
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Berikut ini terjemah singkat seputar Mengenal Allah, Ma’rifat kepada Allah, sebagaimana dikutip dari Terjemah Kitab Al Aqidah Al Islamiyah Sayyid Sabiq karya Sayid Sabiq
Sebenarnya ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seluhur-luhur ma’rifat dan bahkan yang semuliamulianya, sebab ma’rifat kepada Allah Ta’ala itulah yang merupakan asas atau fundamen yang diatasnya didirikanlah segala kehidupan kerohanian.
Dari ma’rifat kepada Allah itulah bercabangnya marifat kepada para nabi dan rasul serta hal-hal yang berhubungan dengan beliau-beliau itu, mengenai terlindungnya dari dosa dan kemaksiatan. tugas-tugasnya, sifat-sifatnya, hajat ummat manusia terhadap diutusnya beliau-beliau itu, juga yang dimasukkan sebagai persoalan yang erat hwbungannya dengan para nabi dan rasul itu seperti masalah mu’jizat, kewalian, kekeramatan dan kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.
Bahkan dari ma’rifat kepada Allah Ta’ala itu juga bercabangnya ma’rifat dengan alam yang ada dibalik alam semesta ini, seperti malaikat. jin dan ruh. Juga dari ma’rifat kepada Allah itu pulalah timbulnya ma’rifat perihal apa yang akan terjadi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, juga mengenai kehidupan di alam Barzakh, kehidupan di alam Akhirat yang berupa ba’ats (kebangkitan kembali dari kubur). hisab (perhitungan amal), pahala, siksa, surga dan neraka.
Cara Berma’rifat
Untuk berma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mempunyai dua cara, yaitu :
Pertama, Dengan menggunakan akal fikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang diciptakan oleh Allah Ta’ala yang berupa benda-benda yang beraneka ragam ini.
Kedua, Dengan memarrifati nama-nama Allah Ta’ala serta sifat-sifatNya.
Maka dengan menggunakan akal fikiran dari satu sudut dan dengan mema’rifati nama-nama serta sifat-sifat Allah dari sudut lain akan dapatlah seseorang itu berma’rifat kepada Tuhannya dan ja akan memperoleh petunjuk kearah itu.
Baiklah kami uraikan sekedar penerangan untuk mengetahui setiap macam dari dua cara ini :
Berma’rifat dengan Pikiran
Sesungguhnya setiap anggota itu tentu ada tugasnya, sedang tugas akal ialah mengangan-angankan, memeriksa, memikirkan dan mengamat-amati. Jikalau kekuatan-kekuatan semacam ini menganggur maka hilang pulalah pekerjaan akal, juga menganggurlah tugasnya yang terpenting baginya dan ini pasti akan diikuti oleh terhentinya kegiatan hidup. Jikalau ini sudah terjadi, akan menyebabkan pula adanya kebekuan, kematian dan kerusakan akal itu sendiri.
