
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Adab dan Sunnah Sahur
BLOGGURU – Diantara sunnah yang harusnya diperhatikan dan diamalkan dalam Bulan suci Ramadhan adalah sunnah sahur. Mengapa sering disebut bahwa dalam Sahur terdapat keberkahan bagi orang yang berpuasa, tentu karena di dalam pengamalan sahur yang benar dan tepat adalah makan sahur yang mengikuti sunnah.
Disunahkan bagi yang akan berpuasa untuk makan sahur. Banyak hadits yang menganjurkan untuk melakukan sahur dan menjelaskan bahwa di dalam makanan sahur terdapat keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya:
Bersahurlah karena di dalam sahur terdapat keberkahan. (HR Bukhari-Muslim)
Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ menamai makanan sahur dengan ‘Al-Ghiza Al-Mubarok’ Makanan yang diberkahi, maka jangan sampai meninggalkan makan sahur walaupun sedikit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya:
Makan sahur itu adalah berkah. Maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya dengan meminum seteguk air. Karena Allah ﷻ dan para malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang melakukan sahur. (HR Ahmad).
Imam Nawawi berkata bahwa bentuk keberkahan makan sahur diantaranya adalah karena waktu itu seorang muslim diwajibkan bangun, ada dzikir dan do’a pada waktu mulia tersebut. Saat itu adalah waktu diturunkannya rahmat serta diterimanya doa dan istighfar. (Syarh Shahih Muslim, 9: 182)
Dalam hadits ini kita akan melihat keberkahan waktu sahur tersebut. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya:
“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758). Imam Nawawi berkata, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.” (Syarah Shahih Muslim, 6: 36).
Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).” (Fathul Bari, 3: 32).
Hal di atas dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala,
Artinya:
“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).
Pengamalan sunnah yang seharusnya juga menjadi perhatian adalah sunnah makan kurma pada saat makan sahur. Sunnah untuk menjadikan kurma sebagai salah satu menu sahur. Nabi ﷺ bersabda:
Artinya:
Makanan sahur yang baik bagi seorang yang beriman adalah kurma. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban dan Shahihnya).
Makan sahur boleh dilakukan semenjak tengah malam, akan tetapi sunah mengakhirkan sampai mendekati waktu Shubuh, tentunya tidak terlalu akhir sehingga membuat ragu apakah waktu sahur masih tersisa atau tidak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya:
Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. (HR Ahmad)
Adapun terlalu mengakhirkan makan sahur sampai ragu apakah waktu sahur masih tersisa, itu tidak dianjurkan. (Lihat: Sahur di Akhir Waktu)
Dalam makan sahur, disunnahkan untuk berkumpul bersama, makan bersama, dan jangan makan sendiri-sendiri. Hal ini berdasarkan hadits Sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu:
Artinya:
“Kami pernah makan sahur bersama Nabi ﷺ, setelah itu kami melaksanakan Shalat.” (HR Bukhari-Muslim)
Selain itu, terdapat keberkahan dalam menyantap makanan bersama-sama. Di dalam sebuah hadits dikatakan:
Makanan yang paling disukai Allah adalah makanan yang banyak tangan (ikut makan) di dalamnya. (HR Abu Ya’la, Ibnu Hibban, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Lihat pula: Konsumsi Madu saat Sahur, Buka Puasa dan Hendak Tidur
Setelah makan sahur, jangan sampai lalai untuk membersihkan sela-sela giginya. Nabi ﷺ bersabda:
Artinya:
Sela-selailah gigi kalian karena itu adalah bagian dari kebersihan. Kebersihan akan menghantarkan kepada iman dan iman beserta orang yang beriman ada di dalam surga. (HR Thabrani)
Dikatakan bahwa kesunnahan membersihkan sela-sela gigi lebih ditekankan bagi orang yang berpuasa dibandingkan kesunnahan bersiwak.
Hal yang tak kalah pentingnya setelah makan sahur dan perut dalam kekenyangan, maka dianjurkan untuk tidak lagi tidur setelahnya.
Artinya:
Cernalah makanan kalian dengan (terlebih dahulu) berzikir pada Allah dan shalat. Janganlah kalian tidur dalam keadaan kenyang, karena itu dapat membuat hati Anda keras. (HR Ibnu Suni dan Abu Nu‘aim).
Syekh al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengutip pendapat Imam al-Ghazali mengenai bahaya langsung tidur setelah makan:
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa hadits tersebut mengindikasikan disunahkan agar tidak tidur saat dalam keadaan kenyang. Hal ini karena kondisi kenyang itu akan menimbulkan dua kelalaian, yaitu kemalasan dan kekerasan hati. Karena itu shalat dan berzikirlah, karena hal itu lebih mendekatkan diri pada rasa syukur. Paling minimal itu shalatlah empat rakaat atau bertasbih sebanyak seratus kali setiap habis makan.
Imam al-Tsauri itu selalu menghidupkan malam (dengan shalat) di saat kenyang, dan berzikir di siang hari saat kenyang.
Lihat pula: Pallu–pallu: Tradisi Sahur yang Mulai Terlupakan
Setelah sahur dan anjuran agar tidak tidur setelahnya, maka selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah jarak waktu selesainya sahur dengan adzan subuh. Karena itu, sunnah untuk menentukan jarak pemisah antara akhir waktu sahur dan Adzan Shubuh (atau yang dikenal dengan istilah Imsak). Jangan sampai ia masih makan sahur ketika Adzan Shubuh berkumandang. Jika demikian, berarti makan sahurnya jatuh di waktu Shubuh, dan puasanya tidak sah.
Sahabat Anas radhiyallahu anhu pernah mendengar Sahabat Zaid bin Tasbit radhiyallahu anhu menuturkan:
Artinya:
“Kami pernah makan sahur bersama Nabi ﷺ, setelah itu kami melaksanakan Shalat.” Aku (Sahabat Anas) bertanya: “Berapa jarak waktu antara adzan dan sahurnya?” “Seukuran 50 ayat.” Jawabnya. (HR Bukhari-Muslim)
Sebagian ulama menyebutkan bahwa ukuran 50 ayat itu adalah sekitar 15-20 menit. Maka hendaknya kita berhenti makan sahur 15 menit sebelum masuk waktu Shubuh.
Menentukan waktu imsak merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah, dan kehati-hatian dalam beribadah termasuk hal yang dianjurkan oleh Nabi ﷺ. Beliau ﷺ pernah bersabda:
Artinya:
Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, kepada apa yang tidak membuatmu ragu. (HR Ahmad)
Demikian sedikit penjelasan tentang sunnah makan sahur dalam Bulan Ramadhan. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.