
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, bahwa dalam masa penilaian akhir Semester 1 Kuliah Non Reguler Program Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Alauddin Makassar, penulis berkesempatan menulis beberapa artikel/makalah ilmiah Filsafat Ilmu yang merupakan bahan perkuliahan Prof Dr Marilang, SH., MH, khususnya terkait Konsep Dasar Keilmuan: Positivisme dan Post-Positivisme, namun dihubungkan dengan konteks/bidang ilmu Sejarah Peradaban Islam.
Memasukkan konsep Positivisme dan Post-Positivisme ke dalam konteks Sejarah Peradaban Islam (SPI) adalah tantangan yang menarik. Secara historis, Positivisme adalah produk Barat modern, namun dalam studi SPI, konsep ini sering digunakan sebagai pisau analisis untuk melihat bagaimana sejarah Islam ditulis atau bagaimana sains Islam memudar. Berikut ini adalah adalah judul artikel dan makalahnya:
1. Fokus pada Kritik Metodologi (Historiografi), membahas bagaimana sejarawan modern memandang peradaban Islam menggunakan kacamata objektivitas ilmiah.
“Kritik Positivisme dalam Historiografi Islam: Menuju Pendekatan Post-Positivistik dalam Menakar Capaian Sains Muslim.”
“Dinamika Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah: Analisis Perbandingan Pendekatan Positivisme dan Post-Positivisme.”
“Melampaui Objektivitas Tunggal: Relevansi Post-Positivisme dalam Merekonstruksi Narasi Sejarah Intelektual Islam.”
2. Fokus pada Perbandingan Epistemologi, membandingkan cara pandang dunia modern (Positivisme) dengan cara pandang ilmuwan Muslim klasik yang cenderung bersifat “Post-Positivistik” (mengakui adanya realitas di luar materi).
“Epistemologi Sains Islam: Antara Rigiditas Positivisme dan Inklusivitas Post-Positivisme.”
“Rasionalisme Islam Klasik dan Positivisme Modern: Studi Komparatif Sejarah Pemikiran Keilmuan.”
“Integrasi Ilmu dalam Peradaban Islam: Sebuah Tinjauan Kritis atas Dominasi Paradigma Positivisme di Era Kontemporer.”
3. Fokus pada Narasi Kemunduran (Decline Narrative), menganalisis mengapa sains Islam sering dianggap “mati” oleh kaum Positivis setelah abad pertengahan.
“Dekonstruksi Narasi Kemunduran Sains Islam: Perspektif Post-Positivisme terhadap Sejarah Peradaban Muslim.”
“Positivisme dan Mitos ‘Abad Kegelapan’ Islam: Analisis Kritis terhadap Penulisan Sejarah Sains Global.”
Perbedaan Konseptual dalam Konteks SPI
Untuk memperkuat analisis makalah tersebut diatas, sangat penting untuk memahami posisi kedua paham, Positivisme dan Post-Positivisme ini dalam studi sejarah:
Dalam Post-Positivisme, sains tidak harus bebas nilai. Penulis membahas bagaimana ilmuwan seperti Al-Biruni atau Ibnu al-Haytham menggabungkan observasi empiris (mirip Positivisme) dengan keyakinan teologis (Post-Positivisme). Lokus Penelitian sebenarnya bisa mengambil contoh kasus pada masa Gerakan Penerjemahan (Translation Movement) di Baghdad sebagai titik temu berbagai paradigma keilmuan.
Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.