Agama Islam menghendaki agar akal itu bergerak dan melepaskan kekangannya: segera bangun dari tidur nyenyaknya, kemudian mengajak untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. Pekerjaan yang sedemikian ini termasuk inti peribadatan kepada Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah, “Periksalah langit dan bumi !” olehmu semua Apa-apa yang ada” (QS. Yunus: 101)
Allah Ta’ala berfirman pula, “Katakanlah, “Aku hanya hendak mengajarkan kepadamu semua satu perkara saja yaitu hendaklah kamu semua berdiri dihadapan Allah, dua-dua orang atau seorang-seorang, kemudian berfikirtah kamu semua (gunakanlah akal fikiranmu)!” (QS. Saba’: 46)
Barangsiapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang ada dan kuasanya Allah Ta’ala, maka orang semacam itulah yang patut Sekali mendapat cemoohan dan hinaan. Malahan Allah Ta’ala sendiri telah mencela sekali orang semacam itu dengan tirmanNya :
“Alangkah banyaknya ayat (tanda kekuasaan Tuhan) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka itu semua membelakanginya saja (tidak memperhatikannya?”. (QS. Yusuf 105)
Allah Ta’ala berfirman pula, “,Tidaklah datang kepada mereka itu suatu ayat dari beberapa ayat Allah, melainkan mereka itu membelakanginya saja (tidak memperhatikannya) . (QS. Yasin 46)
Menganggurkan akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. Keadaan seperti itulah yang merupakan penghalang besar bagi ummat yang dahulu untuk langsung menembus kepada hakikat-hakikat yang ada didalam diri, jiwa dan alam semesta.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami judikan untuk isi neraka Jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, yang mempunyai hati, tetapi tidak memahamkan dengan hatinya, mempunyai mata, tetapi tidak melihat dengan matanya dan mempunyai telinga, tetapi tidak mendengarkan dengan telinganya. Orang-orang itu seperti ternak, bahkan lebih sesat. Itulah orang-orang yang lalai (dari kebenaran)”. (QS. A’raf 179)
Taqlid adalah Penutup Akal Pikiran
Taklid itu adalah suatu penghalang besar untuk kemerdekaan akal. Itulah pengekang utama terhadap kebebasan berfikir dan oleh sebab itulah maka Allah Ta’ala memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa. diteliti dan disaring oleh akal fikirannya. Selanjutnya lalu diambillah mana-mana yang dianggapnya terbaik dan ditinggalkanlah yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka berikanlah berita gembira kepada hamba-hambaKu yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti mana-mana yang terbaik dari ucapan itu. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itu pulalah orang-orang yang mempunyai akal fikiran”. (QS. Zumar: 17-18)
Allah Ta’ala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik yakni ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal fikirannya sendiri. Yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku. sebab hanya mengikuti alam fikiran kuno yang sudah terbiasa dan ber. langsung sejak dulu disekitarnya. sekalipun yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok, lebih sesuai dan lebih dapat dipertanggungjawabkan karena sejalan dengan pe. tunjuk dari Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang diturunkan Allah !” Mereka lalu berkata : ,,Tidak, kita hanya mengikuti apa yang telah kita dapati dari ayah-ayah kita”. Padahal ayah-ayah mereka itu tidak mengerti sedikitpun dan tidak pula mengikuti petunjuk yang benar”. (QS. Baqarah: 170)
Bidang-bidang Pemikiran
Agama Islam mengajak seluruh ummat manusia supaya berfikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjurannya kearah itu, tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran secara tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas yang tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu.
Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk difikirkan itu ialah dalam hal ciptaan Allah Ta’ala yakni apa-apa yang ada di langit, di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat manusia dan lain-lain. Tidak sebuah pemikiranpun yang dilarangNya. melainkan memikirkan Dzatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab soal yang satu ini adalah pasti diluar kekuatan akal fikiran manusia.
Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda, “Berfikirlah kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berfikir mengenai Dzat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat mencapai keadaan hakikatnya.
Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab ,,Alhilyah” dengan sanad dla’if tetapi isi dan maknanya shahih.
Al-Quran Alkarim sendiri penuh dengan beratus ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk mengenangkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas dihadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tiada terbatas oleh suatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya ini.
Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepadamu semua, agar supaya kamu suka berfikir tentang dunia dan akhirat” (QS. Baqarah: 219-220)
Alangkah luas dan lebarnya dunia yang diperintah oleh Islam untuk difikirkan itu, tetapi sedemikian luasnya masih belum memadai sedikitpun dari keluasan yang terdapat didalam alam akhirat.
Tujuan Pemikiran
Diantara tujuan-tujuan utama yang dikehendaki oleh Islam dalam hal diperintahnya mengadakan pemikiran-pemikiran itu ialah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berfikir, mengenangkan dan menyelidiki: yang dengan demikian ini akan sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan-peraturan kehidupan, sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan dan hakikat hakikat segala sesuatu benda.
