek lain adalah terpatrinya stigma bahwa kitab hadits hanya sebatas kutubut tis’ah itu saja. Ketika ada hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’, Al-Baihaqi, Ad-Daruqutni, Al-Khatib Al-Baghdadi, Abdurrazzaq dan lainnya, jadi terasa asing di telinga.

Ketiga, penyebutan 9 kitab hadits yang kemudian dimasyhurkan sedemikian rupa, bisa memunculkan anggapan bahwa sebenarnya hanya ada 9 kitab hadits yang ada.  Setiap muslim bisa keliru menduga dan mengira bahwa kitab-kitab hadits terbatas hanya ada sembilan itu saja. Kekeliruan ini menjadi amat fatal, ketika berpikir bahwa selain sembilan kitab itu, tidak ada lagi kitab hadits.

Keempat, kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan kekeliruan dalam menghitung jumlah hadits. Hal ini karena pelajar dan sarjana muslim cenderung menjumlahkan begitu saja semua hadits di masing-masing dari kutubut tis’ah, padahal hadits dalam kitab tersebut terulang-ulang, baik di dalam satu kitab yang sama, atau pun di kitab hadits lainnya.

Jadi, hemat penulis, mari untuk selalu teliti dan teliti mempelajari khazanah keilmuan hadits. Belajar Hadits dan Ilmu Hadits butuh perjuangan, kesabaran dan waktu yang panjang. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan komprehensif, maka mari mempelajari semua hal dan soal terkait hadits, meneliti sanad, rawi dan matannya, dan bukan hanya terbatas pada kutubut tis’ah saja, tapi juga kitab hadits lainnya.

Pembelajaran Hadits ini penting untuk dilakukan dengan cermat, karena semuanya terkait perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Kalau hanya mendasarkan pada Kutubut Tis’ah, maka dijamin kita bisa saja melewatkan mempelajari hadits tentang qunut shubuhnya Rasulullah SAW yang tidak pernah putus beliau kerjakan sampai wafat-Nya. Padahal hadits itu shahih seshahih-shahihnya. Dan bahkan berakibat fatal jika sampai pada kecenderungan membid’ahkan qunut shubuh. Dan tentu saja, masih hal lainnya yang perlu kecermatan dalam kajian dan pembelajaran Hadits.

Pada akhirnya, penulis al-faqir ini masih membutuhkan banyak belajar, dan pada setiap pembelajaran berusaha untuk mendapatkan hikmah dari keagungan dan kenikmatan khazanah keilmuan Islam. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR