
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Peristiwa Penting dan Monumental pada 1 Ramadhan dalam Lintas Sejarah Peradaban Islam
BLOGGURU – Mengapa bulan puasa dalam Islam disebut “Ramadhan“. Ya, secara etimologi, kata Ramadhan (رمضان) berasal dari akar kata bahasa Arab ramada (رمض), yang merujuk pada panas yang menyengat atau panas kekeringan. Salah satu pendapat yang paling populer menyebutkan alasannya adalah karena Ramadhan dianggap sebagai bulan yang “membakar” dosa-dosa hamba yang berpuasa. Sebagaimana panas matahari yang ekstrem dapat melelehkan atau menghanguskan sesuatu, begitu pula ibadah di bulan “Ramadhan” ini diharapkan dapat menghapuskan noda-noda kesalahan di masa lalu.
Terkait penamaan Ramadhan, para ulama besar telah mengulas asal-usul kata ini dalam karya-karya monumentalnya, seperti Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an yang menegaskan sisi fungsional spiritual dari penamaan “Ramadhan” ini. Menurutnya, “Dinamakan bulan Ramadhan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/291). Demikian pula Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim yang mengaitkannya dengan fenomena alam di jazirah Arab. “Kata Ramadhan berasal dari Ar-Ramdha’ yang berarti panas terik, sebagaimana ilustrasi melalui kalimat “Ramidhat al-fishaal“, yang menggambarkan anak-anak unta yang merasakan panas menyengat saat kehausan”. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/128-129).
Secara historis, ketika bangsa Arab kuno menetapkan nama-nama bulan dalam kalender mereka, penamaan tersebut sering kali disesuaikan dengan kondisi musim yang sedang berlangsung. Saat itu, bulan Ramadhan jatuh pada puncak musim panas yang sangat terik, sehingga tanah dan batu-batu menjadi sangat panas (ar-ramda). Imam An-Nawawi dalam Tahdzib al-Asma wa al-Lughat merangkum pendapat para ahli bahasa yang menyatakan bahwa saat penamaan Bulan-bulan dalam Bahasa Arab kuno, bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat ekstrem (ar-ramdh).
Puasa di bulan Ramadhan ini menimbulkan rasa haus yang luar biasa dan sensasi panas di dalam kerongkongan bagi orang yang menjalankannya. Kata ramada juga menggambarkan panas yang dirasakan perut karena rasa lapar dan haus. Penamaan ini juga semakna dengan alasan mengapa bulan Ramadhan identik dengan makna “pembakaran” atau “pembersihan” sebagaimana Hadits tentang Pembakaran Dosa. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, dinamakan Ramadhan karena ia membakar dosa-dosa.” (Hadits ini disebutkan oleh Imam al-Mawardi dan dalam kitab Ad-Durr al-Mantsur karya Imam As-Suyuthi, 1/183). Meskipun beberapa ulama mendiskusikan derajat sanadnya, maknanya secara ma’nawi disepakati oleh mayoritas ulama sebagai penggambaran fungsi Ramadhan.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Artikel pendidikan yang sangat mencerahkan. Terus berkarya! Saya sudah bookmark halaman ini.