Manakala hal-hal itu sudah terlaksana baik-baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap persoalan siapa yang sebenarnya menjadi Maha Pencipta dan Pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah ini diperoleh: maka dengan perlahan-lahan akan dicapailah hakikat yang terbesar yaitu berma’rifat kepada Allah Ta’ala.
Jadi kema’rifatan kepada Allah Ta’ala itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah dari pada akal fikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang.
Inilah salah satu perantaraan yang digunakan oleh AlQuran untuk memberikan pembuktian tentang Allah Ta’ala
AlQuran telah mendorong akal fikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang ilmu alam yang menJelaskan segala isi dalam dunia semesta ini, dengan menggunakan hasil dari pemikiran itu nanti akan terciptalah kema’rifatan kepada Allah Ta’ala. Kemakrifatan ini terdiri dari hal-hal seperti mengenal kesempurnaan sifat-sifatNya. keagungan-keagungan hal-ihwalNya. kenyataan-kenyataan dari kebesaran dan keluhuranNya, bukti-bukti kesucianNya, kelengkapan ilmuNya, kelangsungan kekuasaanNya dan keesaanNya dalam hal menciptakan dan membuat yang baru.
Marilah kita semua renungkan baik-baik dalam kalbu dan pikiran kita ma’na dari ayat-ayat yang tercantum dibawah ini :
Katakanlah, “Segenap puji adalah bayi Allah dan keselamatan untuk hamha-hambaNya yang dipilih olehNya. Adakah Allah itu yang lebih baik, ataukah yang mereka persekutukan dengan Allah itu yang lebih baik ?
Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua, kemudian Kami (Allah) menumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah tuhan disamping Allah ? Tetapi mereka itu adalah kaum yang berpaling dari kebenaran.
Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempat berdiam dan menjadikan sungai-sungai ditengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung untuk menjadi pasak dan menjadikan batas antara dua lautan ? Adakah tuhan disamping Allah ? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu.
Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita, upabila memohon kepadaNya agar menghilangkan penderitaannya itu dan siapakah yang menjadikan kamu semua sebagai khalifah di bumi ? Adakah tuhan disamping Allah ? Sedikit sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu.
Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu semua dulam kegelapan di lautan dan di daratan ? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum datangnya kerahmatan Allah ? Adakah tuhan disamping Allah ? Muha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu. Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali ? Dan siapakah yang memberikan rizki kepadamu semua dari langit dan bumi ? Adakah tuhan disamping Allah ? Katakanlah keterangan (alasan)mu, jikalau kamu semua memang benar !” (QS. Naml 59-64)
Fikirkanlah baik-baik, apakah ada suatu keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang tertera diatas itu, adakah suatu hujah yang lebih kuat dari pada hujah diatas ?
Jikalau akal masih juga tidak suka tunduk kepada keterangan diatas itu, tidak suka takluk pada hujah itu, maka sungguh-sungguh ia tidak akan tunduk pada keterangan apapun yang selainnya dan tidak pula hendak takluk pada hujah manapun juga. Memang suatu alamat akal yang sesat dan enggan pada petunjuk yang benar.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka orang itupun tidak akan memperoleh cahaya apapun”, (QS, Nur: 40)
Seorang penyair berkata :
,,Hati nurani manusia itu, Pasti tidak akan mampu memperoleh sesuatu apapun. Jikalau ia tetap menuntut bukti, Mengapa waktu siang itu terang benderang”.
Berma’rifat dengan Jalan Memahami Nama-nama dan Sifat-sifat ALLAH
Jalan lain dalam mencapai ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ialah memahami nama-nama Allah Ta’ala yang baik-baik serta sifat-sifatNya yang luhur dan tinggi. Jadi nama-nama dan sifat-sifat itulah yang merupakan perantara yang digunakan oleh Allah Ta’ala agar makhlukNya itu dapat berma’rifat padaNya. Inilah yang dapat dianggap sebagai saluran yang dari situ hati manusia dapat mengenal Allah Ta’ala secara spontan. Malahan itu pulalah yang dapat menggerakkan cara penemuan yang hakiki dan membuka alam yang amat luas terhadap kerohanian guna menyaksikan cahaya Allah ‘Azza wa Jalla.
