Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Daftar Kata Serapan (Glossary) dalam Naskah Lontaraq Pangkep

Daftar Kata Serapan (Glossary) dalam Naskah Lontaraq Pangkep

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Dalam penelitian “Sumbangsih Orang Melayu dalam Proses Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep”, banyak sekali istilah dan kata serapan yang lebih spesifik dan membutuhkan identifikasi dan pengelompokan, membandingkan kata dalam naskah Lontaraq Pangkep dengan padanannya dalam bahasa Melayu kuno untuk langsung dilampirkan dalam Tesis.

Berikut ini adalah daftar istilah serapan (Glossary)–bagian pertama—yang disusun secara sistematis untuk mendukung analisis tesis penulis. Tabel ini membandingkan istilah yang ditemukan dalam naskah Lontaraq (khususnya konteks Pangkep/Siang) dengan padanannya dalam Bahasa Melayu serta akar katanya (biasanya dari Sanskerta atau Arab).

Daftar ini difokuskan pada istilah yang menjadi penanda transisi budaya dan agama, yang membuktikan kuatnya pengaruh intelektual orang Melayu di wilayah pesisir Siang (Wilayah Pangkep saat ini).

Tabel Daftar Kata Serapan (Glossary) dalam Naskah Lontara Pangkep

No Istilah dalam Lontara (Transliterasi) Padanan Bahasa Melayu Akar Kata (Asal) Makna/Konteks dalam Islamisasi Pangkep
1 Sammayang Sembahyang Sanskerta (Sembah + Hyang) Menggantikan ritual pemujaan leluhur dengan ibadah shalat yang diajarkan oleh pendatang Melayu.
2 Puasa Puasa Sanskerta (Upavasa) Digunakan secara konsisten dalam naskah Lontara untuk merujuk pada ibadah wajib di bulan Ramadhan.
3 Datuk / Dato’ Datuk Melayu Asli Gelar kehormatan bagi ulama Melayu penyebar Islam awal; di Pangkep merujuk pada otoritas spiritual luar.
4 Sarak / Sara’ Syarak / Syariat Arab (Syari’ah) Integrasi hukum Islam ke dalam adat Pangkep melalui perantara istilah Melayu.
5 Narek Neraka Sanskerta (Naraka) Pengenalan konsep eskatologi Islam mengenai balasan amal buruk pasca-kematian.
6 Suruga Surga Sanskerta (Svarga) Pengenalan konsep tempat kembali yang mulia bagi orang beriman.
7 Kiamak Kiamat Arab (Qiyamah) Penanda perubahan cara pandang waktu dari siklus (mitos) ke linier (akhir zaman).
8 Sabaraki Sabar Arab (Sabr) Internalisasi nilai moral baru dalam naskah-naskah Pappaseng (wasiat) bangsawan Siang.
9 Akkelak Ikhlas Arab (Ikhlas) Penekanan pada ketulusan niat dalam beribadah dan beramal sosial.
10 Zalleng / Jalle’ Zalim Arab (Zulm) Digunakan untuk mengkritik perilaku raja atau penguasa yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan Islam.
11 Adelak Adil Arab (‘Adl) Prinsip utama dalam tata kelola pemerintahan Kerajaan Siang pasca-Islamisasi rintisan.
12 Daccaka Dosa Sanskerta (Dosa) Transformasi konsep kesalahan moral dari pelanggaran adat menjadi pelanggaran hukum Tuhan.
13 Pahala Pahala Sanskerta (Phala) Konsep imbalan spiritual yang dijanjikan dalam dakwah maritim Melayu.
14 Tuan Tuan Melayu Asli Gelar bagi orang terpandang atau pedagang Melayu yang menetap di pelabuhan Labakkang.
15 Sa’bi Saksi Arab (Syahid) Digunakan dalam konteks persumpahan atau kesaksian hukum syariat di Pangkep.
16 Dunnyang Dunia Arab (Dunya) Pandangan mengenai realitas kehidupan fana dibandingkan kehidupan akhirat.
17 Billahi Billahi Arab (Billahi) Penggunaan sumpah demi Allah dalam naskah perjanjian atau diplomasi antar-kerajaan.
18 Hurupu’ Huruf Arab (Huruf) Merujuk pada literasi baru (aksara Serang/Jawi) yang dibawa oleh penyebar agama.
19 Kattara’ Kertas Arab/Persia (Qartas) Pengalihan media tulis dari daun lontar ke kertas yang dibawa oleh pedagang Melayu.
20 Malaika’ Malaikat Arab (Mala’ikah) Pengenalan makhluk gaib dalam teologi Islam yang menggantikan peran roh-roh halus lokal.

Catatan Analitis untuk Tesis:

1. Dominasi Sanskerta melalui Melayu. Banyak istilah Islam awal yang justru berakar dari Sanskerta (seperti Sembahyang, Puasa, Surga). Ini membuktikan bahwa Islam yang masuk ke Pangkep melalui orang Melayu telah mengalami “penyaringan budaya” di wilayah Sumatera atau Malaka sebelum tiba di Sulawesi Selatan.

2. Pergeseran Leksikal. Penyerapan kata-kata ini dalam naskah Lontaraq menunjukkan bahwa orang Melayu berhasil melakukan “Islamisasi Bahasa”. Hal ini mempermudah konversi agama secara massa karena istilah yang digunakan sudah memiliki resonansi dengan budaya maritim yang dipahami secara luas.

3. Bukti Arkeologi Bahasa: Penggunaan istilah Sarak atau Syara’ (Syariat) yang bersanding dengan Ade’ (Adat) dalam naskah Lontaraq Pangkep adalah bukti paling konkret dari kontribusi Melayu dalam menyusun fondasi hukum sosial di Kerajaan Siang. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi:

Jones, Russell. (2007). Loan-words in Indonesian and Malay. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Gonda, Jan. (1973). Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture.

Matthes, B.F. (1859). Makassaarsch-Hollandsch Woordenboek. Amsterdam: Muller.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR