Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Al-Ushul Ats-Tsalātsah, Terjemah dan Ijazahnya

Kitab Al-Ushul Ats-Tsalātsah, Terjemah dan Ijazahnya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Al-Ushul ats-Tsalatsah atau Tsalatsatul Ushul (tiga landasan utama) merupakan salah satu risalah Aqidah Islam karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- yang tersebar luas di kalangan kaum muslimin.   Kitab ini membahas tentang tiga pertanyaan utama yang diberikan malaikat kepada jasad di alam kubur, yaitu tentang siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.

Apa saja tiga landasan utama Islam? Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah mengatakan bahwa: Apabila ditanyakan kepadamu, “Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh setiap manusia?” Maka, jawablah, “Mengenal Allah, agamanya, dan Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mengapa Tauhid menjadi prinsip paling utama dalam Islam? Akidah Tauhid juga membuat orientasi hidup muslim jelas, terarah, dan mantap. Sehingga, tidak akan bimbang dan ragu-ragu. Akidah yang benar merupakan kunci kemenangan dan keberuntungan dalam hidup di dunia dan akhirat. Dengan akidah yang benar dan kuat, mukmin hanya takut kepada Allah.

Tentang Agama Islam 

Agama Islam masih tetap Ada ketika Rasulullah SAW wafat

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Rasulullah Shalawātullah wa salāmuhu ‘alaihi wafat dan agamanya masih tetap tersisa”

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab 》

قال الشيخ محمد بن عبدالوهاب رحمه الله تعالى :

وَتُوُفِّيَ – صَلواتُ اللهِ وَسَلامُهُ عَلَيْهِ – وَدِينُهُ بَاقٍ.

《الأصول الثلاثة و أدلتها للشيخ محمد بن عبدالوهاب رحمه الله》

 

Agama Islam yang Rasulullah SAW ajarkan Telah Sempurna

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Inilah agama beliau , tidaklah ada kebaikan kecuali beliau telah menunjukkanya kepada umat dan tidaklah ada kejelekan kecuali beliau telah memperingatkan nya darinya”.

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَهَذَا دِينُهُ، لا خَيْرَ إِلا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلا شَرَّ إِلا حَذَّرَهَا مِنْهُ

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةِ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

Kebaikan dan Kejelekan yang Telah Rasulullah Tunjukkan dan Peringatkan

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Kebaikan yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan kepada nya adalah tauhid dan seluruh apa-apa yang Allah mencintai dan meridhainya dan kejelekan yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam peringatkan darinya adalah kesyirikan dan seluruh apa-apa yang Allah benci dan menolaknya”.

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَالْخَيْرُ الَّذِي دَلَّهَا عَلَيْهِ التَّوْحِيدُ، وَجَمِيعُ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ، وَالشَّرُ الَّذِي حَذَّرَهَا مِنْهُ الشِّرْكُ، وَجَمِيعُ مَا يَكْرَهُ اللهُ وَيَأْبَاهُ.

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةِ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Allah SWT telah Menyempurnakan Islam dan Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan : Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan sebab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ

 

Artinya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al Ma’idah 5:3)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى

وَكَمَّلَ اللهُ بِهِ الدِّينَ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِين}[المائدة: 3].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Tentang Nabi dan Rasulullah

Tugas Para Rasul dan Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus seluruh para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ

 

Artinya:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu”. (QS. An Nisa 4:165)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَأَرْسَلَ اللهُ جَمِيعَ الرُّسُلِ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ} [النساء: 165].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Tujuan Dakwah Para Rasul dan Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Setiap umat Allah ta’ala telah mengutus kepadanya seorang Rasul dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang menyuruh mereka untuk menyembah Allah semata dan melarang mereka dari menyembah Thaghut

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ

 

Artinya:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl 16:36)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَكُلُّ أُمَّةٍ بَعَثَ اللهُ إِلَيْهِا رَسُولا مِنْ نُوحٍ إِلَى مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -يَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ اللهِ وَحْدَهُ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ عِبَادَةِ الطَّاغُوتِ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ} [النحل: 36].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Kepada Siapa Rasulullah Diutus serta Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia , Allah telah mewajibkan terhadap Ats-tsaqalain Jin dan Manusia untuk taat kepadanya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

 

Artinya: Katakanlah: “Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua”. (QS. Al A’raaf 7:158)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

بَعَثَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، وَافْتَرَضَ طَاعَتَهُ عَلَى جَمِيعِ الثَّقَلَيْنِ الْجِنِّ وَالإِنْسِ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً} [الأعراف: 158].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Rasul yang Pertama dan Terakhir

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salām dan Rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliaulah penutup para Nabi”.

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَأَّولُهُمْ نُوحٌ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَآخِرُهُمْ مُحَمَّدٌ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ؛

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Dalil bahwa Nabi Nuh adalah Rasul yang Pertama

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Dalil atas bahwasanya Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salām yaitu firman Allah ta’ala :

 

۞ إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ

 

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Wahai Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya”. (QS. An Nisa 4:163)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ أَوَّلَهُمْ نُوحٌ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ} [النساء: 165].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Dalil Rasulullah akan Wafat dan Tidak Kekal di Dunia

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Dalil atas wafatnya beliau Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah firman Allah ta’ala :

 

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

 

Artinya:

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”.