Namamama itu adalah yang disebutkan ‘oleh Allah dalam firmanNya :
,,Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Rahman, Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik”. S. Isra’ 110.
Dengan nama-nama itulah yang kita semua diperintah untuk menyerunya. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi Allah adalah nama-nama yang baik, maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu”. (QS. A’raf: 180)
Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (Asmaullah Alhusna) itu ada sembilan puluh sembilan nama.
Imam-imam Bukhari, Muslim dan Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a.. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya, ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta sekali pada hal yang ganjil (tidak genap)”. (HR. Ibnu Majah)
Imam Tirmidzi memberikan tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut :
Sembilan puluh sembilan nama Allah Ta’ala yaitu :
94 Alhadi : Maha Pemberi petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya.
Jalla jalaluh.
Dalam kitab Addinul Islami disebutkan sebagai berikut: ,,Nama-mama Allah yang baik-baik (Asma-illah Alhusna) yang tercantum dalam AlQuran Alkarim yaitu :
Ada pula nama-nama lain yang tidak disebutkan dalam nashnya alquran al-karim tetapi merupakan sifat-sifat yang erat kaitan nya dengan sifat atau perbuatan Allah ta’ala yang tercantum dalam alquran al karim yakni: Alqabidl (maha pencabut) b. Albasith (maha meluaskan) c. Arrafi’ (maha mengangkat) d. Almu’iz (maha pemberi kemuliaan) e. Almundzil (maha pemberi kehinaan) f. Almujib (maha mengabulkan) g. Alba’its (maha membangkitkan) h. Almushshi (maha menghitung) i. Almubdi (maha memulai) j. Almu’id (maha mengulangi) k. Almuhyi (maha menghidupkan) l. Almumit (maha mematikan) m. Malikul mulk (maha menguasai kerajaan) n. Aljami’ (maha mengumpulkan) o. Almughni (maha pemberi kekayaan) p. Almu’thi (maha pemberi) q. Almani’ (maha membela, maha menolak) r. Alhadi (maha pemberi petunjuk) s. Albaqi (maha kekal) t. Alwarits (maha pewaris)
Ada pula nama-nama lain bagi allah ta’ala yang terambil dari makna atau pengertian nama-nama yang terdapat dalam alquran al-karim yakni: Annur (maha bercahaya) b. Ashshabur (maha penyabar) c. Arrasyid (maha cendekiawan) d. Almuqsith (maha mengadili) e. Alwali (maha menguasai) f. Aljalil (maha luhur) g. Al’adl (maha adil) h. Alkhafidl (maha menjatuhkan) i. Alwajid (maha kaya) j. Almuqaddim (maha mendahulukan) k. Almu-akhir (maha mengakhirkan) l. Adldlar (maha memberi bahaya) m. Annafi’ (maha pemberi kemanfaatan)
Dengan nama-nama diatas dirangkaikan pulalah sifat-sifat: Takkallum (berfirman) dan Iradat (berkehendak)
Nama Allah yang Teragung
Sebagaimana kita memaklumi bahwasanya Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa buah nama yang baik-baik, tetapi Dia juga memiliki sebuah nama yang teragung?) diantara semua nama itu yang jikalau dengan nama itu Dia dimintai, pastilah permintaan itu akan dikabulkan dan jikalau sesuatu do’a dipanjatkan dengan menggunakan nama tersebut, maka do’a itu akan diluluskan.
Mengenai nama Allah Ta’ala Al-A’zham (Teragung) itu disebutkan dalam beberapa hadits diantaranya sebagaimana yang tercantum dibawah ini :
Pertama : Diriwayatkan dari Buraidah r.a. katanya, “Allahumma inni as’aluka bi-anni asyhadu annaka antallahu la ilaha illa antal ahadush shamad, alladzii lam yalid wa lam yulad wa lam yakul lah kufuwan ahad”.
(Artinya : Ya Allah. sesungguhnya aku mohon padaMu dengan pengakuan bahwa aku menyaksikan Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain dari padaMu, Maha Esa, Maha Dibutuhkan yang tidak berputera, tidak diputerakan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamaiNya).
Buraidah melanjutkan keterangannya : ,,Demi mendengar itu, lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada didalam genggamanNya. Sesungguhnya orang itu telah memohon kepada Allah dengan namaNya yang Teragung, yang apabila dipanjatkan do’a dengan menggunakan nama itu, maka Allah akan mengabulkannya dan apabila dimintai pasti akan diberinya”.
Kedua : Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., katanya : Nabi s.a.w. suatu ketika masuk kedalam masjid dan disitu ada seorang lelaki 4) yang sudah bersembahyang dan didalam do’anya ia mengucapkan, “Allahumma Id ildha illalldh antal mannan, badi ‘us sama wati wal ardli, dzul jaldli wal ikram”. (Artinya : Ya Allah yang tiada Tuhan melainkan Allah. Engkau adalah Maha Pemberi kerunia. Maha Pencipta langit dan bumi, Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan).
Demi Nabi s.a.w. mendengar itu, lalu beliau s.a.w. bersabda : ,,Tahukah kamu semua, dengan lafazh apakah orang itu berdo’a ? Ia berdo’a dengan menggunakan nama Allah yang teragung, yang apabila dipakai untuk berdo’a, maka Allah mengabulkan dan apabila diminta tentu memberi”.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa-i dan Ibnu Majah. Ketiga : Diriwayatkan dari Asma puteri Yazid r. ‘anha, katanya : ,,Nabi s.a.w. bersabda :
,,Nama Allah yang teragung itu terletak dalam dua buah ayat ini, yaitu : .Wa iladhukum i-lahuw wdhid. La ilaha illa huwar rahmanur rahim”, (Artinya : Dan Tuhanmu semua adalah Tuhan yang Maha Esa. Tiada Tuhan melainkan Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang).
Dan dipermulaan surat Ali’Imran, yaitu: “Alif lam mim. La ilha illa huwal hayyul qayyim”. (Alif lam mim — Allah Ta’ala lebih mengetahui apa tujuannya kata-kata ini — Tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri).
Keempat : Dari Sa’ad bin Malik r.a. katanya : Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sukakah kamu semua saya tunjukkan nama Allah yang leragung, yang jikalau digunakam untuk berdo’a dengannya itu, maka Allah mengabulkan dan jikalau diminta maka memberi ?
Yaitu do’a yang dengannya itulah Yunus memohonkan kepada Tuhan agar diselamatkan yakni ketika memanggilNya dalam kegelapan tiga macam (maksudnya kegelapan dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk karena saat itu beliau a.s. dalam perut ikan hut atau ikan hiu vang menelannya).
Do’a itu ialah: “La ilaha illa anta Subhanaka inni kuntu minazh zhalimin”. (Artinya : Tiada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).
Kemudian ada seorang bertanya : ,,Ya Rasulullah, apakah do’a’itu khusus untuk Nabi Yunus a.s. saja ataukah umum untuk semua orang mukmin ?
Beliau s.a.w. lalu bersabda, “Apakah engkau tidak pernah mendengar firman Allah ‘Azza wajal (yang artinya): “Dan Kami (Allah) menyelamatkan Yunus dari kedukaannya dan demikian itu pulalah Kami menyelamatkan semua orang mukmin”. :
Hadits ini diriwayatkan oleh Hakim. Inilah nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membukakan bidang yang amat luas sekali dari hal kema’rifatan kepada Allah Ta’ala jikalau seseorang sudah memahaminya dan dapat mencapai makna dan pengertiannya, juga apabila jiwanya sudah dapat meresapkan dan berkesan dalam kalbunya serta suka menggunakannya sebagai pelita. Dengan menyelidiki nama-nama tersebut akan terbuka jelaslah sebesar-besar hakikat yang ada dalam alam semesta yang maujud ini. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.