 

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

 

“Kemudian sesungguhnya kalian (Wahai Manusia) pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu”. (QS. Az Zumar 39:30-31)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَالدَّلِيلُ عَلَى مَوْتِهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَوْلُهُ تَعَالَى :

{إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ}[الزمر: 30، 31].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Barangsiapa yang Mendustakan Kebangkitan Manusia pada Hari Kiamat

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Barangsiapa yang mendustakan kebangkitan (pada hari kiamat) maka dia telah kafir

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَن لَّن يُبْعَثُوا۟ ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

 

Artinya:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS.At Taghăbun 64:7)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَمَنْ كَذَّبَ بِالْبَعْثِ كَفَرَ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [التغابن: 7].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Keadaan Manusia setelah Dibangkitkan pada Hari Kiamat dan Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Setelah kebangkitan , Manusia akan di hisab dan akan dibalas amalan-amal perbuatan mereka

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى

 

Artinya:

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)”. (QS. An Najm 53:31)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَبَعْدَ الْبَعْثِ مُحَاسَبُونَ وَمَجْزِيُّونَ بِأَعْمَالِهِمْ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى :

{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى} [النجم: 31].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Kebangkitan Manusia pada Hari Kiamat setelah Meninggal dan Dalilnya

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Manusia apabila telah meninggal mereka akan dibangkitkan.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

۞ مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

 

Artinya:

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. (QS. Thāhā 20:55)

Dan firman Allah ta’ala :

 

وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ نَبَاتًا

 

Artinya:

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya”

 

ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

 

“Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”. (QS. Nuh 71: 17-18)

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَالنَّاسُ إِذَا مَاتُواْ يُبْعَثُونَ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

{مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى} [طه: 55].

وقَوْلُهُ تَعَالَى: {وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الأَرْضِ نَبَاتاً * ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً}[نوح: 17، 18].

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

Kewajiban Seorang Hamba terhadap Allah Ta’ala

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan, “Allah ta’ala telah mewajibkan seluruh hamba-hambanya untuk mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah ta’ala”.

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى :

وَافْتَرَضَ اللهُ عَلَى جَمِيعِ الْعِبَادِ الْكُفْرَ بِالطَّاغُوتِ وَالإِيمَانَ بِاللهِ.

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Makna Thagut secara Istilah

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan: “Ibnul Qayyim rahimahullah ta’ala mengatakan: “Makna thaghut adalah apa-apa yang seorang hamba melampaui batasannya dari yang disembah atau yang diikuti atau yang ditaati”.

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ – رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

مَعْنَى الطَّاغُوتِ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ أَوْ مَتْبُوعٍ أَوْ مُطَاعٍ

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

Beberapa Pentolan Thaghut

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullah ta’ala mengatakan : “Thaghut-thaghut itu ada banyak. Pentolannya ada lima, yaitu:  (1) Iblis la’natullah; (2) Orang yang disembah dalam keadaan dia ridha,  (3) Orang yang menyeru manusia untuk beribadah kepadanya,  (4) Orang yang mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib,  dan (5) Dan orang yang berhukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan (menyakini hukum selain Allah lebih utama daripada hukum Allah)

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

 

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

Artinya:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah 2:256)

Inilah makna lā ilāha illallāh (beriman kepada Allah dan mengingkari thaghut)

Dalam hadits (disebutkan) : “Pangkal segala urusan adalah islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad) , tiangnya adalah shalat dan puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah”.

 

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ تُعَالَى

وَالطَّوَاغِيتُ كَثِيرُونَ وَرُؤُوسُهُمْ خَمْسَةٌ: إِبْلِيسُ لَعَنَهُ اللهُ، وَمَنْ عُبِدَ وَهُوَ رَاضٍ، وَمَنْ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ نَفْسِهِ، وَمَنْ ادَّعَى شَيْئًا مِنْ عِلْمِ الْغَيْبِ، وَمَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى

{لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 256]

وَهَذَا هُوَ مَعْنَى لا إله إِلا اللهُ، وَفِي الْحَدِيثِ

«رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ»

وَاللهُ أَعْلَمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعلى آله وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

《الأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ وَ أَدِلَّتُهَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِالوَهَّابِ رَحِمَهُ اللَّهُ 》

 

《Al-Ushul Ats-Tsalātsah Wa Adillatuhā Lisy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahāb rahimahullah 》

 

Wallahu a’lam.

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyinā Muhammad Wa Ala ālihi wa Sallam”. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengenal Nadhom Nihayatud Tadrib
Oleh : Immim pangkep

Mengenal Nadhom Nihayatud Tadrib

0 Komentar

KELUAR